BANGKAPOS.COM -- Inilah sosok Khoirul Anam satpam yang memiliki prestasi akademik cemerlang.
Satpam satu ini bukan sembarang satpam.
Siapa sangka, sehari-hari menjaga kemanan dan melayani nasabah Khoirul Anam ternyata adalah seorang satpam yang berpendidikan mentereng.
Saat ini ia berprofesi sebagai satpam di BRI Kantor Cabang Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Seragam kuning yang dikenakannya setiap hari kerap membuat orang tak menyangka bahwa ia telah mengantongi gelar magister, dua gelar sarjana, serta puluhan karya ilmiah.
Anam, sapaan akrabnya, rupanya telah menuntaskan pendidikan S2 Manajemen di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma.
Tak berhenti di jenjang itu, ia juga dua kali menempuh pendidikan sarjana di bidang berbeda.
Gelar S1 Manajemen ia raih dari Universitas Pamulang melalui kelas karyawan sejak 2019.
Baca juga: Inilah 10 Orang Terkaya per Februari 2026 Versi Forbes, Pemilik X Urutan Pertama
Sementara itu, gelar sarjana lainnya diperolehnya dari S1 Pendidikan Agama Islam di STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah.
Menjalani pendidikan tinggi sembari bekerja sebagai satpam bukanlah perjalanan yang mudah.
Anam mengakui tantangan terbesar yang harus ia hadapi adalah membagi waktu antara pekerjaan dan kewajiban akademik.
“Untuk kesulitannya paling pengelolaan waktu. Terkadang kita korbankan waktu tidur untuk menyelesaikan penelitian,” ujarnya saat ditemui Kompas.com pada Selasa (3/2/2026).
Namun, keterbatasan waktu tak menghalanginya untuk terus berkarya. Di sela-sela tugas menjaga keamanan, Anam justru aktif menulis dan meneliti.
Hingga kini, ia telah menerbitkan delapan buku ber-ISBN yang terdaftar di Perpustakaan Nasional.
Produktivitas itu belum berhenti, karena tiga buku lainnya masih dalam proses penulisan melalui program kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan lewat Dana Indonesiana.
“Untuk karya buku, yang sudah publikasi sekitar delapan buku dan tiga buku lagi sedang saya garap sekarang,” ucapnya.
Tak hanya buku, Anam juga konsisten menulis karya ilmiah. Total 13 karya ilmiah telah dipublikasikannya di jurnal nasional maupun internasional.
Selain itu, dua jurnal lainnya diserahkan ke kampus sebagai bagian dari penyelesaian skripsi dan tesis.
Atas pencapaian luar biasa tersebut, Anam menorehkan namanya dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai satpam dengan karya ilmiah terbanyak. Penghargaan itu diterimanya pada Jumat (30/1/2026).
Biaya jadi tantangan
Kendati demikian, perjalanan akademiknya tak lepas dari kendala biaya. Menurut Anam, publikasi jurnal bereputasi membutuhkan dana yang tidak sedikit.
“Kalau saya sih jujur dari segi pendanaan untuk publikasinya sih. Karena untuk publikasi jurnal maupun buku itu memerlukan biaya,” katanya.
Karena keterbatasan tersebut, ia harus menyesuaikan pilihan media publikasi dengan penghasilannya sebagai satpam.
Meski begitu, Anam tetap menyimpan harapan agar karya-karyanya dapat terbit di jurnal bereputasi tinggi.
“Sangat pengin sih, Pak. Penginnya itu karya tulis saya itu terakreditasi mungkin Sinta 2, Sinta 3 begitu, atau Scopus 3, Scopus 4 gitu ya. Tetapi untuk karena biaya tadi ya untuk dari saya belum bisa gitu,” katanya.
Saat ditemui di tempat kerjanya, Anam tampak menjalani aktivitas seperti hari-hari biasa. Ia berdiri di pintu masuk BRI Tanjung Priok, menyambut nasabah dengan senyum ramah, sekaligus mengarahkan mereka sesuai kebutuhan layanan.
Namun, di balik rutinitas itu, tersimpan perjalanan hidup yang tidak mudah. Anam merantau dari Kabupaten Tanggamus, Lampung, ke Jakarta pada 2018 dengan bekal yang sangat terbatas.
“Saya nekat berangkat dari Lampung ke Jakarta cuma bermodal Rp1 juta untuk bertahan hidup,” tuturnya.
Di tahun yang sama, cobaan berat menghampiri. Anam jatuh sakit parah hingga harus menjalani masa koma. Kondisi tersebut bahkan sempat membuat keluarganya khawatir dan pesimistis terhadap peluangnya untuk bertahan hidup.
Pengalaman berada di ambang maut itu justru menjadi titik balik bagi Anam. Ia menganggapnya sebagai kesempatan kedua untuk menjalani hidup dengan lebih baik.
“Dari sakit itu justru muncul motivasi. Saya merasa punya umur kedua, dan di umur yang kedua ini saya harus jadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Kini, Anam terus melangkah maju. Ia bertekad melanjutkan pendidikan dan menekuni dunia menulis. Di masa depan, Anam bercita-cita mengabdikan dirinya sebagai seorang pengajar.
(Kompas.com/TribunTrends.com/Bangkapos.com)