Teka-teki Sosok Mr. J Terjawab, Ini Alasan PSI Baru Ungkap Jokowi Jabat Ketua Dewan Pembina
February 05, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id – Setelah sekian lama beredar sebagai bisik-bisik di koridor politik nasional, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) akhirnya mulai melepas topeng atas sosok misterius bertajuk Mr. J.

Nama yang selama ini hanya ditulis satu huruf dalam struktur resmi partai itu ternyata bukan figur sembarangan. Ia adalah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Pengakuan ini memang belum disampaikan lewat deklarasi formal, tetapi sinyal-sinyalnya kian terang.

Pernyataan elite PSI dan gestur politik Jokowi sendiri membuat publik tak lagi sekadar menduga, melainkan membaca arah besar permainan politik yang sedang disusun.

PSI Tak Lagi Menampik Identitas ‘Mr. J’

Politisi PSI, Furqan AMC, secara terbuka menyebut bahwa publik sejatinya sudah lama mampu menebak siapa sosok di balik kode Mr. J.

Ia menilai pernyataan Jokowi dalam Rakernas PSI di Makassar menjadi penegasan yang sulit dibantah.

"Saya kira publik sudah bisa menduga-duga dengan tepat J itu sesungguhnya adalah Pak Jokowi," ungkap Furqan dalam program dialog Overview Tribunnews, dikutip SURYA.co.id, Rabu (4/2/2026).

Menurut Furqan, pengumuman resmi Jokowi sebagai Ketua Dewan Pembina PSI tinggal menunggu momentum yang tepat, yakni rampungnya struktur kepengurusan partai hingga tingkat paling bawah.

"Insya Allah setelah itu selesai rampung, tentu itu akan menjadi momentum mulia dan membanggakan untuk mengumumkan sosok Dewan Pembina itu adalah Pak Jokowi," ujarnya.

Namun, Furqan menegaskan, tanpa deklarasi formal pun, sikap Jokowi sudah berbicara banyak.

"Namun tanpa menunggu itu pun, publik sudah bisa meraba-raba dan menduga dari pernyataan tegas Pak Jokowi yang akan siap bekerja mati-matian untuk PSI, bekerja keras untuk PSI, saya kira itu sudah sangat lugas," imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, dalam pengumuman Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI periode 2025–2030 di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Jumat (26/9/2025), posisi Ketua Dewan Pembina memang hanya ditulis dengan satu huruf: J.

Sementara Grace Natalie tercatat sebagai Sekretaris Dewan Pembina, dengan Kaesang Pangarep, Raja Juli Antoni, dan Christian Widodo sebagai anggota.

Peran Strategis Dewan Pembina dalam Peta Kekuasaan Partai

Dalam struktur partai politik di Indonesia, posisi Dewan Pembina bukan sekadar simbol.

Berdasarkan praktik umum AD/ART partai, Dewan Pembina memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah ideologis, garis strategis, hingga keputusan politik jangka panjang.

Dengan menempatkan Jokowi di posisi ini, PSI seolah mengamankan otoritas moral dan politik seorang mantan presiden tanpa harus menyeretnya ke struktur harian partai.

Ini adalah langkah cerdas: Jokowi tetap memiliki daya pengaruh maksimal, tetapi dengan risiko politik yang minimal.

Langkah “membuka kartu” sekarang juga tak bisa dilepaskan dari konteks pasca-kepresidenan Jokowi.

Setelah tak lagi menjabat, Jokowi membutuhkan kendaraan politik yang mampu menjaga kesinambungan gagasan dan jaringan pengaruhnya.

PSI, yang dipimpin putra bungsunya sendiri, Kaesang Pangarep, menjadi ruang paling logis.

Arah Politik PSI ke Depan

Komitmen Jokowi terhadap PSI bukan sekadar retorika.

Dalam penutupan Rakernas PSI di Makassar, Sabtu (31/1/2026), Jokowi secara terbuka menyatakan kesiapannya bekerja total untuk partai berlambang gajah tersebut.

"Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, kita perlu jajaran pengurus yang militan. Saudara-saudara bekerja keras untuk PSI? Saya pun akan bekerja keras untuk PSI!" kata Jokowi di atas panggung Rakernas I PSI.

