TRIBUNJABAR.ID, CISARUA - Sejumlah petani sayuran kembali menggarap lahan yang sempat mereka tinggalkan karena bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Salah satunya dilakukan oleh Enjang (62), yang memiliki lahan pertanian berupa selada dan tomat di Kampung Pasirkuda, Desa Pasirlangu.
Enjang terpaksa menghentikan aktivitas pertanian mereka sejak Sabtu (24/1/2026) karena longsor hingga mengalami gagal panen.
Pantauan Tribun di lokasi pada Rabu (4/2/2026), Enjang bersama dua anaknya terlihat memisahkan bibit selada dari pot penyemaian untuk dipindahkan ke lahan tanam.
Dia bilang, bibit yang tumbuh di pot semai telah terlalu tua dan tetap dipaksakan untuk dipindah ke lahan tanam.
Pohon-pohon tomat yang sebelumnya terawat dan rapi terlihat bercampur dengan rumput hingga membuat tumbuhan terlihat seperti tumbuhan liar.
Baca juga: Petani Korban Longsor Cisarua Mencoba Bangkit, Mulai Tanam Selada dan Tomat, Sempat Gagal Panen
"Di sini ada Tomat dan Seladah. Tidak keurus, jadi berantakan, sudah 10 hari lebih ditinggalkan," kata Enjang di lokasi.
Terjangan longsor membuat panen tomat gagal. Dari ribuan pohon tomat, hanya sebagian yang bisa dipanen. Padahal, harga tomat disebut lagi bagus.
Gagal panen itu membuat Enjang mengalami kerugian hingga Rp14 juta.
"Tomat harganya lagi lumayan, ada sekitar 2 tonlan. Ada Rp14 juta adalah (rugi)," ujarnya.
Kerugian yang dialami Enjang tak semata hanya uang, longsor Desa Pasirlangu juga menimggalkan kesedihan dan duka bagi Enjang.
Pasalnya, dua orang yang biasanya membantu menggarap lahan ikut menjadi korban jiwa dalam peristiwa longsor.
Apalagi, dua orang berstatus suami istri itu dikenal sebagai orang yang loyal, jujur, hingga menjadi orang kepercayaan Enjang selama bertahun-tahun.
"Sedih, sedih banget, mereka itu pekerja keras, jujur, sekarang susah cari orang jujur. Mereka sama anaknya jadi korban, memang udah ditemuin," ujarnya.
Asa untuk menata kembali lahan pertanian terus diupayakan Enjang di tengah keterbatasan air.
Saat ini, Enjang hanya berharap pada air hujan sehari menunggu akses air yang tengah digarap oleh pemerintah.
"Akses (air) belum bisa, harusnya disiram, sekarang menunggu hujan saja. Pengennya dibantu aja, sama pemerintah. Terutama akses air," tandasnya.