Gubernur NTT Merasa Malu dan Gagal, Bocah SD Akhiri Hidup karena Tekanan Ekonomi
February 05, 2026 05:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Kupang - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena (49), merasa malu karena ada bocah sekolah dasar (SD) mengakhiri hidup karena terlilit masalah ekonomi.  

Sebelumnya YBR (10) seorang siswa kelas IV SDN Rutowaja, Desa Nenawea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga mengakhiri hidup di pohon cengkih, Kamis (29/1/2026) siang.

Saat ditemukan, korban tampak mengenakan baju olahraga berwarna merah. Informasi yang diperoleh dari warga setempat, korban sempat minta dibelikan buku dan pena sebelum meregang nyawa. 

Emanuel menyatakan rasa malu sebagai kepala daerah atas peristiwa tersebut. Menurutnya, negara dan pemerintah daerah telah lalai dalam melindungi warganya, terlebih anak-anak.

"Malu saya sebagai gubernur. Masa ada warga negara yang mati karena hal seperti ini. Kalau ini terjadi, berarti kita gagal mengurus warga kita sendiri," jelas Gubernur Melki Laka Lena dengan suara keras saat menghadiri acara Launching Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, dikutip dari PosKupang, Rabu (4 /2/2026).

Baca juga: Bocah SD Akhiri Hidup, Komnas Anak Bandar Lampung Sebut Jadi Peringatan

Mantan anggota DPR RI itu menegaskan, korban meninggal bukan karena persoalan sepele, melainkan karena kemiskinan yang tidak tertangani oleh sistem pemerintahan dan sosial.

"Di saat kita duduk dengan nyaman, ada seorang warga Indonesia asal NTT, khususnya di Kabupaten Ngada, yang mati karena dia miskin," ujarnya.

Untuk memastikan informasi tersebut, gubernur mengaku telah menghubungi langsung pimpinan daerah setempat. Namun hingga beberapa waktu, tidak mendapat respons.

"Saya kirim pesan WhatsApp ke pimpinan daerahnya, tapi lama sekali responnya. Karena itu saya perintahkan orangsaya untuk turun langsung mengecek ke lapangan," ungkapnya.

Ia juga menyesalkan sikap Pemerintah Kabupaten Ngada yang hingga Selasa 3 Februari 2026 malam yang belum mengunjungi rumah duka.

"Tadi malam saya cek terakhir, belum ada Pemda atau perwakilan yang pergi untuk mengucapkan turut berduka cita. Itu gila namanya," ujarnya.

Melki menilai peristiwa ini sebagai kegagalan menyeluruh, tidak hanya pemerintah, tetapi juga pranata sosial dan keagamaan.

"Pranata agama gagal, pranata sosial gagal, pemerintahan juga gagal, sampai orang bisa mati karena miskin seperti ini," tegasnya.

Ia menekankan agar kejadian serupa tidak boleh terulang kembali di wilayah NTT dan meminta seluruh kepala daerah lebih peka serta hadir secara nyata di tengah masyarakat.

"Kejadian seperti di Ngada ini harus menjadi yang pertama dan terakhir," kata Gubernur Melki.

Politikus Partai Golkar itu meminta agar semua perangkat sosial diaktifkan guna meminimalisir kejadian serupa terulang. Ia menyebut, ada cukup anggaran untuk mengurai masalah seperti ini. 

"Guna apa kita punya perangkat seperti PKH, perangkat sosial segala macam. Uang ngalir triliunan ke NTT urusan orang miskin. Masih ada yang mati, gak boleh. Ini terakhir, gak boleh ada orang mati karena abai begini," ujarnya. 

Secara khusus, Melki meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT agar ikut memperhatikan pendidikan di level SD dan SMP, sekalipun bukan kewenangan Provinsi. Mestinya, pimpinan di instansi itu ikut merasa malu. 

"Mestinya malu. Saya ini Menteri WA, saya malu mau jawab apa. Sudah ada yang mati, atensi nasional. Cukup sudah. Kita kerja sama. Harus ada pertobatan bersama," katanya. 

Desa Nenawea berjarak sekitar 19 Km dari Bajawa, pusat pemerintahan Kabupaten Ngada, atau 536 km dari Kota Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur. Desa Nenawea berada di Pulau Flores sementara Kupang berada di Pulau Timor. Kedua pulau ini dipisahkan Laut Sawu

Menurut Gubernur, kejadian ini menunjukkan lemahnya fungsi sosial pemerintah daerah, meskipun terdapat berbagai program bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan program sosial lainnya.

"Untuk apa pemerintah punya program sosial kalau kejadian seperti ini masih terjadi. Uang pemerintah NTT triliunan ada untuk warga miskin, tapi bagaimana masih ada yang meninggal karena persoalan seperti ini," katanya.

Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak boleh terulang kembali. Gubernur Melki juga meminta agar perangkat sosial di tingkat RT dan RW ditingkatkan untuk memastikan warga miskin mendapatkan perhatian dan bantuan.

"Kejadian ini harus menjadi yang pertama dan terakhir. Perangkat sosial RT/RW harus dihidupkan. Kalau ada warga miskin, kita urus. Walaupun uang terbatas, kita ada," kata dia.

Selain itu, dia meminta Pemerintah Kabupaten Ngada untuk memberikan perhatian serius terhadap makam korban. 

"Kuburan anak itu tidak boleh dengan tanah, kuburkan dia dengan layak," tegasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.