Rumah Wildan di Banyumanik Semarang Tak Lagi Utuh, Sebagian Roboh Terbawa Longsor ke Sungai
February 04, 2026 09:10 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Rumah Wildan Adi Nugraha (38) di Perumahan Villa Payung Indah, Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, tak lagi utuh, Rabu (4/2/2026).

Sebuah bangunan yang dulunya berdiri kokoh di tepi sungai, berubah menjadi rumah dengan bagian belakang menganga. 

Jurang sedalam sekira empat meter membelahnya, menyisakan retakan-retakan yang membuat penghuni takut menapak di dalamnya.

Di rumah itu, Wildan membesarkan dua anaknya bersama sang istri. 

Baca juga: Sopir Ambulans di Semarang Kena Prank, Ordernya Jemput Pasien Malah Disuruh Menagih Utang

• Duka Astrio Pemilik Tenant Food Court Rita Pasaraya Cilacap Pasca Kebakaran: Benar-benar Ludes

• Tragedi Anak Bakar Rumah Orangtuanya di Sumberagung Pati, Ini Pemicunya

Namun sejak longsor talud sungai yang terjadi pada Rabu (4/2/2026) dini hari, rumah tersebut tak lagi berani mereka tempati.

Peristiwa itu terjadi saat Wildan sedang berada di luar kota untuk urusan kantor. 

Di rumah, hanya istrinya dan dua anak mereka.

Sekira pukul 03.00, sang istri terbangun dan menuju kamar mandi. 

“Istri saya lihat kok mulai ada pasir-pasir runtuh, lalu ada suara grek-grek. Istri langsung memindahkan anak, keluar ke pos,” kata Wildan kepada Tribunjateng.com, Rabu (4/2/2026).

Sekira 15 menit kemudian, pukul 03.15, tanah di belakang rumah benar-benar longsor.

Talud pembatas sungai ambruk. Garasi roboh seketika, disusul kamar mandi dan sebagian dapur. 

Bangunan-bangunan itu terjun ke sungai bersama tanah yang tergerus air.

Wildan menerima telepon dari istrinya dalam kondisi panik.

“Istri saya ketakutan dan mengabari kalau rumahnya ambruk. Saya langsung ke sini,” imbuh dia.

Saat tiba di lokasi, Wildan melihat rumahnya sudah berubah. 

Dari pantauan, di dalam rumah, jendela kamar depan yang berbatasan langsung dengan jurang tampak retak dan terbelah. 

Di bagian belakang dengan ruangan dapur yang roboh, tampak terbuka seolah dindingnya dicabut paksa. 

Lantai di ujung rumah tampak ambles, menggantung tanpa penopang.

Semua peralatan dapur dan kamar mandi hilang terseret longsor. Tak ada yang bisa diselamatkan.

“Kalau membahas barang berharga, ya rumah ini sendiri,” kata Wildan.

Talud sungai yang longsor memiliki panjang sekira 25 meter. 

Dari lantai rumah, kedalaman longsoran mencapai empat meter. 

Jika dihitung dari dinding rumah setinggi tiga meter, total jurang mencapai sekira tujuh meter.

Kondisi itu dinilai membuat risiko longsor susulan masih tinggi.

Baca juga: Waspada! Buah Gigitan Kelelawar Bisa Tularkan Virus Nipah, Begini Kata Kadinkes Semarang

• Mujiono Sujud Syukur, Gunawan Pembunuh Mantan Kekasih di Kendal Divonis Hukuman Mati

• Sosok Anam Satpam Bank Raih Rekor MURI: Penulis Karya Ilmiah, Bergelar Magister

Tak hanya rumah Wildan yang terdampak. Rumah tetangga di bagian belakang juga ikut terkena longsor, meski hanya sebagian, yakni di area kamar mandi.

Rabu sore, pemerintah turun tangan. 

Sebuah ekskavator backhoe didatangkan ke lokasi. 

Operator alat berat itu tampak menyerok puing-puing bangunan yang masih menggantung di tepi jurang, menarik material longsoran agar tidak kembali jatuh ke sungai. 

Suara mesin backhoe berpadu dengan bunyi pantulan hujan deras yang masih turun.

Namun, di tengah upaya penanganan itu, rasa aman belum kembali bagi keluarga Wildan.

Retakan tembok, tanah ambles, dan bagian belakang rumah yang terbuka membuat mereka memilih mengungsi.

“Rumah ini sekarang tidak bisa kami tempati lagi dengan alasan keselamatan,” tegas Wildan.

Untuk sementara, dia, sang istri, dan dua anak mereka menjauh dari rumah yang dulu menjadi tempat berlindung. 

Ketua RT setempat, Samino terkejut dengan kejadian tersebut. 

Menurut dia, sebelumnya tidak terlihat tanda-tanda mencurigakan.

“Kalau sebelumnya tahu ada tanda-tanda, pasti langsung kami laporkan. Bisa dikosongkan,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa pihaknya telah melaporkan hal tersebut hingga ke pihak kelurahan dan diteruskan ke pemerintah setempat.

“Mudah-mudahan ada perhatian dan penanganan karena ini risikonya tinggi,” pungkas dia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.