TRIBUNGORONTALO.COM - Lima guru besar baru di Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dikukuhkan di Gedung Auditorium UNG, Selasa (3/2/2026)
Pengukuhan lima guru besar dari berbagai disiplin ilmu ini berlangsung khidmat.
Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni kenaikan pangkat, melainkan simbol lahirnya lima cendekiawan yang siap menjadi kompas moral dan ilmu pengetahuan bagi masyarakat.
Kehadiran para Guru Besar ini memperkuat fondasi keilmuan UNG di berbagai lini strategis, mulai dari pendidikan, humaniora hingga teknologi.
Lima guru besar yang dikukuhkan berasal dari bidang ilmu yang beragam.
Berikut 5 Guru Besar UNG yang Baru Dikukuhkan:
1. Prof. Dr. Asna Ntelu, M.Hum., dengan kepakaran analisis wacana budaya;
2. Prof. Dr. Suleman Bouti, M.Hum., dengan kepakaran sociolinguistics orthography;
3. Prof. Dr. Dakia N. Djou, M.Hum., dengan kepakaran linguistik;
4. Prof. Dr. Ir. Sardi Salim, M.Pd., IPU, ASEAN Eng., dengan kepakaran geografi elektrifikasi
5. Prof. Dr. Frida Maryati Yusuf, M.Pd., dengan kepakaran belajar dan pembelajaran.
Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT., IPU., ASEAN.Eng., mengucapan selamat dan apresiasi atas keberhasilan para dosen meraih jabatan akademik tertinggi.
Menurutnya, pencapaian gelar guru besar bukan sekadar prestasi individual, melainkan capaian institusi yang patut disyukuri bersama.
“Menjadi guru besar berarti telah mencapai level tertinggi dalam pencapaian ilmu. Pada tahap ini, seorang akademisi diharapkan tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga menjadi teladan, gemar berbagi ilmu, dan memiliki dedikasi yang lebih besar untuk mengabdi kepada bangsa,” ujar Rektor.
Rektor juga menegaskan bahwa guru besar adalah cendekiawan yang memiliki tanggung jawab moral dan intelektual, untuk menjadi role model bagi sivitas akademika dan masyarakat.
Semangat dan konsistensi kelima guru besar baru dalam meraih jabatan akademik tertinggi dinilai layak untuk diteladani oleh generasi akademisi berikutnya.
“Dengan bertambahnya jumlah guru besar di UNG diharapkan mampu meningkatkan daya saing universitas di tengah dinamika dan persaingan perguruan tinggi yang semakin kompetitif. Keberadaan guru besar menjadi modal strategis bagi UNG untuk memperkuat kualitas pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat,” pungkasnya.
Rektor UNG Prof Eduart Wolok Wisuda 700 Mahasiswa, Ini Pesannya
Sebelumnya Rektor UNG Prof Dr Ir Eduart Wolok, ST, MT, IPU, ASEAN.Eng, mewisuda 700 mahasiswa pada Senin (2/2/2026)
Sebanyak 700 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan mulai dari Diploma, Sarjana, Magister, hingga Doktor diwusuda di Auditorium Universitas Negeri Gorontalo (UNG)
Rektor UNG Eduart didampingi Ketua Senat Prof DrFemy Mahmud Sahami, MSi
Rektor UNG, Prof Dr Ir Eduart Wolok mengatakan keberhasilan para wisudawan adalah pencapaian yang membahagiakan bagi seluruh keluarga besar universitas. Katanya, keberhasilan tersebut bukan hanya milik individu mahasiswa semata.
“Keberhasilan ini patut kita syukuri bersama. Ini bukan hanya tanda keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan studi, tetapi juga bukti dedikasi para dosen yang telah mendidik, membimbing, dan mengantarkan kalian hingga merengkuh gelar akademik hari ini,” ujar Prof Eduart.
Katanya, momentum prosesi yang diikuti para lulusan UNG ini tidak hanya menjadi perayaan akademik, namun menjadi simbol dari komitmen UNG dalam mencetak generasi yang unggul dan berdaya saing.
Dengan bekal ilmu pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai karakter yang telah ditempa selama berada di lingkungan Kampus, para lulusan diharapkan dapat menjawab tantangan zaman dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
“Dengan bekal penting yang diperoleh selama menempuh pendidikan, para lulusan diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa inovasi dan solusi di tengah tantangan dunia modern,” harap Prof. Eduart.
Rektor Sampaikan Pesan Inspiratif Saat Melepas Ratusan Wisudawan UNG
Rektor UNG Prof Eduart Wolok menitipkan pesan penting untuk lulusan UNG yang akan segera kembali ke masyarakat.
Katanya, di tengah berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks, para lulusan diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor intelektual yang memberikan solusi nyata.
Peran tersebut harus dapat diambil oleh para lulusan, karena dengan bekal Ilmu dan keahlian yang telah diperoleh di bangku kuliah dapat diimplementasikan untuk membantu memecahkan berbagai permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Sebagai lulusan UNG sebagai kampus kerakyatan mesti dimaknai oleh para wisudawan bahwa, keberadaan mereka dengan gelar dan keahalian yang dimiliki saat ini untuk terlibat dengan masyarakat agar dapat menyelesaikan problem-problem yang dihadapi mereka,” ujar Rektor.
Katanya, Bagi banyak orang, wisuda dianggap sebagai akhir dari perjuangan menuntut ilmu. Tapi baginya meraih gelar serjana merupakan lompatan besar untuk dapat terus mengembang pengetahuan dan skill yang dapat berguna bagi masa depan setiap individu.
"Keberhasilan meraih gelar sarjana bukanlah akhir dari proses belajar. Jangan pernah berhenti mengembangkan diri. Dunia terus berubah, dan hanya mereka yang terus mengasah pengetahuan dan keahliannya yang akan mampu bertahan dan memberi dampak," tegasnya. (***/UNG)