Mengenal Cyanotype: Sejarah & Proses Teknik Cetak Biru Klasik Fotografi
February 05, 2026 04:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Di tengah dominasi fotografi digital yang serba instan, teknik cetak fotografi klasik kembali menarik perhatian para seniman dan fotografer.

Salah satu metode yang terus bertahan lintas zaman adalah cyanotype, teknik pencetakan fotografi berwarna biru yang telah dikenal sejak abad ke-19.

Dengan proses sederhana yang memanfaatkan cahaya matahari dan reaksi kimia berbasis garam besi, cyanotype menawarkan pengalaman visual sekaligus historis yang berbeda dari praktik fotografi modern.

Baca juga: Teori Warna dalam Fotografi: Cara Memperkuat Emosi dan Makna Foto

Apa Itu Cyanotype?

cetak cyanotype fotografi
Cetak Cyanotype

Cyanotype adalah salah satu teknik pencetakan fotografi tertua yang dikenal dengan hasil cetak berwarna biru cyan atau prussian blue yang khas.

Proses ini termasuk dalam kategori fotografi alternatif dan telah digunakan sejak abad ke-19 sebagai metode pencitraan yang sederhana, ekonomis, dan relatif aman dibandingkan teknik fotografi konvensional lainnya.

Teknik cyanotype ditemukan pada tahun 1842 oleh Sir John Herschel, seorang ilmuwan Inggris yang dikenal sebagai polymath karena kontribusinya di berbagai bidang, mulai dari astronomi, matematika, kimia, hingga fotografi.

Herschel mengembangkan cyanotype sebagai solusi untuk mereproduksi catatan ilmiah dan diagram teknis secara efisien.

Secara etimologis, kata cyan berasal dari bahasa Yunani kyanos yang berarti biru tua.

Warna inilah yang menjadi ciri utama dari hasil cetak cyanotype, memberikan kesan visual yang kuat, kontras tinggi, dan estetika yang unik.

Dibandingkan dengan proses fotografi berbasis garam perak yang memerlukan kamar gelap dan bahan kimia berbahaya, cyanotype menawarkan pendekatan yang lebih sederhana.

Proses ini hanya membutuhkan sinar ultraviolet, yang dapat berasal dari sinar matahari langsung, serta larutan garam besi yang relatif tidak beracun.

Kesederhanaan proses dan karakter visualnya yang khas membuat cyanotype tidak hanya digunakan sebagai metode dokumentasi, tetapi juga berkembang menjadi medium seni.

Dari dokumentasi botani hingga eksplorasi abstrak modern, cyanotype terus bertahan dan berevolusi sebagai teknik cetak fotografi yang relevan hingga hari ini.

Sejarah Cyanotype

Sir John Herschel pertama kali mengembangkan cyanotype pada tahun 1842.

Pada masa itu, fotografi masih berada dalam tahap eksperimental dan terus mencari metode pencitraan yang lebih stabil serta mudah direproduksi.

Herschel memanfaatkan reaksi kimia antara dua senyawa berbasis besi yang ketika terkena sinar ultraviolet akan menghasilkan pigmen biru yang tahan lama.

Pada awal penggunaannya, cyanotype difungsikan sebagai alat reproduksi dokumen.

Teknik ini kemudian dikenal luas sebagai blueprint, yang digunakan dalam bidang teknik dan arsitektur untuk menggandakan gambar teknis dan rancangan bangunan.

Perkembangan cyanotype tidak dapat dilepaskan dari peran Anna Atkins, seorang ahli botani dan fotografer Inggris.

Pada tahun 1843, Atkins menggunakan cyanotype untuk mendokumentasikan spesimen ganggang laut Inggris dalam sebuah buku berjudul Photographs of British Algae: Cyanotype Impressions.

Karya tersebut dianggap sebagai buku pertama di dunia yang sepenuhnya menggunakan ilustrasi fotografi.

Melalui cyanotype, Atkins tidak hanya memberikan kontribusi besar pada dunia sains, tetapi juga membuka jalan bagi penggunaan fotografi sebagai alat dokumentasi ilmiah yang akurat dan artistik.

Dalam konteks sejarah, cyanotype juga memiliki nilai penting sebagai medium yang mempertemukan sains, seni, dan teknologi.

Teknik ini menjadi bukti awal bagaimana cahaya dan kimia dapat bekerja bersama untuk menciptakan citra visual yang bertahan lintas generasi.

Prinsip Dasar Cyanotype: Perpaduan Cahaya dan Kimia

Cyanotype bekerja berdasarkan prinsip reaksi kimia yang dipicu oleh paparan sinar ultraviolet.

Proses ini melibatkan dua bahan kimia utama, yaitu Ferric Ammonium Citrate dan Potassium Ferricyanide.

Ketika kedua larutan tersebut dicampur dan dioleskan pada permukaan kertas atau kain, material tersebut menjadi peka terhadap cahaya.

Paparan sinar ultraviolet akan mengubah ion besi dalam larutan menjadi bentuk yang bereaksi dengan Potassium Ferricyanide, menghasilkan pigmen biru stabil yang dikenal sebagai prussian blue.

Bagian permukaan yang terkena cahaya akan berubah warna, sementara area yang tertutup objek atau negatif akan tetap terang.

Proses inilah yang membentuk gambar akhir pada cetakan cyanotype.

Keunikan cyanotype terletak pada sifatnya yang langsung dan intuitif.

Seniman dapat melihat proses pembentukan gambar secara nyata, menjadikan teknik ini menarik untuk eksplorasi artistik dan edukasi fotografi.

