Kisah Pilu Siswa SD di Ngada Ditemukan Tewas, Tak Mampu Beli Buku dan Pena
February 04, 2026 09:36 PM

BANGKAPOS.COM - Peristiwa memilukan mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun ditemukan meninggal dunia di kebun cengkeh.

Bocah berinisial YBR, siswa kelas IV SDN Rutowaja, diduga mengalami tekanan berat akibat kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, hingga keinginannya untuk memiliki buku dan pena tak dapat terpenuhi.

Tragedi ini membuka kembali wajah kemiskinan ekstrem dan lemahnya perlindungan anak di daerah terpencil.

YBR diketahui hidup dalam keterbatasan sejak kecil, terpisah dari orang tua, diasuh oleh neneknya di pondok sederhana, serta luput dari berbagai bantuan sosial pemerintah.

Kematian YBR tak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar, tetapi juga memantik sorotan keras dari DPR RI.

Baca juga: Pengakuan Nia Ramadhani Soal Suaminya Selingkuh dan Gugat Cerai Ardi Bakrie

Anggota Komisi VIII DPR menilai negara gagal hadir melindungi hak dasar anak, khususnya hak atas pendidikan dan pengasuhan yang layak.

Kasus ini pun menjadi alarm serius bagi pemerintah terkait efektivitas bantuan sosial, sistem perlindungan anak, dan keberpihakan negara terhadap kelompok paling rentan.

Berikut rangkaian fakta pilu di balik meninggalnya YBR (10), siswa SD di Ngada, NTT, yang menggugah nurani publik dan memunculkan desakan evaluasi menyeluruh terhadap peran negara dalam melindungi anak-anak Indonesia.

1. Ditemukan Tewas di Kebun Cengkeh

YBR ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026) siang.

Berdasarkan keterangan saksi berinisial KD (59), kejadian tersebut pertama kali diketahui saat saksi hendak mengikat hewan ternak di sekitar pondok kebun. 

Saat menuju pondok, saksi melihat korban sudah dalam keadaan tergantung di salah satu dahan pohon cengkeh.

"Saksi kemudian berlari ke jalan sambil berteriak meminta pertolongan, hingga warga sekitar berdatangan dan menghubungi pihak kepolisian,"jelas Kasi Humas Ipda Benediktus R. Pissort kepada TRIBUNFLORES.COM Jumat (30/1/2026).

 Saat ditemukan, korban tampak mengenakan baju olahraga berwarna merah.

Mendapatkan laporan itu, personel Polres Ngada yang dipimpin KBO Sat Intelkam Polres Ngada IPTU Thomas Aquino Mere segera mendatangi lokasi kejadian. 

Petugas melakukan pengamanan tempat kejadian perkara (TKP), olah TKP, serta proses identifikasi oleh Unit Identifikasi Satreskrim Polres Ngada.

Dari hasil olah TKP, korban ditemukan dalam kondisi leher terikat dua utas tali nilon berwarna hijau. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa tali nilon, pakaian korban, serta selembar kertas berisi tulisan tangan menggunakan bahasa daerah Bajawa yang diduga ditulis oleh korban, berisi pesan perpisahan kepada ibunya.

Setelah proses identifikasi selesai, korban diturunkan dari ikatan tali dan selanjutnya dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk dilakukan Visum et Repertum.

2. Tulis Pesan Untuk Ibu

Informasi yang diperoleh, saat mengevakuasi korban, warga menemukan sebuah pesan tertulis yang ditujukan kepada sang ibunda. 

Pesan itu ditulis pada sebuah kertas berwarna putih.

Surat untuk Mama

Dalam selembar surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah (bahasa Bajawa). 

"Kertas Ti'i Mama Reti"

Mama galo Ze'e

Mama Molo, Galo Ja'o Mata, Mama  Ma'e Rita ee Mama

Mamo Galo Ja'o Mata, Ma'e Woe Rita Ne Gae Nga'o ee

MOLO MAMA

Menurut sumber warga asli Bajawa, isi surat itu adalah:

kertas untuk mama Reti

Mama terlalu kikir (pelit)

Mama baik sudah, kalau saya mati mama jangan menangis ee mama. 

Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee. 

Baik sudah mama atau selamat tinggal mama.

3. Sempat Menolak Sekolah

Maria Goreti Te’a (47) sang ibu kaget mendengar kabar yang tak seharusnya datang.

“Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir ada pergi sekolah,” ungkap Maria, saat dijumpai di rumah duka, Selasa (3/2/2026).

Diketahui, YBR adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Ibu kandung dari YBR (10) menceritakan pagi terakhir sebelum tragedi itu, sang anak mengeluh pusing.

YBR juga tidak mau berangkat ke sekolah. 

Namun karena khawatir ia tertinggal pelajaran, sang ibu tetap memintanya masuk sekolah dan mengantar dengan ojek.

Siang harinya, kabar duka itu datang, menghantam keluarga tanpa peringatan. 

4. Sejak Kecil Diasuh Nenek

Dalam kesehariannya, bocah malang tersebut diasuh oleh neneknya di pondok sederhana berdinding bambu berukuran tak lebih dari 2 x 3 meter.

Selain bersekolah, YBR membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar.

Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya. 

Pisang dan ubi menjadi menu paling sering tersaji di meja makan keluarga kecil itu.

Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandung dan ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali.

Kehilangan figur kepala keluarga membuat kehidupan YBR dan saudara-saudaranya berada dalam tekanan ekonomi berkepanjangan.

Pantauan lapangan dan keterangan warga menunjukkan keluarga YBR hidup dalam kondisi serba terbatas.

Pengasuhan anak-anak terpisah, pendampingan emosional minim, dan akses pendidikan pun terbatas.

Ironisnya, keluarga ini luput dari berbagai bantuan pemerintah, baik rumah layak huni, pendidikan, maupun bantuan sosial.

Dari lima anak, hanya dua yang sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan.

5. Anggota DPR Kritik Kementerian PPPA

Anggota Komisi VIII DPR Fraksi PDI-Perjuangan, Ina Ammania, mengkritik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dalam kaitan dengan tewasnya anak SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Artinya KemenPPPA gagal menjamin perlindungan terhadap anak," kata Ina Ammania dalam keterangannya, dilansir dari Kompas.com, Rabu (4/2/2026). 

Ina Ammania meminta negara bertanggung jawab atas peristiwa tewasnya anak SD berinisial YBS (10) yang  sebelumnya tak mampu membeli buku dan pena di Ngada, NTT.

Ina menegaskan, insiden memilukan ini tidak akan terjadi bila negara memberikan perlindungan terhadap anak, termasuk hak pendidikannya.

“Ini harus menjadi alarm serius bagi negara. Contoh potret yang buruk bagi dunia pendidikan, termasuk hak-haknya,” ujar Ina.

Ina menekankan, apa yang dialami YBS semestinya tidak terjadi, mengingat negara telah menganggarkan ratusan triliun untuk pendidikan.

 Lalu, dia juga menyoroti banyaknya bantuan sosial bagi keluarga tidak mampu melalui sejumlah kementerian. Sebab, bila bantuan itu tepat sasaran, seharusnya masalah kekurangan pena dan buku terselesaikan.

“Apakah buku dan pena itu terlalu mahal, sehingga negara tidak bisa hadir? Ini adalah kelalaian negara yang tidak mampu memberikan perlindungan dan pencegahan,” tuturnya.

Ina juga menyoroti peran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) yang gagal memberikan perlindungan terhadap anak-anak rentan.

Padahal, jika berkaca pada tahun lalu, kasus menghebohkan kekerasan terhadap anak juga terjadi di wilayah Ngada, yang menjerat Kapolres Ngada.

“Artinya KemenPPPA gagal menjamin perlindungan terhadap anak. Mereka tidak berkaca dari tahun lalu saat sejumlah anak di Ngada menjadi korban pornografi dan human trafficking,” kata Ina.

Layanan konseling pencegahan bunuh diri 

Jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. 

Anda tidak sendiri. 

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. 

Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini: 

https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/

(Kompas/tribunflores/Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.