TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Delegasi Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI yang dipimpin oleh Bramantyo Suwondo, Ketua Panitia Kerja Kecerdasan Buatan (Panja AI), melakukan kunjungan strategis ke IPB University, Bogor belum lama ini.
Kunjungan ini disambut baik oleh Rektor IPB University beserta jajaran. Dalam kesempatan tersebut, delegasi BKSAP yang terdiri dari anggota lintas fraksi dan komisi juga melakukan diskusi dengan Dekan Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika (SMMI) IPB.
Diskusi membahas peluang dan tantangan implementasi kecerdasan buatan (AI) dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, yang menjadi sektor strategis di tengah tantangan perubahan iklim global.
Bramantyo Suwondo dalam kunjungannya mengatakan, kecerdasan buatan sudah menjadi isu utama dalam diplomasi internasional.
"Banyak forum internasional menempatkan AI sebagai agenda bersama dalam pembangunan global. Inter-Parliamentary Union (IPU) secara aktif mendorong pemanfaatan AI untuk mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan," ungkapnya.
Sementara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah merumuskan Prinsip AI yang mengedepankan transparansi, akuntabilitas, dan inklusi dalam pengembangan teknologi," tambahnya.
Bramantyo juga menekankan pentingnya pengaturan regulasi yang tepat.
“AI membawa potensi yang sangat besar, namun juga risiko yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan kerangka regulasi yang tepat untuk menyeimbangkan inovasi dan perlindungan kepentingan publik," ucapnya.
Bramantyo menambahkan, saat ini Indonesia belum memiliki undang-undang yang mengatur AI secara komprehensif, tetapi pemerintah telah menyiapkan beberapa regulasi pendukung seperti UU ITE, UU Perlindungan Data Pribadi, serta Etika AI dalam Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023.
"Sedangkan, Rancangan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan dan Etika AI masih dalam proses finalisasi," ungkapnya.
Selain itu, Bramantyo juga menyampaikan peran penting sektor pertanian dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Menurutnya, sektor pangan yang merupakan sektor vital bagi kehidupan masyarakat, harus mengadopsi teknologi AI untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi.
"IPB University, dengan pengalaman dan keahlian yang dimiliki, berperan besar dalam mengembangkan solusi berbasis AI yang dapat mendukung ketahanan pangan nasional," ujar Bramantyo.
Di akhir kunjungannya, Bramantyo mengingatkan bahwa perubahan teknologi akan terus berkembang.
"Dunia terus berubah. Tidak ada yang abadi selain perubahan. Kita tidak bisa menahan perubahan itu, namun yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan bijak," ungkapnya.
Dampak transformasi AI ke depan sangat besar, dan jika kita menyikapinya dengan baik, kita bisa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin timbul," tambahnya.
Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk menggali lebih dalam bagaimana teknologi canggih seperti AI bisa dimanfaatkan untuk mengatasi tantangan besar yang dihadapi Indonesia, khususnya dalam sektor pangan yang memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
IPB University, sebagai lembaga pendidikan dan riset terkemuka, diharapkan dapat terus berperan aktif dalam pengembangan solusi teknologi yang dapat meningkatkan ketahanan pangan nasional dan menyongsong masa depan yang lebih maju.