Bocah SD di NTT Tewas Secara Tragis Jadi Sorotan Atalia Praratya: Prihatin Saja Tak Cukup!
Ferdinand Waskita Suryacahya February 05, 2026 06:07 PM

 

TRIBUNJAKARTA.COM - Politikus Golkar Atalia Praratya menyoroti siswa SD berinisial YBR (10) yang mengakhiri hidup secara tragis di Nusa Tenggara Timur (NTT).

YBR yang tewas mengakhiri hidup menggugah rasa kemanusiaan warga dan membuat banyak pihak terkejut.

"Prihatin saja tidak cukup! Ini adalah alarm bagi kita semua, jangan sampai ada lagi YBR YBR lainnya," tulis Atalia Praratya dikutip dari akun instagram pribadinya, Kamis (5/2/2026).

Anggota Komisi VIII DPR RI itu mengungkapkan kasus tersebut tidak boleh dipahami secara parsial sebagai persoalan keluarga semata.

Melainkan, kata Atalia,  sebagai gambaran kemiskinan yang berdampak pada kerentanan sosial, dan hambatan pendidikan.

"Sampai pada tekanan psikis yang ternyata dialami oleh anak-anak yang berasal dari daerah dengan tingkat kemiskinan dan keterbatasan layanan dasar yang tinggi," ujarnya.

Selain itu, Atalia juga mendorong agar pemutakhiran data kependudukan dan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN)  dilakukan secara berkala guna memastikan bantuan sosial benar-benar tepat sasaran. 

"Selain itu, Sekolah Rakyat (SR) sebagai jaring pengaman pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem perlu diprioritaskan untuk menjangkau wilayah-wilayah paling rentan, khususnya daerah 3T," kata Atalia.

Sosok Korban di Mata Tetangga

Suasana rumah duka siswa SD berinisial YBR di Kampung Dona, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, masih diselimuti duka mendalam.

Sejak kabar duka itu tersiar, keluarga, kerabat, hingga berbagai instansi pemerintah terus berdatangan ke rumah duka. Tempat itu menjadi saksi cerita singkat terakhir YBR bersama ibundanya pada pagi hari sebelum peristiwa terjadi.

Di mata keluarga dan lingkungan sekolah, YBR dikenal sebagai anak yang ceria, rajin, dan cerdas. 

Menurut pengakuan tetangga korban, Thadeus Sina, YBR sebagai anak yang energik dan mudah bergaul. Ia kerap menghabiskan waktu bermain bola bersama teman-temannya.

“Kami melihat dia sama seperti anak-anak lain, hobinya bermain,” kata Thadeus Sina, tetangga korban di Dona dikutip dari Pos Kupang, Kamis (5/2/2026).

Thadeus juga mengungkapkan, keluarga YBR hidup dalam keterbatasan ekonomi. Meski demikian, kondisi tersebut tidak pernah tampak mengurangi keceriaan YBR di lingkungan sekitar.

“Penglihatan saya sebagai tetangga, mereka keluarga sederhana dan kurang mampu secara ekonomi,” ungkapnya.

Ia mengaku terpukul ketika mengetahui peristiwa yang menimpa YBR. Menurutnya, sulit diterima seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar harus meninggal dengan cara yang tidak wajar.

“Kami semua kaget dan terpukul. Tidak menyangka anak sekecil ini bisa berakhir seperti ini,” ujarnya dengan nada heran.

Kepala SDN Rutojawa, Maria Ngene, menyebut tidak ada tanda-tanda mencolok pada diri almarhum semasa hidupnya.

“Anak ini ceria, rajin, dan cerdas. Tidak menunjukkan hal-hal yang menonjol,” ujar Maria.

Kronologi Versi Bupati Ngada

Bupati Ngada, Raymundus Bena membeberkan kronologi kematian secara tragis siswa kelas IV SD Negeri Rj, YBR (10) di Kecamatan Jerebuu.

YBR mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di dahan pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026).

Mayat YBR ditemukan dalam posisi tergantung pada seutas tali, tidak jauh dari pondok bambu yang ditempati YBR dan sang nenek.

Korban ditemukan pada Kamis pukul 11.00 Wita. 

