Renungan Harian Katolik Jumat 6 Februari 2026, Ketika Kebenaran Mengusik Hati Nurani
February 05, 2026 11:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan harian Katolik Jumat 6 Februari 2026.

Tema renungan harian Katolik "ketika kebenaran mengusik hati nurani".

Renungan harian Katolik untuk hari Jumat Pertama, Perayaan Wajib Santo Paulus Miki, dkk; Martir, Santa Dorothea dan Theopilus, Martir, dengan warna liturgi merah.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Jumat 6 Februari 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Bacaan Injil Katolik Jumat 6 Februari 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik

Bacaan Pertama Sirakh 47:2-11

"Dengan segenap hati Daud memuji-muji Tuhan dan mengungkapkan kasihnya kepada Sang Pencipta."

Seperti lemak disendirikan untuk kurban penghapus dosa, demikianlah Daud dipungut dari orang-orang Israel. Singa dipermainkan olehnya seolah-olah kambing jantan saja, dan beruang seakan-akan hanyalah anak domba. 

Bukankah di masa mudanya ia membunuh seorang raksasa dan mengambil nista dari bangsanya dengan melemparkan batu dari pengumban dan mencampakkan kecongkakan Goliat? Karena berseru kepada Tuhan Yang Mahatinggi, yang memberikan kekuatan kepada tangan kanannya, maka Daud merebahkan orang yang gagah dalam pertempuran, sedangkan tanduk bangsanya ia tinggikan. 

Itulah sebabnya ia disanjung-sanjung karena “laksaan” dan dipuji-puji karena berkat-berkat dari Tuhan, ketika mahkota mulia dipersembahkan kepadanya. Sebab ia membasmi segala musuh di sekelilingnya, dan meniadakan orang-orang Filistin, lawannya, serta mematahkan tanduk mereka hingga hari ini. 

Dalam segala tindakannya Daud menghormati Tuhan, dan dengan kata sanjungan kepada Yang Kudus, Yang Mahatinggi. Ia bernyanyi-nyanyi dengan segenap hati, dan mengungkapkan kasihnya kepada Sang Pencipta. Di depan mezbah ditaruhnya kecapi, dengan bunyinya ia memperindah lagu dan kidung. 

Ia memberikan kemeriahan kepada segala perayaan, dan hari-hari raya diaturnya secara sempurna. Maka orang memuji-muji Nama Tuhan yang kudus, dan mulai pagi-pagi benar suara orang bertalu-talu di tempat kudus-Nya. 

Tuhan mengampuni segala dosanya serta meninggikan tanduknya untuk selama-lamanya. Tuhan menjanjikan kerajaan yang lestari, dan menganugerahkan kepadanya takhta yang mulia di Israel!

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 18:31.47.50.51

Ref. Aku mengasihi Tuhan, Dia sumber kekuatan. Hidupku 'kan menjadi aman dalam lindungan-Nya

Jalan Allah itu sempurna, janji Tuhan adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.

Tuhan itu hidup! Terpujilah Gunung Batuku dan mulialah Allah Penyelamatku! Maka aku akan menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan; aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.

Tuhan mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya; Ia menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, yakni Daud dan anak cucunya, untuk selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil: Lukas 8:15

Ref. Alleluya

Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan tulus ikhlas, dan menghasilkan buah berkat ketabahannya. Alleluya.

Bacaan Injil: Markus 6:14-29

"Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, kini bangkit lagi."

Pada waktu itu Raja Herodes mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya memang sudah terkenal, dan orang mengatakan, “Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati, dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia.” 

Yang lain mengatakan, “Dia itu Elia!” Yang lain lagi mengatakan, “Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.” Waktu Herodes mndengar hal itu, ia berkata, “Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan kini bangkit lagi.” 

Memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. 

Karena Yohanes pernah menegur Herodes, “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” Karena kata-kata itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci; jadi ia melindunginya. 

Tetapi setiap kali mendengar Yohanes, hati Herodes selalu terombang-ambing; namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes – pada hari ulang tahunnya – mengadakan perjamuan untuk para pembesar, para perwira dan orang-orang terkemuka di Galilea. 

Pada waktu itu puteri Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes serta tamu-tamunya. Maka raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!” 

Lalu Herodes bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun itu setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawab ibunya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” 

Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis dalam sebuah talam!” Maka sangat sedihlah hati raja! Tetapi karena sumpahnya dan karena segan terhadap tamu-tamunya, ia tidak mau menolaknya. 

Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu dalam sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu, dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. 

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kubur.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik 

“Kebenaran yang Tidak Dibungkam” Injil: Markus 6:14–29

Ketika Kebenaran Mengusik Hati Nurani

Injil hari ini membawa kita pada kisah yang serius dan menggugah: wafatnya Yohanes Pembaptis. Bukan kisah yang ringan, tetapi sangat penting dalam perjalanan iman. Markus 6:14–29 tidak menampilkan mukjizat, melainkan konsekuensi dari keberanian menyuarakan kebenaran.

Raja Herodes mendengar tentang Yesus dan gelisah. Hatinya terguncang, karena suara Yohanes yang pernah ia dengar kini seakan hidup kembali. Yohanes sudah tidak ada, tetapi kebenaran tidak pernah mati.

Dalam renungan Katolik harian Markus 6:14–29, kita diajak melihat bahwa Injil bukan hanya tentang penghiburan, tetapi juga tentang kesetiaan, keberanian, dan hati nurani.

Yohanes Pembaptis: Suara yang Tidak Berkompromi

Yohanes bukan nabi yang mencari aman. Ia bukan pembicara yang menyesuaikan pesan dengan selera pendengarnya. Ia berbicara karena ia setia pada kebenaran Allah.

Ia menegur Herodes bukan karena benci, tetapi karena peduli pada keselamatan jiwanya.

Dalam spiritualitas Katolik, Yohanes Pembaptis adalah gambaran nurani yang hidup: suara yang mengingatkan ketika kita mulai menyimpang.

Namun kebenaran seperti ini jarang nyaman. Ia mengganggu. Ia mengusik. Ia menantang.

Dalam dunia hari ini, kebenaran sering diubah menjadi opini. Moralitas sering ditawar. Prinsip sering dikaburkan demi diterima.

Yohanes menunjukkan bahwa iman sejati tidak dibangun di atas kenyamanan, tetapi kesetiaan.

Herodes: Hati yang Terbelah

Markus melukiskan Herodes sebagai sosok yang kompleks. Ia takut akan Yohanes. Ia tahu Yohanes orang benar dan kudus. Ia bahkan senang mendengarkan dia, meski hatinya gelisah.

Ini potret yang sangat manusiawi.

Herodes bukan orang yang sepenuhnya menolak Tuhan. Ia mendengar. Ia tertarik. Tetapi ia tidak mengubah hidupnya.

Ia menikmati kebenaran sebagai suara, bukan sebagai tuntutan.

Berapa banyak dari kita berada di posisi yang sama?

Mendengar Injil, tetapi tidak mau diubah olehnya.
Menyukai renungan, tetapi menolak pertobatan.
Tersentuh secara emosional, tetapi tidak mengambil keputusan.
Dalam renungan Injil hari ini, Herodes menjadi cermin: iman yang hanya berhenti di kekaguman, tetapi tidak sampai pada ketaatan.

Pesta, Tekanan, dan Keputusan yang Salah

Markus menceritakan bahwa keputusan tragis Herodes lahir bukan dari perencanaan jahat, tetapi dari tekanan, gengsi, dan ketakutan akan pandangan orang.

Di tengah pesta, janji diucapkan. Di depan banyak orang, ia merasa terikat oleh citra. Ia lebih takut kehilangan muka daripada kehilangan kebenaran.

Inilah salah satu peringatan terkuat Injil ini:

banyak kejatuhan besar lahir dari keputusan kecil yang tidak dijaga.

Herodes tahu Yohanes benar. Tetapi ia tidak cukup berani untuk menanggung konsekuensi dari kebenaran itu.

Dalam hidup remaja dan kaum muda, tekanan semacam ini sangat nyata:

takut tidak diterima,
takut dianggap aneh,
takut sendirian,
takut berbeda.
Namun Injil bertanya kepada kita:

Mana yang lebih kita takuti: kehilangan persetujuan manusia, atau kehilangan suara Tuhan di dalam hati kita?

Wafatnya Yohanes: Kekalahan yang Menjadi Kesaksian
Kematian Yohanes bukan kegagalan. Ia adalah kesaksian.

Yesus sendiri nanti akan mengalami penolakan, fitnah, dan wafat. Yohanes berjalan lebih dulu di jalan itu. Ia setia sampai akhir.

Ini bukan undangan untuk mencari penderitaan, tetapi panggilan untuk setia, bahkan ketika setia itu tidak populer.

Dalam iman Katolik, para martir bukan diperingati karena kesedihan, tetapi karena kesetiaan mereka menyingkapkan nilai Injil yang sejati.

Yohanes tidak menyelamatkan dirinya, tetapi ia menyelamatkan kebenaran dalam dirinya.

Dan itulah yang membuat hidupnya tidak sia-sia.

Refleksi Pribadi

Luangkan waktu sejenak hari ini:

Suara siapa yang paling mempengaruhi keputusanku: Tuhan atau lingkungan?
Di mana aku sedang berkompromi dengan kebenaran demi kenyamanan?
Apakah aku masih memberi ruang bagi suara nurani untuk menegurku?
Yohanes mengingatkan kita:

lebih baik hati gelisah karena kebenaran, daripada tenang karena kompromi.

Doa Penutup

Tuhan, Engkau memanggil kami bukan hanya untuk mendengar kebenaran, tetapi untuk hidup di dalamnya.

Berilah kami hati yang jujur seperti Yohanes, yang berani setia meski tidak aman, yang berani taat meski tidak nyaman.

Bebaskan kami dari iman yang hanya mencari rasa, dan bentuklah kami menjadi murid yang berani berdiri di pihak-Mu.

Teguhkanlah hati kami, agar kami tidak menjual kebenaran demi penerimaan, dan tidak menukar iman demi kenyamanan. Amin.

Penutup: Suara yang Masih Bergema

Yohanes Pembaptis telah tiada, tetapi suaranya tidak pernah berhenti:

“Bertobatlah, dan luruskanlah jalan bagi Tuhan.”

Semoga renungan Katolik harian Markus 6:14–29 ini menolong kita—khususnya remaja, Gen Z, dan keluarga Katolik untuk semakin berani mencintai kebenaran, meski kebenaran itu menuntut perubahan. (Sumber the katolik.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.