Komponen Kimia dalam Proses Cyanotype

Bahan Kimia Utama

Dua bahan kimia utama yang digunakan dalam cyanotype adalah:

  • Ferric Ammonium Citrate (Hijau)
  • Potassium Ferricyanide

Kedua bahan ini dicampur dalam perbandingan yang sama untuk menghasilkan larutan peka cahaya.

Takaran Larutan Cyanotype

Untuk menyiapkan larutan cyanotype standar, diperlukan komposisi sebagai berikut:

  • 25 gram Ferric Ammonium Citrate (hijau) dilarutkan dalam 100 ml air
  • 10 gram Potassium Ferricyanide dilarutkan dalam 100 ml air

Kedua larutan ini disimpan terpisah dan baru dicampur saat akan digunakan.

Campuran inilah yang kemudian diaplikasikan ke permukaan media cetak.

Ramuan ini menjadi fondasi utama dalam seni cyanotype, tempat cahaya dan kimia saling berinteraksi untuk menghasilkan visual biru yang khas dan tahan lama.

Bahan dan Peralatan yang Digunakan

Media Cetak

Cyanotype dapat diaplikasikan pada berbagai media berbahan serat alami.

Media yang paling umum digunakan adalah kertas dan kain.

Kertas yang ideal untuk cyanotype adalah kertas seni atau kertas cat air berbahan 100 persen kapas.

Kertas jenis ini memiliki daya serap yang baik sehingga larutan cyanotype dapat meresap secara merata.

Untuk kain, bahan yang disarankan adalah katun, linen, atau sutra berwarna terang.

Serat alami memungkinkan reaksi kimia berjalan optimal dan menghasilkan warna biru yang lebih kuat.

Peralatan Pendukung

Selain media cetak dan bahan kimia, proses cyanotype juga memerlukan peralatan tambahan seperti kuas atau spons untuk mengoleskan larutan, wadah pencampur, sumber sinar UV, serta air bersih untuk proses pembilasan.

Tahapan Proses Cyanotype

1. Pelapisan Media

Langkah pertama dalam pembuatan cyanotype adalah melapisi permukaan kertas atau kain dengan larutan campuran Ferric Ammonium Citrate dan Potassium Ferricyanide.

Pelapisan harus dilakukan secara merata untuk memastikan hasil cetak yang konsisten.

Setelah dilapisi, media harus dikeringkan di tempat gelap atau minim cahaya untuk mencegah reaksi kimia sebelum proses pemaparan.

2. Pemaparan Sinar UV

Media yang telah kering kemudian dipaparkan pada sinar ultraviolet.

Objek, daun, atau negatif foto dapat diletakkan di atas permukaan untuk membentuk gambar.

Pemaparan di bawah sinar matahari biasanya memerlukan waktu sekitar 5 hingga 20 menit, tergantung intensitas cahaya.

Jika menggunakan lampu UV, waktu pemaparan dapat bervariasi sesuai kekuatan lampu.

3. Pembilasan dan Pengembangan

Setelah pemaparan selesai, cetakan dibilas dengan air bersih.

Proses pembilasan ini akan menghentikan reaksi kimia dan menghilangkan sisa bahan yang tidak bereaksi.

Seiring pembilasan, warna biru akan semakin muncul dan menguat hingga mencapai intensitas maksimal.

Proses ini berlangsung hingga air bilasan menjadi jernih.

4. Tahap Pasca-Proses dan Eksperimen Warna

Untuk mengubah nada warna atau meningkatkan stabilitas cetakan, cyanotype dapat melalui tahap pasca-proses.

Beberapa seniman menggunakan larutan hydrogen peroxide yang diencerkan untuk mempercepat penguatan warna biru.

Selain itu, cyanotype juga dapat diberi toner alami seperti teh, kopi, atau anggur untuk menghasilkan variasi warna mulai dari cokelat keemasan hingga abu-abu keunguan.

Eksperimen ini memperluas kemungkinan artistik cyanotype dan memberikan kebebasan bagi seniman untuk mengeksplorasi karakter visual yang berbeda.

Daya Tarik Cyanotype di Era Modern

Meski berasal dari abad ke-19, cyanotype tetap relevan di era fotografi digital.

Banyak seniman dan fotografer tertarik pada proses manual yang ditawarkan cyanotype sebagai bentuk perlawanan terhadap produksi gambar instan.

Teknik ini juga banyak digunakan dalam dunia pendidikan karena prosesnya yang mudah dipahami dan aman.

Cyanotype mengajarkan prinsip dasar fotografi, kimia cahaya, serta pentingnya eksperimen dalam seni visual.

Dengan perpaduan sejarah, sains, dan estetika, cyanotype menjadi lebih dari sekadar teknik cetak.

Ia adalah bentuk dialog antara masa lalu dan masa kini, antara cahaya, kimia, dan kreativitas manusia.

Baca juga: Panduan Artificial Lighting: Cara Menggunakannya dalam Fotografi

Cyanotype membuktikan bahwa fotografi tidak selalu bergantung pada teknologi mutakhir.

Dengan mengombinasikan cahaya dan kimia, teknik ini menghadirkan proses penciptaan gambar yang bernilai edukatif dan artistik. 

Dari fungsi awal sebagai alat dokumentasi ilmiah hingga berkembang menjadi medium ekspresi seni, cyanotype tetap relevan dan terus dieksplorasi oleh berbagai kalangan.

Di balik warna biru yang khas, cyanotype menyimpan sejarah panjang sekaligus ruang kreatif yang terbuka luas bagi siapa pun yang ingin memahami fotografi dari akar paling mendasarnya. (MG Daffa Aisha Ramadhani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.