PSM-Golkar dan Rujukan Emosional Warga Sulawesi Selatan
February 05, 2026 05:05 PM

TRIBUN-TIMUR.COM - Duak diskusi asyik tersaji di Makassar pada pekan pertama Februari 2026. Pertama Login Partai Golkar pada Minggu malam, 1 Februari 2026. Lokasi Aula Kantor DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan, Jl Amanagappa No 2, Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang. 

Kedua bersama legenda PSM Makassar pada Rabu siang, 4 Februari. Tempatnya di Fireflies Coffee, Jalan Pattimura Nomor 5. Juga di Kelurahan Baru Kecamatan Ujung Pandang.  Jarak Kantor Golkar Sulsel dengan Fireflies hanya 1 kilometer.

Diskusi Login Partai Golkar membahas tentang kekalahan Partai Golkar di Sulsel setelah jadi pemenang sejak Pemilu 1971.  Kedua, diskusi dengan Legenda PSM Makassar tentang fenomena PSM MAkassar yang sudah 7 kali nihil kemenangan.  Kedua diskusi itu saya hadiri di waktu dan tempat berbeda. 

Afeksi Sosial 

Yang satu dipenuhi kursi, mikrofon, dan kata-kata tentang kekalahan politik. Yang lain dipenuhi rumput basah, skor kering, dan kegelisahan sepak bola.

Di ruang pertama, Partai Golkar Sulawesi Selatan berbicara tentang kekalahan yang pertama setelah puluhan tahun menjadi pemenang.

Di ruang kedua, PSM Makassar bergulat dengan tujuh laga tanpa kemenangan.

Dua peristiwa itu terjadi di tempat berbeda. Aktornya berbeda. Bahasanya pun beda.

Namun, perasaan yang menggantung di udara terasa sama. Kegelisahan sebuah entitas besar yang sedang bertanya pada dirinya sendiri, apakah masih menjadi rumah?

Bagi orang Sulawesi Selatan, pertanyaan itu tidak sederhana.

Memang tidak apple to apple PSM dengan Golkar Sulsel jika yang dibandingkan institusi formalnya. PSM adalah  klub. Golkar ialah partai politik. PSM berjuang untuk menang pertandingan. Golkar  berjuang menang pemilu. 

Tapi keduanya sangat apple to apple jika yang dibandingkan fungsi sosialnya. Golkar dan PSM adalah pride of Sulsel. Keduanya institusi identitas Sulawesi Selatan. PSM bukan sekadar klub sepak bola. Golkar Sulsel pun taj sekira partai politik.
Baik PSM maupun Golkar Sulsel memproduksi rasa memiliki kolektif, menjadi simbol kejayaan daerah, dan diwariskan lintas generasi. 

Ada masa ketika PSM Makassar di sepak bola dan Golkar di politik berdiri sebagai rujukan emosional banyak warga Sulawesi Selatan. Dukungan pada keduanya lahir bukan semata dari kalkulasi untung-rugi. Kedunya menjelma menjadi afeksi sosial yang tumbuh oleh sejarah panjang dan rasa kebersamaan. Hingga kini, PSM tetap memelihara afeksi itu, bahkan dalam kekalahan sekalipun. Sementara Golkar Sulsel sedang menempuh jalan sunyi untuk merawat kembali ikatan yang sama.

Terminologi afeksi sosial dipakai menggambarkan ikatan emosional kolektif yang begitu kuat. Ikatan emosional yang membuat seseorang merasa ikut memiliki, ikut terluka, dan ikut bertahan, bahkan ketika secara rasional ia bisa memilih pergi. Ia bukan loyalitas ideologis murni. Pun bukan pula pilihan rasional berbasis manfaat. Ia adalah rasa “kita” yang dibentuk oleh pengalaman bersama yang panjang.

Post-hegemonic Crisis

PSM dan Golkar hidup dari kesetiaan jangka panjang. Bukan asmara momentum.

PSM dicintai bahkan saat terpuruk. Suporter tetap datang meski nihil kemenangan.
Golkar menang sejak Pemilu 1971 di Sulsel. Ia tetap memiliki basis loyal meski kalah pada Pemilu 2024. 

