- Malam itu, suasana di Jalan Tambaksari, Surabaya, biasa-biasa saja.
Lampu jalan temaram, hujan gerimis mulai reda, dan kendaraan masih melintas normal.
Namun, bagi seorang driver taksi online, malam itu berubah menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
Seorang wanita muda hamil bernama Sirka Mariana tiba-tiba mengalami kontraksi saat perjalanan menuju rumahnya di Asemrowo, Tambak Pring.
Awalnya, nyeri yang dirasakan masih ringan, dan komunikasi antara penumpang dan driver lancar.
Namun, semakin dekat ke tujuan, kontraksi menjadi lebih intens.
Ketuban pecah, dan tanda-tanda persalinan mendesak muncul.
Yang membuat peristiwa ini unik, driver taksi online yang bernama Rosa itu ternyata seorang dokter umum.
Rosa menjadi driver online sejak Oktober tahun lalu.
Rosa diketahui merupakan dokter berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN).
Ia bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, Dr. Dori Silvanus.
Pada 2021, ia ditugaskan untuk meningkatkan kemampuan melalui studi lanjutan di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.
Rosa mengambil jurusan Spesialis Penyakit Dalam.
Di sela studi, Rosa menjalani pekerjaan sampingan sebagai driver Grab Car.
"Saya lihat kondisi (penumpang) sudah seperti proses persalinan. Saya cepat evaluasi. Akhirnya setelah pecah ketuban mulai tampak bagian kepala ubun-ubun janin. Penumpang sudah optimal untuk mendorong. Saya posisikan ibu di tengah mobil, lalu memandu proses persalinan,” ujar Rosa
Proses persalinan berlangsung kurang dari 10 menit.
Bayi laki-laki lahir sehat dengan tangisan keras dan kulit memerah, tanda kondisi stabil.
Ibu juga dalam kondisi baik dan kooperatif selama proses berlangsung.
Meski lahir di mobil, tanpa alat medis lengkap atau selimut, keduanya selamat.
Bantuan tetangga kemudian digunakan untuk menjaga bayi agar tetap hangat.
"Hanya 10 menit bayi lahir. Puji tahun lancar. Bayi langsung menangis, aktif dan kulitnya langsung memerah. Ada kelegaan di saya, walaupun ini kelahiran di dalam mobil dan pinggir jalan untungnya lancar. Baik semua," imbuh Rosa.
Setelah memastikan keduanya aman, Rosa langsung mengantar ibu dan bayi ke klinik bidan Alfiyah, yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi persalinan.
Rosa mengaku, di dalam mobil tersebut hanya ada dirinya dan ibu hamil yang melahirkan tersebut.
"Posisi di luar gerimis, saya takut bayi hiportemia. AC mobil sudah saya matikan. Paling aman pelukan dari mamanya. Kain yang ada saat itu hanya daster ibunya sebelum datang selimut dari tetangga," cerita Rosa.
Dokter Rosa yang sedang berada di masa akhir studi lanjutan dan segera lulus ini bercerita, pengalaman mengemudi sudah menjadi bagian hidupnya sejak SMP kelas delapan.
Keluarga Rosa memiliki usaha bahan bangunan di desa.
Latihan mengemudi dilakukan saat membantu keluarganya mengantarkan bahan bangunan di desa.
"Saat sudah punya SIM mulai mengantar galangan ya bahan bangunan itu ke desa-desa. Naik turun bukit. Pengalaman driver itu saya suka," aku Rosa.
Hobi dan pengalaman ini ternyata menjadi kunci dalam situasi darurat malam itu.
"Daripada nyetir tidak ada tujuan, mending dibuat dapat cuan untuk jajan anak-anak. Mungkin juga ketemu orang baru kasih inspirasi dan perenungan untuk hidup saya seperti penumpang yang melahirkan itu," sambungnya.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat, terutama pasangan muda, tentang pentingnya kewaspadaan saat kehamilan.
Bidan Alfiyah menekankan agar ibu hamil tidak menunda check-up jika ada tanda persalinan atau menstruasi terlambat.
Persalinan mendadak di tempat yang tidak semestinya dapat berisiko bagi ibu maupun bayi.
Kondisi bayi laki-laki itu saat ini sehat, berat 2,7 kilogram, dan telah mendapat perawatan optimal di klinik. Ibu juga sudah pulih dan mampu mandiri.
Bagi dokter yang malam itu juga bertindak sebagai driver, pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam.
Ia melihat momen itu sebagai bentuk dinamika hidup dan kesempatan untuk membantu sesama.
Menurutnya, setiap penumpang membawa nilai dan pelajaran tersendiri.
"Saya banyak merenungkan dari banyak penumpang. Semua membawa nilai untuk perenungan di hidup saya. Saya bersyukur bisa membantu meski sedikit," ujarnya. (*)
Program: Saksi Kata
Sumber: Tribun Jatim
Editor: Akmal Khoirul Habib