Curhat Siswa SD Sebelum Tewas, Minta Rp 10 ribu untuk Beli Buku Tulis dan Pulpen : Mama Pelit Sekali
February 04, 2026 09:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Siswa SD di NTT ternyata merasa kecewa pada ibu. Kekesalan tersebut ia lampiaskan lewat tulisan di secarik kertas.

YBR (10) bahkan sampai memutuskan untuk menyudahi hidup karena permintaannya tak dituruti sang ibu.

Anak bungsu dari lima bersaudara tersebut ditemukan tak bernyawa di pohon, dekat dengan gubuk tempat tinggalnya bersama nenek di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1/2026).

Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa mengatakan malam sebelum ditemukan tewas, YBR meminta dibelikan buku tulis dan pulpen ke ibu, Maria Goreti Tea (47).

Namun sang ibu tak bisa memenuhi karena kondisi ekonomi keluarga yang serba kesusahan.

Bahkan atas kondisi ekonomi, YBR dititipkan ke rumah nenek.

"Menurut ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen," katanya.

Baca juga: Bukan Hanya Tak Punya Pulpen dan Buku, Siswa SD yang Tewas di NTT Ternyata Jarang Makan Nasi

Saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000, ibunya MGT (47) menjawab: mereka tak punya uang. 

Bagi keluarga mereka, mendapatkan uang dengan nominal itu memang tidak mudah. 

Rp 10.000 saja sulit bagi mereka yang tergolong masyarakat miskin.

 MGT bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.

 Ia janda yang menafkahi lima anak.

Mantan suaminya merantau ke Kalimantan sejak 11 tahun lalu dan tidak pernah pulang.

Atas penolakan itulah YBR kemudian menulis curahatan hati di secari kertas.

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama).

Maria Goreti Te’a (47), ibu kandung dari YBR (10), menceritakan bahwa pagi terakhir sebelum tragedi itu anaknya mengeluh pusing.

YBR juga tidak mau berangkat ke sekolah. Namun, karena khawatir anaknya tertinggal pelajaran, sang ibu tetap memintanya masuk sekolah dan mengantar dengan ojek.

 Siang harinya, kabar duka itu datang, menghantam keluarga tanpa peringatan.

Sang ibu kaget mendengar kabar yang tak seharusnya datang.

"Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir ada pergi sekolah," katanya.

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengatakan, insiden anak SD bunuh diri di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), karena tak mampu membeli pena dan buku merupakan alarm keras bagi negara. 

Hetifah menegaskan, peristiwa ini bukanlah sekadar kabar duka. 

"Masya Allah. Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat," kata Hetifah

Hetifah mengatakan, peristiwa ini sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara manapun. 

Menurut dia, anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena. 

"Kasus ini menunjukkan, bahwa sangat penting bagi kita, untuk mengoreksi sistem pendidikan, perlindungan sosial, dan kepedulian lingkungan sekitar," katanya.

  • Kontak bantuan 

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. 

Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. 

Anda tidak sendiri. 

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.

 Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini: 

https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/

https://whatsapp.com/channel/0029VaGzALAEAKWCW0r6wK2t

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.