PSM dan Golkar tidak dibangun oleh hasil instan. Ia dibina oleh sejarah panjang. Terlepas dari cara membangun keduanya. Inilah sebabnya kekalahan terasa traumatis, tapi tidak mematikan.

PSM dan Golkar sedang berada di fase yang sama. Krisis pasca-hegemoni. PSM juara Liga 1 2022-2023. Lalu merosot hingga nihil kemenangan 7 laga di Liga Super 2025-2026.
Golkar Sulsel dominan puluhan tahun, sejak Pemilu 1971. Lalu kalah dan  kehilangan kursi simbolik pada Pemilu 2024. Dalam sosiologi, situasi ini disebut post-hegemonic crisis. Fase ketika institusi yang terbiasa menang harus belajar hidup tanpa keistimewaan struktural. Dalam konteks ini, PSM dan Golkar Sulsel apple to apple secara temporal dan psikologis.

Login Golkar membedah kekalahan sejak 1971. Diskusi dengan legenda PSM: membedah 7 laga tanpa kemenangan.
Ini bukan kebetulan. Ia mekanisme yang sama. institusi besar menggunakan forum diskusi sebagai ruang refleksi dan pemulihan makna.

Diskusi itu bukan mencari kambing hitam. Juga bukan sekadar evaluasi teknis. Ia menjaga agar rasa memiliki tidak putus. Baik di PSM maupun Golkar, yang dibedah bukan hanya strategi, tapi psikologi kolektif.

Dalam diskusi Login Golkar itu, politisi senior Golkar Sulsel Armin Mustamin Toputiri berbisik kepadaku “Golkar tidak apple to apple dibandingkan dengan partai lain, dik”.  Alasannya karena Golkar tidak ada pemiliknya.

Sepakat Golkar  bukan partai berbasis figur tunggal. Golkar bukan partai elektoral murni. Dan Golkar adalah school of politics.
Maka karena itu, Golkar apple to apple dengan PSM. Juku Eja bukan klub berbasis satu pemilik, bukan klub instan, dan bukan sekadar entitas bisnis. PSM adalah sekolah emosi dan identitas.

PSM Makassar dan Partai Golkar Sulsel tidak apple to apple sebagai organisasi, tetapi sepenuhnya apple to apple sebagai institusi sosial yang hidup dari kesetiaan dan diuji oleh kekalahan.

Penjelasan lainnya. PSM dan Golkar keduanya institusi tua. Keduanya terbiasa menang. Keduanya baru belajar kalah. Keduanya  menolak panik. Keduanya mengandalkan regenerasi. Terlalu banyak kesamaan keduanya untuk disebut kebetulan.

Dalam bahasa Heidegger, PSM dan Golkar telah lama menjadi bagian dari “ada-di-dunia” orang Sulsel. Kekalahan mengguncang hasil, tetapi tidak serta-merta mengguncang cara-berada. Dukungan pada PSM dan Golkar bukan pertama-tama soal pilihan, melainkan soal keberadaan. Orang Sulawesi Selatan tidak sekadar memilih keduanya; mereka menemukan diri mereka sudah berada di dalamnya. Inilah afeksi sosial: suatu keadaan batin yang membuat dunia terasa akrab, bahkan ketika hasilnya mengecewakan.

Maka saya  tidak membandingkan apel dengan jeruk. Saya sedang membandingkan dua pohon tua yang sama-sama sedang belajar berbuah kembali setelah badai. PSM dan Golkar sama-sama pernah menjadi medan afeksi kolektif orang Sulsel. Diskusi di pekan pertama Februari 2026 itu menyeret saya hadir di dua ruang berbeda, tapi merasakan kegelisahan yang sama.
Kekalahan dan Kejujuran

Diskusi publik bertajuk “Demokrasi, Kaderisasi dan Partai Politik” digelar di Aula Kantor DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan digagas AMPI Sulsel. Diinisiasi Arief Rosyid. Dibuka Pelaksana Tugas Ketua Golkar Sulsel Muhidin M Said, didampingi Sekretaris pemenangan pemilu wilayah Sulawesi Haris Surahman, Plt Sekretaris Golkar Sulsel Rahman Pina, dan Plt Ketua Harian Golkar Sulsel HA Kadir Halid. 

Muhidin M Said menyebut “politik harus dikelola dengan bahagia dan riang gembira”. Dalam nada yang tenang tapi jujur, Muhidin mengatakan, semangat kader Golkar mulai kembali terlihat. Markas yang sebelumnya sepi kini kembali ramai oleh konsolidasi. Ada gairah untuk bekerja lagi, membesarkan Golkar lagi, merebut kembali kemenangan di pilkada kabupaten/kota dan provinsi.

Armin Mustamin Toputiri, Wakil Ketua Golkar Sulsel, memberi pengingat yang khas. Golkar, kata Armin, adalah partai disiplin dan teratur. Bahkan urusan mencari tempat duduk dalam rapat pun ada kalkulasinya. Tidak boleh sembrono. Tetapi pada saat yang sama, Golkar juga partai “tarung bebas”. Tidak ada pemilik tunggal. Semua kader adalah pemilik saham. Semua punya peluang menjadi ketua umum. Di sinilah menariknya Golkar: disiplin struktural bertemu kompetisi terbuka.

Belajar Bercermin

Dalam refleksi pribadinya setelah forum, Armin Mustamin Toputiri menulis dengan diksi “saya”. Politisi yang juga pelukis dan eseis ini tidak sedang merangkum acara. Dia merenungkan suasana.Ia menulis bahwa diskusi Login Golkar itu memperlihatkan satu hal penting: kematangan Golkar sebagai organisasi politik. Kekalahan tidak disembunyikan. Tidak ditutupi oleh euforia palsu. Justru dibicarakan terbuka bersama anak muda hingga dini hari.

Armin merefleksikan pemaparan saya dalam diskusi itu. Tentang Sulsel sebagai “gudang Golkar”. Tentang kedekatan emosional saya dengan partai ini selama lebih dari dua dekade liputan. Tentang ironi kekalahan 2024. Dan tentang runtuhnya simbol Ketua DPRD Sulsel yang selama ini identik dengan Golkar.

Bagi Armin, kritik itu bukan serangan. Ia cermin. Dan Golkar sedang belajar bercermin tanpa memecahkan kaca.

Refleksi 0-0

Dua hari setelah diskusi Login Golkar  itu, saya berada di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare. PSM Makassar bermain imbang 0-0 melawan Semen Padang. Skor yang di papan tidak menjelaskan sepenuhnya apa yang terjadi.

Cerita paling getir justru lahir di luar lapangan. Di halaman parkir dan Royal Box. Di sana, kendaraan berlabel  PT Semen Tonasa, BUMN yang secara imajinasi publik Sulsel dianggap “sedarah” dengan PSM, berjejer di halaman parkir stadion. Deretan mobil, yang diantaranya Alphard, bahkan lebih dekat ke mulut stadion daripada kendaraan yang ditumpangi Direktur Operasional PSM Rafiuddin Razak, yang saban waktu selalu diarahkan parkir oleh polisi di luar pagar stadion. 

Penumpang deretan mobil berlabel PT Semen Tonasa itu datang mendampingi Penasihat Tim PT Semen Padang. Andre Rosiade, yang malam itu datang ke Parepare menantang PSM.

Bagi PSM yang sedang berjuang keluar dari tekanan papan bawah, pemandangan itu terasa seperti ironi berlapis. Seperti ada saudara sedarah yang memilih berdiri di barisan lain saat rumah sedang rapuh.

Retaknya Afeksi

Fakta iring-iringan kendaraan berlabel PT Semen Tonasa itu  paralel dengan fenomena elite Golkar Sulsel yang memilih pindah ke partai lain. Dalam dua dunia berbeda, sepak bola dan politik, terjadi peristiwa yang secara emosional serupa: retaknya afeksi karena pergeseran loyalitas simbolik elite.

Bukan kekalahan yang melukai paling dalam. Kekalahan adalah bagian dari siklus. Yang melukai adalah rasa ditinggalkan dan diabaikan.

Afeksi berasal dari kata Latin affectio: keadaan jiwa, keterikatan, sesuatu yang menyentuh dan membentuk perasaan. Dalam sosiologi, afeksi bukan emosi sesaat, tetapi ikatan yang tumbuh karena kebersamaan yang berulang.

Dalam bahasa filsafat Heidegger, ini terkait dengan Befindlichkeit: bagaimana manusia selalu sudah berada-di-dalam suatu suasana. Kita tidak memilih PSM atau Golkar dari luar. Kita tumbuh bersama keduanya. Kita “berada” di dalamnya.

Itulah sebabnya dukungan pada PSM hingga hari ini tetap hidup. Ia masih menjadi rujukan emosional warga Sulsel. Bahkan saat belum menang tujuh laga.

Golkar pernah berada di posisi itu. Dan kini sedang menguji ulang: apakah ia masih mampu menjadi rumah afeksi, bukan sekadar mesin politik.

Anak Muda Harapan

Diskusi publik bersama anak muda bertema “Demokrasi, Kaderisasi dan Partai Politik” yang digelar AMPI Sulsel malam itu bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ia hadir di tengah fase transisi Golkar Sulsel. Fase setelah kalah, tapi belum menyerah.

Arief Rosyid Hasan didaulat menjadi pembicara pertama, disusul AS Kambie lalu Armin Mustamin Toputiri. 

Arief berbicara dengan bahasa generasi. Ia datang bukan hanya sebagai Waketum DPP AMPI. Arief juga sebagai bagian dari tradisi panjang, mantan Ketua Umum PB HMI yang memilih Golkar sebagai rumah politik. Dia mengikuti jejak Akbar Tandjung, Ferry Mursyidan Baldan, Yahya Zaini, dan sejumlah nama lain.

“Golkar harus menjadi rumah besar,” kata Arief. “Rumah yang terbuka bagi gagasan segar.”

Ia menegaskan, regenerasi bukan pilihan, melainkan keharusan. Anak muda hari ini, menurutnya, tidak anti-politik. Mereka hanya menjauh dari politik yang melelahkan, penuh konflik personal, dan miskin makna.

“Saya sangat senang dan bangga bisa ber-Golkar,” ujarnya.

Pembicara kedua membuka diskusi dengan membawa peserta menengok jauh ke belakang. Ke sejarah panjang Golkar di Sulawesi Selatan. Ia berbicara bukan sebagai politisi, melainkan sebagai wartawan yang lebih dari dua dekade mengikuti denyut Golkar dari dekat.

“Saya sangat dekat dengan Golkar,” ujarnya. “Selama ini sering tinggal di rumah politisi Golkar. Sulsel ini gudangnya Golkar, karena selalu jadi pemenang.”

Namun kalimat itu segera berbelok. Dominasi yang selama ini terasa mapan runtuh pada Pemilu 2024. Golkar kalah. Bahkan kursi Ketua DPRD Sulsel pun tanggal. 

“Ini bukan sekadar kekalahan. Ini alarm,” tegasnya.

Arena yang Bebas

Giliran Armin Mustamin Toputiri berbicara. Ia tidak memulai dari luar, tetapi dari dalam. Dari kultur organisasi Golkar itu sendiri.

“Cari tempat duduk saja dalam rapat Golkar itu mesti ada kalkulasinya,” ujarnya, disambut tawa forum. “Tidak boleh sembrono. Di parpol lain, cari tempat duduk bisa sambarangji.”

Golkar, menurut Armin, adalah partai yang disiplin dan teratur. Namun ia segera menambahkan satu sisi lain yang sering luput dari perhatian.

“Golkar juga partai tarung bebas. Tidak ada pemilik Partai Golkar. Semua kader dan pengurus adalah pemilik saham. Karena itu, semua kader punya peluang yang sama untuk menjadi ketua umum,” jelas Armin.

Salah satu adegan paling menarik malam itu justru terjadi ketika pembicara kedua mengkritik keras kebijakan dan dinamika internal Golkar. Bahkan menyentil langsung Plt Ketua Golkar Sulsel, Muhidin M Said.

Namun yang terjadi bukan ketegangan. Tidak ada interupsi emosional. Tidak ada penolakan.

Armin Mustamin menanggapi kritik tersebut dengan senyum. Muhidin meresume seluruh silang gagasan dengan tenang.

