Sering Dianggap Lebih Matang, Buah Bekas Gigitan Kelelawar Berisiko Terkontaminasi Virus Nipah
February 05, 2026 10:32 AM

 

SURYA.co.id, SURABAYA - Bagi sebagian orang, buah yang memiliki bekas sisa gigitan codot atau kelelawar dianggap lebih matang dan manis.

Padahal buah yang terbuka berisiko terkontaminasi, terutama dari gigitan kelelawar sebagai inang alami yang dapat berisiko memindahkan virus nipah ke manusia.

Dilansir SURYA.co.id, Virus Nipah termasuk virus yang ditularkan melalui hewan atau zoonosis di antaranya oleh kelelawar, babi atau hewan ternak lain.

Ingatkan Anak-anak

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso Sp.A mengimbau orang tua untuk mengingatkan anak-anaknya untuk tidak memakan buah yang terdapat gigitan kelelawar karena dikhawatirkan mengandung virus Nipah.

“Banyak juga kebiasaan kita, anak-anak memungut buah-buah yang bekas dimakan kelelawar, karena malas manjat, buah yang bekas kelelawar kadang-kadang juga dimakan, kalau kelelawarnya mengandung virus nipah, maka ini bisa menularkan ke anak-anak kita,” kata Dokter Piprim kepada SURYA.co.id, dalam webinar yang diikuti, Kamis (29/1/2026).

Ditularkan Cairan Hewan Pembawa Virus

Sementara itu, Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH, mengatakan kelelawar buah genus Pteropus sebagai penular utama dan inang alami.

Virus nipah dapat ditularkan dari cairan hewan pembawa (ludah, kencing), makan daging mentah hewan yang terkena virus nipah, buah-buahan terkontaminasi kelelawar buah, atau terkontak individu yang terinfeksi virus nipah.

“Dengan cara penularan tersebut yang paling rentan peternak babi, petugas pemotong babi, pengumpul nira atau aren kalau di Indonesia kan banyak, petugas kesehatan yang melakukan perawatan, orang yang di laboratorium memeriksa darah, keluarga atau kerabat yang merawat pasien,” sebutnya.

Gejala Awal Penyakit

Prof. Dr. Dominicus Husada menyebut, butuh waktu selama 14 hari sejak masuknya virus hingga munculnya gejala. Tergantung kekebalan tubuh dan faktor lainnya.

Gejala awal adalah demam, nyeri kepala, nyeri otot, muntah, nyeri telan, dan bisa ke arah gejala berat seperti kesadaran berubah, sesak nafas, dan semakin lama membutuhkan alat bantu nafas.

“Kalau terlambat kemungkinan meninggalnya naik berlipat, tentu keadaan ini bisa disertai dengan kejang. Di awal kebanyakan tidak tahu, seperti penyakit lain. Tetapi untuk memastikan PCR (Polymerase Chain Reaction). Tidak ada antivirus, diobati sesuai keluhan, butuh cairan, oksigen, pengendali suhu dan terbatas itu,” sebutnya.

Hindari Kontak dengan Hewan Ternak Terinfeksi

Prof. Dr. Dominicus Husada menekankan untuk menghindari kontak dengan hewan ternak yang terinfeksi. 

Penting dalam penggunaan alat pelindungi diri. Saat memotong hewan gunakan perlengkapan lengkap dan baik.

“Program pencegahan dan pengendalian infeksi harus dijalankan, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah salah satu hal yang mutlak, hindari kontak, konsumsi daging, cuci kupas buah,” tutup Prof. Dr. Dominicus Husada.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.