79 Tahun HMI: Menjaga Api Perjuangan, Menjawab Zaman dengan Keberanian Moral
February 05, 2026 09:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM - Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan momentum untuk menengok kembali arah perjuangan.

Di tengah arus zaman yang bergerak cepat ditandai disrupsi digital, pragmatisme politik, dan krisis keteladanan HMI dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: masihkah kita setia pada watak perjuangan, atau sekadar nyaman pada simbol dan rutinitas?

Sejak didirikan pada 5 Februari 1947, HMI lahir dari kegelisahan intelektual dan tanggung jawab keumatan.

Dua misi utamanya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan meninggikan derajat rakyat Indonesia bukan jargon historis. 

Ia adalah kompas etik yang menuntut keberanian moral dan konsistensi sikap.

Dalam perjalanan panjangnya, HMI telah melahirkan kader di berbagai medan: pendidikan, birokrasi, politik, hingga masyarakat sipil. Namun, sejarah yang besar tidak otomatis menjamin relevansi hari ini.

Baca juga: HMI, PMII dan IMM Tegas Tolak Pilkada lewat DPRD: Jangan Ambil Alih Suara Rakyat!

Sebagai instruktur BPL, saya melihat tantangan paling nyata HMI kini terletak pada kualitas kaderisasi. Bukan pada kuantitas agenda, melainkan pada kedalaman nilai. Kaderisasi sering kali terjebak pada formalitas: lulus jenjang, hafal materi, sibuk administrasi.

Padahal, esensi kaderisasi adalah pembentukan watak daya kritis, kepekaan sosial, dan keberanian mengambil posisi etis. Tanpa itu, HMI berisiko kehilangan ruh perjuangan dan berubah menjadi organisasi yang sibuk mengurus dirinya sendiri.

Di usia 79 tahun, HMI juga mesti jujur membaca realitas politik. Kader HMI banyak hadir di ruang-ruang kekuasaan, namun tidak sedikit yang terjebak pada kompromi berlebihan.

Kekuasaan memang medan yang kompleks, tetapi di sanalah integritas diuji. 

HMI tidak boleh alergi terhadap politik, tetapi harus tegas membedakan antara politik nilai dan politik transaksional.

Keberpihakan kepada rakyat kecil buruh, petani, nelayan, dan kaum marjinal harus menjadi sikap nyata, bukan sekadar narasi saat Milad.

Tantangan lain adalah perubahan lanskap pengetahuan. Dunia digital melahirkan banjir informasi sekaligus dangkalnya literasi.

Baca juga: Wacana  Pilkada lewat DPRD, Kahmi Jateng: Alumni HMI Harus Kedepankan Hati Nurani dan Keislaman

HMI perlu kembali meneguhkan tradisi intelektual: membaca serius, berdiskusi tajam, menulis dengan argumen.

Kader HMI seharusnya hadir sebagai rujukan nalar publik, bukan sekadar pengikut arus opini. Tanpa basis intelektual yang kokoh, aktivisme mudah tergelincir menjadi sensasi sesaat.

Refleksi Milad ke-79 juga menuntut evaluasi relasi HMI dengan umat. Keislaman HMI bukan simbol identitas, melainkan etika sosial. Islam yang memihak keadilan, membela yang lemah, dan menolak penindasan dalam bentuk apa pun.

Di tengah maraknya politisasi agama, HMI harus berdiri sebagai penyejuk: tegas pada nilai, dewasa dalam sikap, dan inklusif dalam kerja-kerja kemanusiaan.

Baca juga: HMI Purwokerto Geruduk Kantor ESDM, Buntut Warga Banyumas Disebut Lebay Soal Tambang

Akhirnya, Milad ini adalah panggilan untuk merawat api perjuangan. Api itu tidak selalu menyala terang; kadang redup oleh kelelahan, konflik internal, dan godaan kenyamanan.

Tugas kita instruktur, kader, dan alumni adalah menjaga nyala itu tetap hidup dengan kerja nyata dan keteladanan. HMI tidak butuh slogan baru; yang dibutuhkan adalah keberanian untuk setia pada nilai lama yang terbukti relevan.

Di usia 79 tahun, HMI seharusnya matang dalam berpikir, dewasa dalam bersikap, dan berani dalam bertindak.

Jika itu yang kita pilih, HMI tidak hanya akan bertahan, tetapi benar-benar hadir sebagai kekuatan moral di tengah zaman yang bising dan sering kehilangan arah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.