TRIBUNMATARAMAN.COM, BOJONEGORO - Safir Ahyanuddin, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) asal Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berhasil menorehkan prestasi.
Belum lama ini, Safir meraih juara 1 lomba menulis cerpen 750 kata yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Literasi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unesa.
Kemenangan tersebut diraih melalui karya cerpen yang mengangkat kisah perjuangan hidupnya selama menjalani masa tahun jeda / gap year.
Prestasi ini menjadi pencapaian penting bagi Safir. Tidak hanya sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, tetapi juga sebagai penulis muda yang menjadikan pengalaman hidup sebagai sumber utama penciptaan karya.
Cerpen yang mengantarkannya meraih juara pertama tersebut ditulis berdasarkan perjalanan pribadinya sebelum akhirnya dapat melanjutkan pendidikan di Unesa.
Dalam cerpen itu, Safir merekam fase hidup yang penuh tekanan. Ia menuliskan bagaimana masa gap year bukanlah waktu yang mudah untuk dijalani.
Berbagai persoalan datang silih berganti, mulai dari kondisi ekonomi keluarga, kegagalan studi sebelumnya, hingga tekanan batin yang sempat membuatnya ragu akan masa depan.
“Karya itu saya tulis sebagai refleksi perjalanan hidup. Saya ingin menyampaikan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Selalu ada solusi bagi mereka yang mau bangkit dan berani mencoba lagi,” ungkap Safir kepada TribunMataraman.com, Rabu (4/2/2026).
Baca juga: Marcos Reina Fokus Persik Kediri Sapu Bersih Tiga Laga Kandang
Ketertarikan Safir terhadap dunia kepenulisan telah tumbuh sejak ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).
Pada masa itu, ia mulai menikmati proses merangkai kata sebagai medium untuk menyalurkan perasaan, pikiran, dan pengalaman hidup. Ia senang bermain dengan diksi dan mencoba menciptakan tulisan yang tidak hanya indah dibaca, tetapi juga memiliki makna.
Namun, keseriusan Safir dalam dunia kepenulisan baru benar-benar dimulai pada 2022, setelah ia lulus SMA.
Pada masa tersebut, ia memutuskan untuk menekuni dunia menulis secara konsisten. Ia mulai banyak membaca karya sastra, menulis hampir setiap hari, serta mencoba mengirimkan tulisannya ke berbagai media dan perlombaan.
Proses tersebut tidak selalu berjalan mulus. Penolakan demi penolakan kerap ia terima.
Meski demikian, Safir justru memaknai setiap proses sebagai bagian dari pembelajaran.
Dari sanalah ia belajar tentang disiplin, kesabaran, dan keberanian menuangkan gagasan ke dalam bentuk tulisan.
“Menulis bagi saya bukan sekadar hobi, tetapi sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membentuk cara saya berpikir dan memandang dunia,” tuturnya.
Baca juga: Penanggulangan Banjir dan Jalan Rusak Jadi Usulan Musrenbang Kecamatan Trenggalek
Saat ini, Safir tercatat sebagai mahasiswa aktif Program Studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya.
Di tengah kesibukan perkuliahan, ia tetap konsisten berkarya.
Selain menulis cerpen, ia juga aktif menulis esai reflektif serta mengembangkan konten edukasi bahasa yang ditujukan untuk masyarakat luas.
Konten edukasi bahasa tersebut lahir dari kegelisahan Safir melihat bagaimana Bahasa Indonesia kerap disalahpahami.
Menurutnya, banyak peristiwa sosial yang ditafsirkan keliru hanya karena keterbatasan pemahaman bahasa.
Padahal, Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan seharusnya menjadi jembatan pemahaman di tengah keberagaman.
“Banyak kalimat yang maknanya bergeser, banyak peristiwa dipahami secara keliru karena bahasa tidak dipahami secara utuh,” jelasnya.
Melalui konten edukasi bahasa, Safir berupaya menghadirkan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang Bahasa Indonesia, baik dari segi makna, konteks, maupun nilai.
Ia berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menggunakan bahasa, terutama di ruang publik dan media sosial.