Menurut Bupati Ngada, sebelum kejadian, ibunda korban Maria Goreti Te'a (MGT/47) menanyakan alasan anaknya tidak ke sekolah. 

Kepada ibunya, YBR mengatakan dia pergi ke kebun. 

Raymundus menyampaikan bahwa di Kecamatan Jerubuu belum memiliki fasilitas perbankan sehingga MGT terpaksa harus ke kota kabupaten. 

Setibanya di salah satu bank BUMN, dana PIP milik korban tidak bisa dicairkan. Alasannya, karena secara kependudukan korban masih tercatat di kabupaten Nagekeo.

Pihak Bank menyarankan MGT membuat surat keterangan domisili. “Keesokan malamnya, MGT ditanyakan lagi oleh anaknya, Mama sudah urus, kah, satunya beasiswanya?”

"Oh, belum, nanti saya, ee, saya akan urus itu, ya,” jelas Raymundus.

Lantas belum dicairkan karena beberapa alasan, YBR kemudian memutuskan untuk tidak ke sekolah. Dia kemudian kembali ke pondok bersama neneknya. 

Pada Kamis sekitar pukul 09.00 Wita, beberapa warga mendapati korban sedang duduk di depan pondok. Mereka menanyakan mengapa YBR tidak ke sekolah.

YBR menyampaikan bahwa dirinya sedang mengalami kepala pusing. “Dia mengaku kepala pusing. Terus jam 10, ada yang lewat lagi, sekitar jam 10, tanya lagi, dia bilang kepala pusing,” katanya. 

Raymundus menambahkan, sekitar pukul 11.00 Wita warga dikejutkan ketika mendapati korban sudah gantung diri, dan dalam keadaan meninggal.

Faktor Pemicu

Polres Ngada mengungkap ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi YBR bunuh diri. 

Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino mengatakan, peristiwa tragis tersebut tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan akumulasi berbagai tekanan yang dialami korban.

“Jadi, ada banyak faktor yang menyebabkan anak ini mengakhiri hidupnya,” ujar Andrey melalui sambungan telepon, Kamis (5/2/2026).

Menurut Andrey, salah satu faktor yang teridentifikasi adalah keterbatasan ekonomi keluarga, termasuk ketidakmampuan korban membeli buku dan alat tulis sekolah.

Selain itu, korban juga kerap menerima nasihat dari orangtua. “Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya terkait alat tulis,” kata dia.

Faktor-faktor tersebut, lanjut Andrey, menjadi tekanan psikologis bagi korban hingga akhirnya memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya.

“Intinya berkaitan dengan persoalan dalam rumah tangga. Namanya juga keluarga, tentu selalu ada masalah,” ujarnya.

Andrey menjelaskan, pada malam sebelum kejadian, orangtua korban sempat menasihati YBR agar tidak bermain hujan-hujanan.

Nasihat tersebut disampaikan agar korban tidak jatuh sakit dan kembali meminta izin tidak masuk sekolah.

“Namun, mungkin cara penerimaan anak berbeda. Bisa saja anak merasa tersinggung atau tertekan. Jadi ceritanya bukan semata-mata karena alat tulis, tetapi juga karena sering dinasihati oleh ibunya,” tutur Andrey.

Dari hasil penyelidikan, polisi memastikan tidak ditemukan unsur kekerasan dalam kasus tersebut. Hal itu diperkuat dengan hasil visum yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.

Selain itu, penyelidikan polisi juga tidak menemukan indikasi perundungan di lingkungan sekolah yang dapat memicu kondisi psikologis korban.

“Kesimpulan sementara, tindakan tersebut dilakukan atas kehendak korban sendiri,” kata Andrey.

Meski demikian, polisi masih terus mendalami kasus ini dan meminta keterangan dari sejumlah pihak untuk memastikan seluruh fakta terungkap secara utuh.

BERITA TERKAIT

  • Baca juga: DJ Donny Geram, Soroti Anak SD di NTT yang Akhiri Hidup: Ini Bukan Takdir, Ini Kegagalan Negara
  • Baca juga: Anak SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Rocky Gerung: Bukti Disparitas, Penderitaan
  • Baca juga: Sosok Anak SD di NTT yang Tewas Secara Tragis, Pulang Sekolah Bantu Nenek Jual Ubi hingga Kayu Bakar
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.