Bahkan, mantan Wali Kota Solo itu menegaskan kesediaannya bekerja tanpa kompromi.

"Saudara-saudara bekerja mati-matian untuk PSI? Saya pun akan bekerja keras, bekerja mati-matian untuk PSI! Saudara-saudara bekerja habis-habisan untuk PSI? Saya pun akan bekerja habis-habisan untuk PSI!" tegas Jokowi.

Pernyataan tersebut langsung disambut riuh oleh ribuan kader.

"Siap, siap siap, pak Jokowi, Jokowi, Jokowi, Jokowi!" teriak para kader PSI.

Secara strategis, identitas resmi Jokowi sebagai Dewan Pembina berpotensi mendongkrak elektabilitas PSI, terutama di basis pemilih loyal Jokowi.

Di sisi lain, ini juga menguatkan posisi PSI dalam peta koalisi nasional, baik sebagai mitra pemerintah maupun kekuatan penyeimbang yang tetap berada di orbit kekuasaan.

Sejarah kedekatan Jokowi dengan PSI pun bukan hal baru.

Jokowi kerap hadir dalam acara-acara penting PSI, termasuk perayaan ulang tahun partai, dan secara konsisten memberi dukungan moral sejak PSI masih berjuang menembus ambang batas parlemen.

Jokowi Berupaya 'Mengunci' Prabowo di Pilpres 2029

Sementara itu, M Jamiluddin Ritonga, Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul menilai Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) berupaya "mengunci" Prabowo Subianto agar tetap berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mendatang.

Penilaian Jamiluddin Ritonga ini menanggapi pernyataan Jokowi terkait peluang Gibran Rakabuming Raka menjadi calon presiden pada Pemilu berikutnya.

“Kan sudah saya sampaikan, Prabowo-Gibran dua periode,” ungkap Jokowi saat ditemui Tribun Solo di kediamannya di Solo, Jawa Tengah, Jumat (30/1/2026).

Menurut Jamiluddin, langkah Jokowi yang menyatakan mendukung Prabowo-Gibran dua periode merupakan upaya mendahului partai-partai koalisi.

"Jokowi tampaknya ingin mendahului partai koalisi dalam hal mengusung Prabowo-Gibran pada Pilpres 2029. Padahal partai lain, seperti PKB, hanya menegaskan akan mengusung kembali Prabowo tanpa menyebut Gibran," kata Jamiluddin kepada wartawan, Kamis (5/2/2026).

Ia juga menyoroti aspirasi dari kader Partai Gerindra yang sebelumnya meminta Prabowo bersedia dicalonkan kembali. 

Serupa dengan PKB, usulan tersebut hanya fokus pada sosok Prabowo tanpa menyertakan nama pendamping.

Menurut Jamiluddin, kondisi inilah yang kemungkinan mendorong Jokowi untuk bergerak lebih cepat dibandingkan partai politik lain.

"Mungkin hal itu yang menyebabkan Jokowi coba mendahului partai lain. Dengan begitu, Jokowi berharap ketua partai lain yang masih loyalisnya, akan mengikutinya," ujarnya. 

Lebih lanjut, Jamiluddin menganalisis bahwa manuver ini bertujuan untuk menekan Prabowo baik secara psikologis maupun politis.

Jokowi dinilai ingin menciptakan situasi di mana Prabowo merasa "serba salah" jika harus menolak Gibran sebagai calon wakil presidennya di masa depan.

"Jadi, Jokowi coba menekan Prabowo secara psikologis dan politis untuk menerima Gibran jadi cawapresnya pada Pilpres 2029. Dengan begitu, Prabowo coba dikunci untuk tidak punya pilihan lain selain Gibran," tuturnya. 

Jamiluddin menambahkan, motif utama di balik langkah Jokowi yang terkesan "ngebet" ini adalah demi kelangsungan karier politik putra sulungnya.

Sebab, tanpa berpasangan dengan Prabowo, posisi tawar Gibran untuk kembali menduduki kursi RI-2 dinilai cukup lemah.

"Jokowi hanya berharap Gibran akan tetap bisa menjadi Wapres bila berpasangan dengan Prabowo. Kiranya itulah motif Jokowi terkesan ngebet menjadikan Prabowo-Gibran dua periode," ungkapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.