Arsitek Beberkan Keunggulan Genteng dan Seng untuk Hunian di Gorontalo
February 04, 2026 07:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Gagasan gentengisasi yang diperkenalkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendapat respons dari kalangan arsitek di Gorontalo.

Program gentengisasi diketahui merupakan gerakan strategis untuk meningkatkan kualitas atap rumah rakyat sebagai bagian dari upaya memperbaiki wajah permukiman sekaligus meningkatkan kenyamanan hunian di berbagai daerah.

Arsitek sekaligus pemerhati kota, Yohanes P Erick, menilai program tersebut tidak semata dipahami sebagai penggantian material atap, melainkan langkah untuk mendorong terciptanya hunian yang lebih sejuk, sehat, dan tahan terhadap cuaca.

“Sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi lokal melalui keterlibatan koperasi desa dan pelaku usaha setempat dalam rantai pasok material bangunan,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (4/2/2026).

Baca juga: Meski Dianjurkan Prabowo, Rupanya Tak Semua Warga Gorontalo Tertarik Genteng, Ini Alasan Mereka

Ia menjelaskan, dalam kerangka rumah layak huni dan bangunan berkelanjutan, kebijakan gentengisasi dapat dipandang sebagai upaya meningkatkan kualitas hunian dari sisi kenyamanan termal, kesehatan ruang dalam, dan ketahanan bangunan.

Namun secara profesional, Erick menilai pendekatan paling aman dan berkelanjutan adalah berbasis kinerja bangunan, bukan berbasis satu jenis bahan tertentu.

“Artinya, tujuan utamanya memastikan setiap atap, apa pun materialnya, mampu memenuhi standar dasar, yakni aman secara struktur, sejuk di dalam ruang, tidak bising saat hujan, tahan bocor, serta efisien dalam perawatan dan biaya jangka panjang,” ungkapnya.

Menurut Erick, pendekatan berbasis kinerja menjadi penting bagi Gorontalo karena karakter permukimannya beragam, mulai dari kawasan pesisir, perdesaan, hingga perkotaan, dengan kondisi struktur rumah yang tidak selalu sama.

“Dengan cara ini, keluaran program tidak dipahami sebagai semua rumah harus menggunakan material tertentu, melainkan semua rumah harus mencapai kualitas atap yang layak dan nyaman bagi penghuninya,” terangnya.

Kearifan Lokal

Erick menegaskan, literatur arsitektur vernakular Gorontalo lebih banyak menekankan makna filosofis bentuk rumah dan adaptasi terhadap iklim, seperti konsep rumah panggung, nilai ekologis bangunan, serta makna simbolik elemen arsitektur, termasuk atap.

“Atap dipahami sebagai ‘kepala’ rumah yang berfungsi melindungi kehidupan keluarga dari panas, hujan, dan pengaruh lingkungan sekitar,” katanya.

Ia menambahkan, dalam kebudayaan lisan yang berkembang di Gorontalo terdapat pandangan simbolik yang memaknai tanah sebagai bagian dari siklus kehidupan dan kematian. Hal tersebut memunculkan preferensi di sebagian wilayah untuk tidak menggunakan material berbasis tanah pada elemen tertentu bangunan.

Meski demikian, Erick menegaskan tidak ditemukan aturan adat tertulis maupun norma kolektif yang secara tegas melarang atau mewajibkan penggunaan genteng tanah liat maupun seng sebagai penutup atap.

“Dalam praktik sehari-hari, masyarakat lebih menjaga tampilan, fungsi, dan kenyamanan rumah, bukan bahan tunggal yang digunakan,” jelasnya.

Ia menilai baik genteng maupun seng dapat diterima selama selaras dengan lingkungan permukiman dan memenuhi kebutuhan penghuni.

Seiring perkembangan zaman, pemilihan material juga semakin dipengaruhi oleh ketersediaan di pasar, kemampuan ekonomi keluarga, serta kemudahan pemasangan.

“Di Gorontalo, pilihan atap berkembang secara adaptif dan praktis, dengan tetap menghormati nilai-nilai lokal yang tercermin pada proporsi atap, detail, warna, dan ritme arsitektur,” paparnya.

Iklim, Lingkungan, dan Karakter Permukiman

Menurut Erick, kondisi Gorontalo yang panas, lembap, dan sering diguyur hujan menempatkan atap sebagai elemen kunci dalam menjaga kualitas hidup di dalam rumah.

“Yang paling menentukan bukan semata pilihan antara genteng atau seng, melainkan bagaimana sistem atap dirancang dan dipasang secara benar,” tegasnya.

Ia menjelaskan, genteng tanah liat cenderung lebih sejuk dan lebih senyap saat hujan karena massanya mampu menahan panas sekaligus meredam suara.

