BPBD Kutim Tingkatkan Kewaspadaan Banjir di Sangatta, Debit Air Sungai dan Drainase Jadi Sorotan
February 05, 2026 02:07 PM

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - BPBD Kutai Timur siaga banjir di Sangatta dengan meningkatkan kewaspadaan menyusul kenaikan debit air di sejumlah wilayah perkotaan. 

Langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap cuaca ekstrem yang mulai berdampak pada aktivitas masyarakat di bantaran sungai dan pusat kota.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur mengerahkan tim reaksi cepat untuk memastikan keselamatan warga sekaligus memetakan potensi risiko banjir yang lebih besar.

Pemantauan dilakukan secara intensif di berbagai titik rawan guna menentukan langkah mitigasi lanjutan.

Kepala BPBD Kutai Timur, Sulastin, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah melakukan pemantauan intensif di berbagai titik rawan, terutama di kawasan bantaran sungai.

Baca juga: Tragedi di Bengalon, Balita Tiga Tahun Tewas Tenggelam Usai Terpeleset ke Parit

Menurutnya, kenaikan permukaan air yang terjadi saat ini merupakan dampak langsung dari kondisi geografis pemukiman yang berada di jalur aliran sungai.

BPBD berkomitmen untuk terus memperbarui data lapangan guna menentukan langkah mitigasi selanjutnya.

Selain wilayah bantaran, perhatian serius juga diarahkan pada pusat kota yang kerap mengalami genangan air akibat buruknya sistem drainase.

Sulastin menjelaskan bahwa karakteristik banjir di tengah kota cenderung dipicu oleh sumbatan pada saluran air yang tidak mampu menampung volume hujan dalam waktu singkat.

Koordinasi antar instansi kini diperkuat untuk meminimalisir dampak gangguan mobilitas warga.

Baca juga: Waspada! Debit Sungai Sangatta Mulai Meluap, Begini Kondisi Terkini Pasokan Air Bersih di Kutim

"Ya, banjir ini sudah kita pantau. Kan banjir di sini nih kan memang yang banjir di bantaran sungai semua tuh. Ya, itu sudah kita pantau dan ada beberapa juga yang misalnya di tengah kota itu kan karena drainase," ujar Sulastin, Kamis (5/2/2026).

Dalam menjalankan tugas di lapangan, BPBD tidak bekerja sendiri melainkan menggandeng berbagai pihak, mulai dari tim relawan hingga pemerintah tingkat kecamatan.

Kolaborasi ini dianggap krusial agar penyampaian informasi dan proses evakuasi, jika dibutuhkan, dapat berjalan lebih sistematis dan cepat.

Setiap titik banjir kini dijaga oleh personel khusus yang bertugas melaporkan perkembangan tinggi muka air secara berkala.

Sulastin memaparkan bahwa fluktuasi air saat ini masih cukup dinamis, di mana kenaikan dan penurunan debit air terjadi dalam interval waktu yang singkat.

Baca juga: 5 Daerah yang Paling Rentan Korupsi di Kalimantan Timur, Potensi KKN Tinggi

Di beberapa wilayah seperti IPA Kabo, tinggi air sempat naik beberapa sentimeter sebelum akhirnya surut kembali dalam hitungan jam.

Kondisi yang tidak menentu ini menuntut tim lapangan untuk tetap berada di posisi siaga tanpa lengah sedikit pun.

Fokus utama BPBD sebagai lembaga koordinatif adalah memastikan seluruh elemen pendukung penanggulangan bencana siap bergerak kapan saja.

Tim TRC BPBD sudah disebar ke masing-masing titik yang dianggap kritis sebagai bahan laporan komprehensif kepada pimpinan daerah.

Hal ini dilakukan agar setiap keputusan yang diambil berdasarkan data riil dari pantauan langsung di lapangan.

Baca juga: Pengedar Sabu Ditangkap di Sangatta Utara, 10 Paket Disembunyikan di Bawah Pohon Pinang

"Tapi tim TRC BPBD sudah turun, kita tugaskan ke masing-masing titik banjir memantau itu gitu. Sebagai bahan laporan kita," terangnya.

Melihat tren cuaca saat ini, BPBD mengimbau masyarakat untuk mewaspadai rilis peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG.

Berdasarkan prakiraan iklim, curah hujan tinggi diprediksi akan terus berlangsung sepanjang bulan Februari hingga Maret 2026 mendatang.

Tingginya intensitas hujan ini menjadi pemicu utama terjadinya genangan di wilayah-wilayah yang tidak memiliki sistem pembuangan air yang memadai.

Pihaknya juga memanfaatkan media sosial dan saluran komunikasi digital lainnya untuk menyebarkan informasi peringatan dini kepada warga secara luas.

Baca juga: Petani Bengalon Kutim Tewas Tertimpa Pohon Ulin Saat Berkebun, Istri Histeris

Masyarakat diminta untuk terus memantau pembaruan status kebencanaan agar bisa melakukan langkah antisipatif secara mandiri di lingkungan masing-masing.

Kesadaran warga dalam menjaga kebersihan drainase juga menjadi faktor penentu dalam mengurangi risiko banjir perkotaan.

Sulastin menekankan bahwa kewaspadaan kolektif adalah kunci utama dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di Kutai Timur.

Seluruh tim teknis dipastikan akan tetap memantau situasi selama 24 jam penuh demi menjamin rasa aman bagi masyarakat Sangatta dan sekitarnya.

"Karena dalam peringatan dini BMKG, curah hujan untuk Februari sampai Maret ini cukup tinggi, curah hujannya gitu. Nah, maka dari itu kan kita sudah membuat peringatan dini kepada masyarakat untuk selalu waspada," tutupnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.