Selain aktif di dunia kepenulisan dan edukasi bahasa, Safir juga menyalurkan refleksi pribadinya melalui platform Medium.
Tulisan-tulisannya di Medium berisi catatan reflektif tentang kehidupan, kegelisahan batin, serta proses memahami diri.
Tulisan tersebut secara tidak langsung menjadi ruang bagi pembaca untuk mengenalnya lebih dekat sebagai individu yang terus belajar memahami hidup.
Dalam perjalanan kepenulisannya, Safir mengaku banyak terinspirasi oleh pemikiran sastrawan Inggris George Orwell.
Melalui karya Orwell, ia belajar bahwa tulisan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi alat untuk menyuarakan kebenaran, kritik sosial, dan nilai kemanusiaan.
“George Orwell mengajarkan saya bahwa seorang penulis memiliki tanggung jawab moral terhadap apa yang ia tulis. Dari sana saya memahami bahwa sastra bisa menjadi medium perubahan, sekecil apapun dampaknya,” ungkapnya.
Selain tokoh sastra dunia tersebut, dukungan terbesar Safir datang dari keluarga dan orang-orang terdekat.
Mereka menjadi tempat berbagi keresahan, ide, dan mimpi. Lingkungan akademik juga berperan penting dalam membentuk cara berpikir Safir agar lebih terstruktur dan matang dalam menulis.
Ide tulisan Safir sebagian besar lahir dari kehidupan sehari-hari. Ia kerap menjadikan obrolan dengan teman, keluarga, hingga pengamatan sederhana di lingkungan sekitar sebagai bahan tulisan.
Baginya, kehidupan manusia dengan segala dinamika dan konflik batinnya merupakan sumber cerita yang tidak pernah habis.
“Saya percaya bahwa semakin peka kita terhadap sekitar, semakin kaya pula ide yang bisa dituangkan dalam tulisan,” katanya.
Prestasi Juara 1 lomba cerpen nasional ini menjadi titik penting dalam perjalanan akademik Safir.
Ia menilai kemenangan tersebut bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga bukti bahwa sastra masih memiliki tempat dan relevansi di tengah perkembangan zaman.
“Ini bukan sekadar soal juara. Ini adalah pengingat bahwa konsistensi, kerja keras, dan keberanian berkarya akan selalu membuahkan hasil,” ujarnya.
Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, Safir berharap prestasinya dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus berkarya dan percaya pada potensi diri masing-masing.
Menurutnya, dunia sastra dan literasi masih membutuhkan banyak suara baru yang berani dan jujur dalam menyampaikan gagasan.
Untuk menjaga konsistensi berkarya di tengah kesibukan kuliah, Safir membiasakan diri menulis secara rutin.
Dia meluangkan waktu setiap dua malam sekali untuk menulis, baik cerpen, esai, maupun melanjutkan proyek pribadi yang telah ia kerjakan dalam jangka panjang.
Salah satu proyek personal tersebut adalah buku berjudul Only One For Oneness. Buku ini telah ia garap secara konsisten hampir tiga tahun terakhir.
Proyek tersebut menjadi ruang eksplorasi gagasan, refleksi hidup, serta pencarian makna yang ia rangkum melalui tulisan.
Selain menulis, Safir juga memanfaatkan waktu luang di sela-sela perkuliahan untuk membaca dan mencatat ide.
Meski tidak selalu menghasilkan tulisan panjang, ia berusaha tetap menulis agar tidak kehilangan ritme kreatif.
“Bagi saya, konsistensi bukan tentang menulis banyak setiap hari, tetapi tentang terus hadir dalam proses kreatif meskipun sedang sibuk,” katanya.
Ke depan, Safir menjadikan prestasi ini sebagai bahan refleksi agar tidak cepat berpuas diri.
Ia ingin terus mengembangkan diri, memperbanyak karya, serta menjangkau lebih banyak pembaca melalui tulisan-tulisannya.
Ia berharap karya-karyanya dapat memberi manfaat, menjadi suara bagi mereka yang kesulitan mengekspresikan perasaan dengan kata-kata, serta turut berkontribusi dalam pengembangan literasi dan pemahaman Bahasa Indonesia di masyarakat luas.
(Mutiara Nora Ayu/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik