"TUMANI" Yang Terlelap: Menggugat Tirani Klerikal di Tengah Jebolnya AKM 
February 05, 2026 05:22 PM

 

Penulis: Prof. Dr. Jeffry Sony Junus Lengkong, M.Pd. (Pakar Pendidikan Sulut).

Dunia pendidikan kita hari ini sedang berada dalam kondisi "hipoksia intelektual". Di satu sisi, guru-guru kita dipaksa melakukan acrobatic administration —terjebak dalam labirin kekakuan klerikal yang menghisap habis energi pedagogis.

Di sisi lain, skor Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) kita "jebol", menunjukkan bahwa literasi & numerasi siswa sedang terjun bebas di balik tumpukan ritual kertas yang terlihat "hijau" di layar monitor.

Kita sedang menyaksikan kegagalan sistemik dari meminjam model manajemen pendidikan ‘jauh dari sana’ yang terlalu teknokratis. Model yang dipuja-puji dari buku teks global, ketika dipaksakan mentah-mentah ke tanah Minahasa, hanya melahirkan zombi-zombi pedagogis.

Guru kehilangan kedaulatan untuk mengajar karena dipaksa menjadi operator data berkapur. Inilah erosi kemanusiaan dalam manajemen pendidikan: kita sibuk memoles angka, namun kehilangan jiwa.

Mapalus: Teknologi Sosial Antifragile

Saat publik gelisah mencari solusi ke pusat, kita lupa bahwa kita memiliki "Teknologi Sosial" purba yang bersifat Antifragile (antirapuh).

Berbeda dengan sistem birokrasi yang rapuh dan mudah patah saat ditekan beban instruksi, Mapalus justru semakin kuat saat tantangan meningkat.

Ia adalah sebuah algoritma kerja kolektif yang mampu mengubah tekanan menjadi energi gerak.

Dalam manajemen Mapalus, terdapat fungsi “Tumani”. Secara filosofis, Tumani adalah tindakan sakral membuka lahan pertama kali. Ia adalah initial grounding.

Namun, yang unik, Tumani bekerja secara Rhizomatik. Seperti rimpang jahe atau kunyit di bawah tanah Minahasa, Mapalus tidak tumbuh dari satu komando tunggal yang kaku, melainkan menjalar, saling terhubung secara horizontal, dan memperkuat satu sama lain tanpa pusat yang dominan.

Kemekaran Siswa Melampaui Statistik

Kegagalan AKM hari ini bukanlah karena kurangnya aplikasi, melainkan karena kita telah kehilangan spirit Tumani. Kita terlalu terobsesi memanen hasil tanpa pernah sungguh-sungguh mempersiapkan "tanah" budaya sekolah.

Padahal, kemekaran siswa—sebuah kondisi di mana potensi intelektual mekar secara alami—hanya bisa terjadi jika ekosistemnya bersifat rhizomatik: saling dukung, bukan saling sikut.

Melalui teknologi sosial “Karapi” (pendampingan sejawat), guru tidak lagi berdiri sendiri menghadapi badai kurikulum. Mereka menjadi satu kesatuan rimpang yang tangguh. Solusi untuk AKM tidak akan ditemukan dalam pembaruan perangkat lunak, melainkan dalam revitalisasi kearifan lokal mapalus sebagai model manajemen timbal balik.

Sudah saatnya kita melakukan dekolonisasi pikiran; berhenti menjadi pengemis teori ‘dari jauh sana’ dan mulai mengasah kembali "Mutiara dari Timur" milik kita sendiri. Tumani adalah panggilan untuk berhenti menjadi sekadar angka dalam statistik, dan mulai menjadi subjek dalam sejarah peradaban kita sendiri.

Jika kita gagal melakukan Tumani hari ini, jangan pernah bermimpi akan ada panen peradaban di masa depan. Pendidikan sejati tidak dimulai dari meja ‘terlantik dengan bersumpah-berjanji’, melainkan dari ketulusan membuka lahan bagi tumbuhnya kemanusiaan.

Ya, benar! Kita harus siap dengan "Perisai dan Pedang Intelektual" untuk menghadapi serangan balik. Biasanya, mereka -pihak birokrasi atau pengamat konvensional, akan merasa gerah dengan diksi Acrobatic Clericalism dan tuduhan "zombi pedagogis". Balasan Taktis untuk menghadapi tiga jenis respons yang kemungkinan besar akan muncul di kolom komentar atau ruang diskusi online:

1. Jika Diserang: "Administrasi itu penting untuk akuntabilitas data!"

- Balasan Taktis: "Benar, data itu penting. Namun saat ini kita terjebak dalam Acrobatic Clericalism, di mana 'ritual kertas' lebih disembah daripada kualitas pembelajaran. Akuntabilitas sejati bukan pada hijaunya layar monitor aplikasi, tapi pada Kemekaran Siswa di kelas. Kita butuh akuntabilitas yang manusiawi, bukan sekadar administrasi yang menghisap nyawa pedagogis guru."

2. Jika Diserang: "Mapalus itu tradisional, tidak cocok dengan digitalisasi!"

- Balasan Taktis: "Justru sebaliknya. Mapalus adalah Teknologi Sosial yang bersifat Antifragile. Digitalisasi seharusnya menjadi alat, bukan beban. Dengan semangat Rhizomatik Mapalus, guru bisa berbagi beban kerja secara horizontal sehingga digitalisasi tidak lagi mencekik secara individual. Kita tidak menolak teknologi, kita menolak sistem manajemen yang mematikan kemanusiaan."

3. Jika Diserang: "Skor AKM rendah itu tanggung jawab guru, bukan sistem!"

- Balasan Taktis: "Skor AKM yang jebol adalah 'alarm' bahwa lahan pendidikan kita belum di-Tumani (di-grounding) dengan benar. Bagaimana guru bisa menanam literasi jika waktunya habis untuk berakrobat dengan pelaporan statistik? Jangan salahkan guru yang sudah menjadi 'zombi', perbaiki sistem manajemennya agar spirit Mapalus bisa kembali menghidupkan kelas". Untuk menggambarkan guru yang kehilangan otonomi pedagogisnya: Zombi Pedagogis: Guru yang "hidup" secara fisik di kelas, namun "mati" kreativitasnya karena jiwanya telah dihisap oleh pelaporan digital.

Operator Data Berkapur: Menunjukkan pergeseran peran dari pendidik menjadi sekadar penginput data.

Sekerup Birokrasi: Menggambarkan guru hanya sebagai bagian kecil dari mesin besar yang tidak punya suara
"Acrobatic Clericalism" (Klerikalisme Akrobatik): Menekankan pada kegilaan guru yang harus berjungkir balik demi urusan surat-menyurat dan pelaporan yang tidak berujung. (Art)

Bergabung dengan WA Tribun Manado di sini >>>

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.