Oleh : Hafid P Abbas
Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
TRIBUN-SULBAR.COM- Di usia ke-79 tahun, Himpunan Mahasiswa Islam tidak sekadar bertambah angka. Ia seharusnya bertambah makna. Sebab usia bagi sebuah organisasi kader bukanlah soal lamanya berdiri melainkan seberapa jauh nilai-nilainya tetap hidup dan bekerja di tengah zaman yang terus berubah.
HMI lahir sebagai jawaban atas krisis keumatan, kebangsaan, dan keilmuan. Ia dibangun dengan keyakinan bahwa kaderisasi adalah jantung organisasi dan kepedulian adalah darah yang mengalirkan kehidupan ke seluruh tubuh perjuangan.
Dari situ, HMI menjelma bukan hanya sebagai organisasi mahasiswa tetapi sebagai ruang pengabdian lintas generasi tempat senior dan junior terhubung oleh tanggung jawab moral bukan sekadar nostalgia struktural.
Namun, pada perjalanan panjang itu, kader yang masih berdiri di barisan bawah belajar membaca tanda-tanda zaman dengan jujur. Dengan melihat bahwa di banyak ruang kepedulian tidak lagi selalu hadir sebagai laku, melainkan kerap berhenti sebagai slogan.
Senior disebut-sebut sebagai teladan tetapi tak selalu hadir sebagai penopang. Nama besar organisasi dielu-elukan, namun kontribusi nyata sering kali terputus di simpul generasi.
Kader tidak menuntut kemewahan. Tidak pula meminta jalan pintas. Yang diharapkan sederhana namun mendasar: Kepedulian dalam kegiatan HMI,Kesediaan memberdayakan kader, dan keberpihakan untuk membantu kader melanjutkan pendidikan dan pengembangan diri.
Tiga hal ini bukan tuntutan berlebihan tapi ia adalah kredo sunyi yang seharusnya hidup dalam diri setiap insan yang pernah ditempa oleh HMI. Sebab kader tidak tumbuh oleh pidato, tetapi oleh bimbingan dan pendampingan. Tidak bertahan oleh jargon, tetapi oleh perhatian yang konsisten.
Di Sulawesi Barat, refleksi ini menjadi lebih dekat dan personal. HMI tumbuh bersama keterbatasan daerah dengan semangat merintis yang sering kali bertumpu pada solidaritas.
Namun justru di ruang inilah kami merasakan bahwa kepedulian teman teman senior tidak selalu hadir dalam fase paling menentukan kehidupan kader saat berjuang menjaga nyala organisasi, mencari arah masa depan, dan menyiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan serta pengabdian.
Milad ini menjadi titik jujur untuk menyatakan sikap bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesadaran. Bahwa, kader HMI Sulawesi Barat, memilih untuk “menyaring dengan sungguh-sungguh” siapa saja mereka para senior yang kelak datang membawa narasi perjuangan, terlebih ketika ia ingin berkonteksasi di ruang politik.
Bukan karena anti-politik, tetapi karena percaya politik tanpa kepedulian hanyalah ambisi yang meminjam nama organisasi.
Legitimasi moral seorang senior tidak lahir saat baliho terpasang atau saat jargon ke-HMI-an diulang, tetapi jauh sebelumnya ketika ia hadir dalam kegiatan kader, ketika ia membantu kader berdiri di atas kaki sendiri dan ketika ia membuka jalan dalam setiap proses, bukan menutupnya dengan janji.
Di usia ke-79 ini, HMI kita tempatkan kembali sebagai rumah nilai. Rumah yang menuntut tanggung jawab lintas generasi. Rumah yang mengajarkan bahwa menjadi senior bukan soal usia atau jabatan, melainkan soal keberanian untuk peduli.
Inilah kredo kecil di Milad HMI ini, Tidak ada penolakan hanya berharap kepedulian dari para senior.Karena HMI yang besar bukan yang dipenuhi oleh mereka yang pernah berjuang,melainkan oleh mereka yang masih mau berjuang bersama kader yang sedang tumbuh.