Asal-Usul Kue Mangkok Kuliner Khas Imlek Sarat Filosofis, Sering Dijumpai di Pasar Tradisional Solo
February 04, 2026 08:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Di tengah deretan jajanan pasar tradisional di Solo, Jawa Tengah, kue mangkok masih bertahan dan mudah ditemukan hingga kini.

Kue ini dikenal luas oleh masyarakat karena teksturnya yang lembut dan rasanya yang ringan.

Bentuknya bulat menyerupai mangkuk kecil dengan bagian atas yang merekah indah.

Sekilas tampil sederhana, namun kue mangkok menyimpan kisah budaya yang panjang.

Keberadaannya tak bisa dilepaskan dari pengaruh tradisi Tionghoa yang telah lama berakar di Kota Bengawan.

Secara historis, kue mangkok berasal dari wilayah Tiongkok Selatan.

Di negeri asalnya, kue ini dikenal dengan sebutan huat kue atau fa gao (fak kaw).

Kue mangkok diperkirakan masuk ke Nusantara sekitar abad ke-17.

Kedatangannya dibawa oleh para pedagang Tionghoa yang berinteraksi dengan masyarakat pesisir Jawa.

Solo dan wilayah sekitarnya menjadi salah satu daerah yang menerima pengaruh tersebut.

Baca juga: Murah Banget! Naik Kereta Batara Kresna Solo–Wonogiri, Cuma Rp 4.000 Sudah Bisa Healing

KULINER LEGENDARIS - Kue mangkok, kuliner khas Tionghoa yang kini masih eksis di Solo, Jawa Tengah, dan jadi bagian perayaan Imlek. Begini sejarah kue mangkok.
KULINER LEGENDARIS - Kue mangkok, kuliner khas Tionghoa yang kini masih eksis di Solo, Jawa Tengah, dan jadi bagian perayaan Imlek. Begini sejarah kue mangkok. ((Ist)/Sajian Sedap)

Dalam tradisi Tionghoa, kue mangkok memiliki fungsi sakral sebagai persembahan kepada para dewa.

Makna simboliknya terletak pada bagian kue yang mekar saat dikukus.

Mekarnya kue dipercaya melambangkan pertumbuhan, keberuntungan, dan harapan hidup yang meningkat.

Di Solo, kue mangkok kemudian menyatu dengan tradisi perayaan Imlek.

Kehadirannya berdampingan dengan kue keranjang sebagai sajian khas hari raya.

Masyarakat Tionghoa di Pecinan Balong, Ketandan, hingga Sudiroprajan memaknai kue ini sebagai simbol kemakmuran.

Saat Imlek, kue mangkok biasanya dibuat dengan warna-warna cerah.

Merah muda, cokelat, dan putih menjadi pilihan warna yang umum disajikan.

Warna-warna cerah tersebut dipercaya melambangkan rezeki dan kesejahteraan.

Selain warna, jumlah kue mangkok yang disajikan pun diatur harus ganjil karena angka ganjil diyakini membawa makna khusus dalam kepercayaan Tionghoa.

Proses Indigenisasi Kue Mangkok di Jawa

Seiring waktu, kue mangkok mengalami proses indigenisasi atau penyesuaian dengan selera lokal Jawa.

Jika di Tiongkok rasa fa gao cenderung sederhana, kue mangkok di Indonesia, termasuk di Solo, mengalami pengayaan rasa.

Bahan utama kue mangkok tetap berbasis tepung beras, namun ditambahkan tapai singkong, gula merah, dan terkadang taburan kelapa parut di atasnya.

Penggunaan gula jawa memberi rasa manis khas Nusantara, berbeda dengan versi aslinya di Tiongkok.

Di Bali, kue ini bahkan dikenal dengan nama kue kuskus dan digunakan sebagai bagian dari sesaji upacara adat.

KULINER LEGENDARIS - Kue keranjang aneka rasa, jadi ragam jajanan kue khas Imlek yang tersaji di berbagai toko di Suryakencana, Bogor, Sabtu (3/2/2018). Selain kue keranjang, kue mangkok juga jadi kue khas Imlek. (KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia)

Baca juga: 5 Tempat Makan Instagramable di Solo Jateng, Banyak Spot Foto Estetik, Ada Kayu Manis Coffee & Steak

Dari Sajian Ritual ke Jajanan Rakyat

Kini, kue mangkok tidak hanya hadir saat Imlek.

Di Solo, kue ini kerap dijumpai dalam acara pengajian, syukuran, ulang tahun, hingga pertemuan warga.

Penjual kue tradisional di pasar seperti Pasar Gede, kue mangkok ini masih bisa dijumpai.

Meski telah menjadi kudapan khas Indonesia, nilai filosofisnya tetap melekat.

Kue mangkok yang mekar sempurna dipercaya sebagai simbol doa agar kehidupan pemilik hajat ikut “mekar” dan berkembang.

Resep Kue Mangkok

Melansir laman Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, berikut resep kue mangkok gula merah:

Bahan-bahan

  • 250 gr tapai singkong, buang tulang tengahnya, haluskan
  • 350 gr tepung beras
  • 60 gr tepung terigu serbaguna

Bumbu 

  • 1 sdm minyak sayur untuk mengoles
  • 750 ml air kelapa
  • 100 gr pasir halus
  • 275 gr gula merah, serut kasar
  • 3 lbr daun pandan, simpulkan
  • 2 sdt baking powder

Bahan pelengkap

50 gr kelapa muda, kupas, parut memanjang, kukus dengan ½ sdt garam

Cara membuat:

  • Olesi permukaan cetakan kue mangkok dengan minyak goreng. Panaskan dalam dandang yang tutupnya dilapisi dengan serbet, sisihkan.
  • Rebus air kelapa, gula pasir, gula merah, dan daun pandan hingga larut dan cairan agak kental. Angkat dan saring.
  • Campur tepung beras, tapai singkong dan 200 ml campuran gula, uleni hingga tercampur rata.
  • Tambahkan tepung terigu dan baking powder, aduk rata.
  • Tuangkan adonan ke dalam cetakan panas hingga bibir mangkok. Kukus kembali selama 30 menit hingga mengembang dan merekah. Angkat dan dinginkan.
  • Lepaskan kue dari cetakan, sajikan bersama kelapa parut kukus.

(TribunNewsmaker.com/ TribunSolo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.