Virus Nipah Jadi Atensi Kesehatan Global, IDAI : Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia
February 05, 2026 09:32 AM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Virus Nipah kembali menjadi sorotan dunia kesehatan global menyusul laporan dua kasus konfirmasi laboratorium di India.

Penyakit zoonosis dengan tingkat kematian tinggi ini dinilai perlu diwaspadai masyarakat Indonesia, meski hingga kini belum ditemukan kasus pada manusia di Tanah Air.

Dua Perawat Terinfeksi Virus Nipah

World Health Organization (WHO) menerima laporan dari National IHR Focal Point for India terkait dua perawat rumah sakit di Barasat, Benggala Barat, yang terkonfirmasi terinfeksi virus Nipah.

Laporan tersebut diterima pada 26 Januari 2026 dan langsung menjadi perhatian internasional.

Tingkat Kematian Tinggi

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menyebut virus Nipah termasuk penyakit serius karena tingkat kematiannya sangat tinggi dan belum memiliki vaksin maupun obat antivirus.

“Virus Nipah ini termasuk zoonosis, ditularkan dari hewan ke manusia, terutama oleh kelelawar, juga bisa melalui babi atau hewan ternak lainnya. Kuncinya tetap pada PHBS, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat,” ujar Dr. Piprim Basarah, Kamis (29/1/2026).

Ia menjelaskan, angka kematian akibat virus Nipah dapat mencapai 70 persen.

Artinya, dari empat orang yang tertular, tiga di antaranya berpotensi meninggal dunia.

“Nipah ini bikin galau karena fatalitasnya sangat tinggi. Tidak ada obat dan vaksinnya. Karena itu pencegahan menjadi sangat penting,” tegasnya.

Gejala Awal Demam dan Nyeri Otot

Secara klinis, infeksi virus Nipah dapat menimbulkan gejala awal seperti demam dan nyeri otot, lalu berkembang menyerang sistem saraf pusat hingga menyebabkan radang otak (ensefalitis).

Dokter Piprim juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai konsumsi buah yang sudah tergigit kelelawar karena berisiko terkontaminasi virus.

“Kolaborasi orang tua dan tenaga kesehatan harus ditingkatkan. Jika ada kematian hewan liar atau ternak, sebaiknya segera dilaporkan. Tidak perlu panik, tapi kewaspadaan mutlak diperlukan,” jelasnya.

Serang Usia Produktif

Ia menambahkan, meski virus Nipah lebih banyak menyerang usia produktif, anak-anak tetap berisiko terinfeksi.

Senada, Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH, menjelaskan bahwa virus Nipah pertama kali teridentifikasi saat wabah di Malaysia pada 1998.

“Waktu itu penyakit ini masih baru. Karena banyak menyerang sistem saraf dan kesadaran, awalnya dikira Japanese Encephalitis,” ungkap Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya tersebut.

Ia menegaskan, kelelawar merupakan reservoir utama virus Nipah, dan saat ini menjadi hewan yang paling diawasi secara global karena berpotensi menularkan berbagai penyakit baru.

“Kelelawar adalah sumber utama. Di Indonesia memang belum ada kasus Nipah pada manusia, tetapi virus ini sudah ditemukan pada kelelawar pemakan buah,” jelas Prof Dominicus.

Belum Tersedia Vaksin

WHO sendiri menilai virus Nipah sebagai salah satu patogen paling berbahaya karena belum tersedia vaksin.

Tingkat kematiannya berkisar 40 hingga 75 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan Covid-19 yang berada di kisaran 1 persen.

“Angka ini sangat tinggi. Karena itu, seluruh dunia sedang memikirkan bagaimana agar virus ini tidak sampai menyebar luas,” pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.