POS-KUPANG. COM, KUPANG -- Kita sering membayangkan perang sebagai sesuatu yang jauh: senjata, ledakan, dan medan tempur di tempat asing.
Namun sesungguhnya, sebuah perang senyap sedang berlangsung sangat dekat dengan kita.
Di depan rumah, di selokan, di pesisir, bahkan di dapur tempat kita menyiapkan makanan setiap hari.
Musuhnya tidak berseragam dan tidak berteriak.
Namanya sederhana, tetapi dampaknya luar biasa: sampah.
Baca juga: Pengelolaan Sampah Jadi Kendala Kebersihan Pasar di Kota Kupang
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kota Kupang, persoalan sampah bukan lagi cerita kecil.
Setiap hari, aktivitas rumah tangga, pasar, dan pusat-pusat ekonomi menghasilkan timbulan sampah dalam jumlah besar.
Di Kota Kupang saja, timbulan sampah harian diperkirakan mencapai ratusan ton, sementara kapasitas pengelolaan dan tempat pembuangan akhir terus berada di bawah tekanan.
Sebagian sampah terangkut, tetapi tak sedikit yang berakhir di sungai, selokan, lahan kosong, hingga pesisir laut. Kita melihatnya, kita mengeluhkannya, tetapi sering kali berhenti sampai di sana.
Padahal, sampah adalah cermin. Ia memantulkan cara kita memperlakukan lingkungan, kota, dan masa depan kita sendiri.
Masalah Kecil yang Menjadi Ancaman Besar
Sampah kerap dianggap sepele karena dampaknya tidak selalu terasa seketika.
Namun perlahan, ia membangun krisis di banyak sisi kehidupan.
Di bidang kesehatan, plastik yang kita buang tidak pernah benar-benar hilang. Ia terurai menjadi mikroplastik, masuk ke rantai makanan, lalu kembali ke tubuh manusia. Ikan, garam, dan air yang kita konsumsi tak lagi sepenuhnya bebas dari residu limbah.
Di sisi lingkungan, tumpukan sampah organik di tempat pembuangan menghasilkan gas metana yang memperparah pemanasan global.
Artinya, kontribusi terhadap krisis iklim tidak hanya datang dari industri besar, tetapi juga dari kebiasaan harian kita di rumah.
Sementara dari sisi ekonomi, banjir yang berulang di perkotaan sering kali bukan semata akibat hujan deras, melainkan saluran air yang tersumbat sampah.
Ketika jalan tergenang, usaha kecil terhenti, aktivitas warga terganggu, dan biaya penanganan terus membebani anggaran daerah.
Bagi ibu rumah tangga di Kelapa Lima, sampah bukan isu abstrak.
Ia hadir sebagai selokan yang mampet di depan rumah dan bau tak sedap yang harus diterima setiap pagi.
Di titik inilah sampah berhenti menjadi statistik, dan berubah menjadi persoalan sehari-hari.
Namun yang paling berbahaya bukanlah sampah itu sendiri, melainkan rasa terbiasa. Terbiasa melihat tumpukan plastik.
Terbiasa mencium bau menyengat. Terbiasa menyalahkan keadaan, seolah tidak ada pilihan lain.
Mengubah Cara Pandang, mengubah Arah
Selama ini, kita masih memegang pola pikir lama: “yang penting sudah dibuang.” Begitu kantong sampah keluar dari rumah, seolah tanggung jawab pun ikut keluar.
Padahal, sampah itu tidak lenyap, ia hanya berpindah tempat, menunggu waktunya untuk kembali sebagai masalah.
Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan cara pandang.
Sampah bukan semata barang sisa, melainkan konsekuensi dari pilihan kita.
Dan jika ia lahir dari pilihan manusia, maka solusinya pun ada di tangan manusia.
Harapan Itu Nyata dan Bisa Dimulai Hari Ini
Kabar baiknya, perang melawan sampah bukan perang yang mustahil dimenangkan.
Rumah tangga adalah titik awal paling strategis. Memilah sampah organik dan anorganik dari dapur rumah bukan tindakan kecil.
Jika dilakukan secara kolektif, dampaknya sangat besar: mengurangi beban TPA, memudahkan daur ulang, dan membuka peluang ekonomi baru.
Komunitas dan generasi muda dapat menjadi motor perubahan.
Gerakan bersih pantai, bank sampah, dan edukasi lingkungan telah tumbuh di berbagai sudut NTT.
Ini menunjukkan bahwa kesadaran bisa dibangun, dan kepedulian bisa menular.
Pemerintah dan dunia usaha memiliki peran sebagai penguat. Kebijakan yang konsisten, fasilitas pengelolaan sampah yang memadai, insentif bagi praktik ramah lingkungan, serta penegakan aturan yang adil akan membuat upaya warga tidak berhenti di tengah jalan.
Menang Bersama atau Kalah Bersama
Sampah akan selalu ada selama manusia hidup.
Namun pilihan kita sederhana: membiarkannya menumpuk sebagai warisan masalah, atau mengelolanya sebagai bagian dari solusi.
Ini bukan sekadar soal kebersihan kota, melainkan tentang martabat, kesehatan, dan masa depan Nusa Tenggara Timur.
Perubahan tidak menunggu semua sempurna.
Ia dimulai dari langkah kecil yang konsisten.
Dan mungkin, ujian kepedulian itu bermula dari hal paling sederhana: memilah sampah dari dapur rumah kita sendiri, hari ini. (*)
Oleh: Agustina Etin Nahas, SP., M.Si
Dosen pada Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana