Tiga Kali Ditabrak Tongkang, Jembatan Mahulu Samarinda Dipantau Tim Ahli UGM
February 05, 2026 12:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.CO, SAMARINDA – Sempat tiga kali ditabrak tongkang, keamanan Jembatan Mahulu  di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, diperiksa pada Rabu (4/2/2026).

Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (PUPR-PERA) Kaltim melakukan uji beban Jembatan Mahulu.

Ini adalah pengujian kedua, sebelumnya juga telah dilakukan pada 17 Januari 2026 pascatertabarak oleh tongkang kedua kalinya.

Insiden ditabraknya Jembatan Mahulu oleh kapal tongkang berlangsung sejak Desember 2025.

Akibatnya timbul kerusakan pada jembatan.

  • Kejadian pertama,  pada 23 Desember 2025, tiga buah pelindung jembatan atau fender dilaporkan hilang tersapu arus Sungai Mahakam.
  • Lalu insiden kedua pada 4 Januari 2026 dini hari, salah satu struktur jembatan kembali tertabrak hingga menyebabkan salah satu pilar mengalami kerusakan rompal.
  • Dan inseiden ketiga pada 25 Januari 2026, tertabraknya kembali fender dan pilar di Pilar P9 dan P10, namun secara visual tidak mengalami kerusakan yang serius.

Baca juga: Jadwal dan Tarif Damri Hari Ini, Lengkap Rute Tanjung Selor ke Berau hingga Samarinda

Jembatan Mahulu (Mahakam Ulu) menghubungkan kelurahan Loa Buah, Sungai Kunjang dengan kelurahan Sengkotek, Samarinda Seberang di Kota Samarinda.

Jembatan yang membentang di atas aliran sungai Mahakam ini memiliki panjang keseluruhan sekitar 799 meter.

Jembatan yang menjadi jalur utama kendaraan berat keluar masuk Kota Samarinda.

Hasil Uji Coba Pertama

Kepala Bidang Bina Marga DPUPR-PERA Kaltim, Muhammad Muhran menjelaskan pengujian ini merupakan respons terhadap insiden ketiga ditabrak oleh tongkang.

"Jadi ingin menyampaikan kembali bahwa kami melakukan kembali uji dinamis dan uji non destructive test (NDT) ini karena kejadian di tanggal 25 Januari 2026," ujarnya.

Muhran bilang pengujian kali ini menggunakan tenaga ahli yang sama dengan pengujian sebelumnya.

Dia juga menambahkan, pengujian kedua jni sebenarnya ingin dilakukan sesegera mungkin, namun tim uji tengah berada di Ambon sehingga baru bisa dilaksanakan.

Untuk hasil pengujian ini, nantinya akan keluar dalam waktu seminggu dari dilaksanakannya pengujian.

Muhran juga membeberkan hasil uji dinamis dan uji NDT pertama pada Sabtu (17/1/2026) lalu yang menunjukkan jembatan masih dalam kondisi aman.

"Jadi yang kemarin hasil pertama adalah memang kondisi ini sebenarnya jembatan kita sehat dan aman sebenarnya. Tetapi kami menyampaikan kembali ke masyarakat, kami artinya mengambil langkah kehati-hatian. Karena dengan tabrakan ketiga tentu saja kita juga belum bisa memastikan," paparnya.

Tim Ahli UGM Pantau

Proses evaluasi mendalam terhadap kondisi struktur Jembatan Mahulu Samarinda pascainsiden ditabrak tongkang untuk ketiga kalinya terus berlanjut.

Tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan pengujian struktur pada Jembatan Mahulu, Rabu (4/2/2026).

Mereka melakukan pemetaan teknis untuk memastikan sejauh mana dampak benturan tersebut memengaruhi kekuatan jembatan yang menjadi nadi distribusi logistik di Kota Samarinda.

Tenaga Ahli Struktur Universitas Gadjah Mada (UGM), Christopher Triyoso, menjelaskan pihaknya fokus melakukan pengujian getaran atau yang secara teknis disebut sebagai uji dinamik.

Christopher bilang pihaknya melakukan pengujian dengan melihat getaran untuk selanjutnya menentukan tingkat kekakuannya pada struktur jembatan.

"Kita akan melihat getaran pada jembatan tersebut memiliki frekuensi berapa. Jadi setiap struktur di dunia itu pasti memiliki suatu getaran, dan getaran itu berkaitan dengan kekakuan struktur tersebut. Nah, apabila kekakuannya berubah, maka frekuensi dari struktur itu juga akan berubah," jelas Christopher Triyoso saat ditemui di sela pengujian.

Dalam proses pengujian ini, tim menggunakan satu unit truk roda enam jenis Mitsubishi Canter dengan bobot sekitar delapan ton.

Truk tersebut dijalankan melewati bidang kejut berupa plat besi dengan ketinggian sekitar 20 cm dari permukaan aspal, hentakan truk kemudian menghasilkan getaran mendadak pada struktur jembatan.

Terkait teknis di lapangan, pengujian difokuskan pada satu bentang yang berkaitan langsung dengan pilar jembatan yang sempat tertabrak tongkang.

Mengenai parameter kesehatan jembatan, Christopher merujuk pada regulasi dari Surat Edaran Bina Marga.

Indikator utama yang digunakan adalah perbandingan antara nilai frekuensi saat ini dengan data pengujian sebelumnya.

"Itu selisihnya itu maksimal 5 persen, tapi apabila belum ada pengujian sebelumnya, maka kita akan periksa terhadap pemodelan tiga dimensi," ungkapnya.

Masyarakat diharapkan bersabar menanti status final dari kelayakan Jembatan Mahulu.

Pasalnya, data yang telah dihimpun dari lapangan tidak bisa langsung disimpulkan secara instan karena membutuhkan waktu analisis yang cukup detail.

"Kira-kira seminggu untuk kita memproses datanya," pungkas Christopher.

Hasil dari analisis frekuensi dan pemodelan 3D ini nantinya akan menjadi dasar rekomendasi bagi pemerintah daerah untuk menentukan langkah selanjutnya di Jembatan Mahulu. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.