Di situlah, menurut Armin, ruang diskursus politik tumbuh. Kritik tidak dianggap ancaman. Perbedaan bukan pembangkangan. Di sanalah kematangan politik dibangun, dari senior ke junior.

Konsolidasi dan Target Pilkada

Di luar forum diskusi, Golkar Sulsel tengah bergerak. DPD I Partai Golkar Sulsel berkomitmen kembali merebut kemenangan pada Pemilihan Kepala Daerah, baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi.

Muhidin M Said menilai semangat kader mulai kembali terlihat. Dalam setiap pertemuan, antusiasme meningkat. Markas Golkar Sulsel yang sebelumnya sepi kini kembali ramai oleh aktivitas konsolidasi pasca-Pemilu 2024.

“Keinginan kader untuk kembali bekerja dan membesarkan Golkar di Sulsel itu sangat luar biasa,” kata Muhidin.

Diskusi malam itu juga dirangkaikan dengan prosesi simbolis penerimaan kader baru. Sekitar 50 anak muda, mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi, menyatakan ketertarikan untuk berkiprah di Golkar.

Muhidin menegaskan, peran generasi muda sangat strategis mengingat komposisi pemilih ke depan didominasi Gen Z. Karena itu, Golkar Sulsel membuka ruang seluas-luasnya bagi anak muda, baik melalui AMPI maupun langsung di struktur partai.

“Kami butuh anak muda. Golkar ini partai terbuka. Siapa pun yang mau mengabdi, mari kita bangun partai ini bersama-sama,” katanya.

Menjelang dini hari, Muhidin menutup diskusi dengan satu pesan yang sederhana, tetapi jarang terdengar dalam politik hari ini.

“Politik itu harus dinilai sebagai sesuatu yang menggembirakan,” ujarnya. “Riang gembira. Memberi rasa nikmat dan bahagia.”

Diskusi itu berakhir tanpa deklarasi bombastis. Yang tersisa adalah percakapan, dan kesadaran bahwa politik tidak selalu harus tegang dan melelahkan.

Golkar Sulsel sedang belajar lagi: belajar menerima kalah, belajar mendengar kritik, dan belajar membangun ulang dari bawah. Sejarahnya terlalu panjang untuk dihapus oleh satu kekalahan. Tetapi sejarah juga menuntut pembaruan rasa.

Jika politik bisa kembali riang, mungkin bukan hanya Golkar yang pulih. Bisa jadi, publik pun mulai berdamai lagi dengan politik itu sendiri.

Menguji Harapan

PSM Makassar dan Partai Golkar memang bukan institusi yang apple to apple.

Tapi sebagai ruang afeksi sosial. Keduanya pernah berdiri sejajar di hati banyak warga Sulawesi Selatan.

Kekalahan tidak pernah benar-benar mematikan afeksi. Yang membuatnya rapuh adalah ketika orang-orang yang selama ini berdiri di lingkar dalam mulai menjaga jarak, bahkan memilih duduk di barisan lain.

PSM hari ini masih hidup karena kesetiaan suporter yang memilih masuk ke lapangan ketika kemenangan tak kunjung datang.

Golkar Sulsel sedang diuji: apakah ia mampu kembali menjadi rumah yang cukup lapang untuk kritik, cukup matang untuk bercermin, dan cukup rendah hati untuk menyambut generasi baru.

Afeksi sosial tidak bisa dipanggil dengan slogan. Ia hanya datang jika dirawat. Dan dirawat bukan dengan klaim kemenangan masa lalu, melainkan dengan keberanian hadir di saat paling sulit. Sepak bola Makassar mengajarkan satu hal: klub besar tidak mati karena kalah, tetapi karena kehilangan rasa.

Politik pun demikian. Jika PSM sedang belajar bernapas kembali. Dengan pelan. Dengan hati-hati. Sambil menahan nyeri. Maka Golkar Sulsel pun sedang berada di fase yang sama. Dan di titik itulah, sejarah, afeksi, dan harapan diuji. Bukan pada siapa yang paling kuat berteriak. Harapan diuji pada siapa yang paling setia tinggal ketika tepuk tangan telah reda.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.