Penulis Naskah : Novianti, Mahasiswa Semester VI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang
SRIPOKU.COM, MURATARA — Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, menyimpan jejak peradaban purba yang bernilai tinggi.
Salah satunya berada di kawasan Goa Napal Licin, Desa Napal Licin, Kecamatan Ulurawas, yang diduga telah dimanfaatkan manusia sejak ribuan tahun lalu.
Goa Napal Licin merupakan situs alam yang memiliki kondisi relatif terlindungi, sehingga diyakini menjadi tempat ideal bagi manusia purba untuk berlindung dan beraktivitas.
Selain nilai sejarahnya, kawasan ini kini juga dikenal sebagai destinasi wisata alam yang menarik, bahkan hingga mancanegara, terutama bagi para pencinta petualangan dan penelusuran gua.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus menempuh jalur pendakian menanjak dengan melintasi kawasan hutan.
Setibanya di mulut goa, wisatawan disuguhi pemandangan stalaktit dan stalagmit yang terbentuk melalui proses alam selama ratusan hingga ribuan tahun.
Goa Napal Licin berada sekitar 20 meter dari permukaan jalan dan memiliki lorong sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer.
Lorong tersebut menghubungkan empat bukit, yakni Bukit Batu, Bukit Semambang, Bukit Payung, dan Bukit Karang Nato atau Bukit Keratau. Untuk menyusuri seluruh bagian goa, dibutuhkan waktu lebih dari empat jam.
Di dalam goa, cahaya matahari hanya masuk melalui celah-celah bebatuan di dinding goa. Tetesan air yang jatuh dari stalaktit menciptakan bunyi alami yang terdengar seperti alunan musik, menambah kesan magis dan menenangkan suasana.
Pegiat sejarah Palembang, Mang Dayat, mengingatkan pengunjung agar berhati-hati saat menyusuri lorong goa yang curam dan licin.
“Lorongnya sempit, bahkan di beberapa bagian harus jongkok. Medannya licin dan untuk mencapai puncak goa harus mendaki bebatuan,” ujar Mang Dayat melalui kanal YouTube pribadinya, dikutip Kamis (5/2/2026).
Selain keindahan alam dan nilai arkeologis, Goa Napal Licin juga lekat dengan legenda Si Pahit Lidah.
Menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, kawasan ini berkaitan dengan Serunting Sakti atau Si Pahit Lidah, sosok sakti yang dipercaya mampu mengutuk apa pun menjadi batu.
Legenda menyebutkan, Si Pahit Lidah pernah menemukan sebuah kapal besar yang terdampar di kawasan tersebut.
Karena kesulitan memanjat kapal yang sangat besar, ia meluapkan kekesalannya dengan mengumpamakan kapal itu seperti batu.
Ucapannya dipercaya menjadi kutukan yang membuat kapal tersebut berubah menjadi batu besar dan membentuk goa yang kini dikenal sebagai Goa Napal Licin.
Dari sisi akademis, penelitian Badan Arkeologi Sumatera Selatan pada tahun 2012 memperkuat dugaan bahwa Goa Napal Licin telah dihuni manusia sekitar 4.000 tahun lalu.
Penelitian tersebut menemukan 13 artefak yang menjadi bukti adanya aktivitas manusia purba di kawasan ini.
Keberadaan Goa Napal Licin menjadikannya tidak hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai situs penting dalam memahami sejarah peradaban awal manusia di Sumatera Selatan.