Dengan ventilasi loteng yang baik dan struktur rangka yang memadai, genteng dinilai mampu memberikan kenyamanan harian yang stabil serta memiliki umur pakai yang panjang.

Selain itu, secara visual genteng sering dianggap lebih menyatu dengan lingkungan permukiman.

 Jika pasokannya tersedia dari wilayah sekitar, genteng juga berpotensi mendorong aktivitas ekonomi pengrajin, toko bangunan, dan jasa tukang.

Sementara itu, seng dinilai memiliki keunggulan dari sisi kepraktisan. Material ini ringan, mudah didapat di pasar lokal, serta cepat dipasang sehingga cocok untuk rumah dengan struktur sederhana, renovasi cepat, maupun perbaikan pascabencana.

Dari sisi biaya awal, seng juga relatif lebih terjangkau bagi banyak keluarga.

Dengan tambahan lapisan peredam panas, cat reflektif, dan ventilasi atap, sistem atap seng dinilai tetap dapat dirancang agar nyaman dan tahan lama.

“Pada akhirnya, genteng unggul dari sisi kenyamanan dan tampilan, sementara seng unggul dari sisi kepraktisan dan keterjangkauan.

Keduanya dapat sama-sama sesuai untuk Gorontalo jika diperlakukan sebagai bagian dari sistem atap yang utuh,” ujarnya.

Dominasi Seng di Gorontalo dan Indonesia Timur

Erick menilai tingginya penggunaan atap seng di Gorontalo dan wilayah Indonesia Timur dipengaruhi kombinasi faktor ketersediaan, logistik, serta karakter struktur rumah masyarakat.

“Banyak rumah dibangun dengan rangka sederhana yang lebih siap menerima material ringan, sementara seng relatif mudah diangkut, cepat dipasang, dan tersedia luas di toko bangunan lokal,” katanya.

Selain itu, faktor biaya awal menjadi pertimbangan penting bagi banyak keluarga. Seng dinilai lebih terjangkau dalam pembelian dan pemasangan, sehingga cocok untuk pembangunan bertahap maupun renovasi rumah secara mandiri.

Dari sisi waktu pengerjaan, pemasangan seng yang relatif cepat juga membantu masyarakat menyelesaikan pembangunan atap, terutama saat musim hujan atau setelah terjadi cuaca ekstrem.

Ia juga menilai keterampilan tenaga kerja lokal menjadi faktor pendukung dominasi seng. Tukang bangunan di daerah umumnya lebih terbiasa dengan sistem pemasangan seng, sehingga kualitas pengerjaan lebih terjamin.

“Di wilayah Indonesia Timur yang banyak memiliki kawasan pesisir dan akses distribusi yang tidak selalu mudah, material ringan seperti seng menjadi lebih adaptif terhadap tantangan logistik,” tambahnya.

Biaya pengangkutan yang lebih rendah serta risiko kerusakan selama distribusi juga menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan material yang lebih berat dan mudah pecah.

Catatan untuk Pelaksanaan Program

Erick menyampaikan sejumlah catatan agar program gentengisasi dapat berjalan selaras dengan budaya, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.

Pertama, program perlu menyesuaikan kondisi struktur rumah, karena setiap bangunan memiliki kemampuan berbeda dalam menopang material atap.

Kedua, penting memperhatikan kebiasaan dan penerimaan masyarakat melalui dialog agar program dapat diterima dan dirawat dalam jangka panjang.

Ketiga, program perlu berfokus pada kenyamanan hunian, bukan sekadar jenis material. Ventilasi atap, lapisan peredam panas, dan kualitas pemasangan harus menjadi bagian dari paket pembangunan.

Keempat, pelaksanaan program perlu melibatkan pelaku usaha dan tenaga kerja lokal agar manfaatnya juga dirasakan pada perputaran ekonomi daerah.

Kelima, aspek dampak lingkungan dan distribusi material juga perlu dipertimbangkan agar manfaat program tidak berkurang akibat biaya dan emisi transportasi.

Secara arsitektural, Erick menilai pendekatan paling berkelanjutan adalah menetapkan standar kinerja minimum atap layak huni, bukan memaksakan satu jenis material tertentu.

“Dengan pendekatan ini, Gorontalo dapat mengadopsi genteng tanah liat di lokasi yang siap secara teknis dan sosial, sekaligus mempertahankan sistem atap seng yang dilengkapi peredam panas dan ventilasi sebagai alternatif setara secara kinerja,” tandasnya.

Ia berharap program gentengisasi dapat berkembang menjadi upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat, sekaligus mendorong ekonomi lokal dan menjaga keselarasan dengan lingkungan serta nilai-nilai budaya setempat. (*/Jefri)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.