Jam Belajar Siswa di Lampung Dikurangi 10 Menit per Mapel Selama Ramadan
February 05, 2026 09:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Proses belajar-mengajar di sekolah selama bulan suci Ramadan akan mengalami penyesuaian.

Meski petunjuk teknis (juknis) resmi dari pemerintah pusat belum banyak berubah, Dinas Pendidikan di Lampung memastikan ada pengurangan durasi jam pelajaran bagi siswa.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Thomas Amirico terkait kegiatan belajar-mengajar selama Ramadan.

“Kalau juknis resminya memang dari pusat, tapi intinya akan terjadi penyesuaian. Setiap mata pelajaran itu akan kita kurangi waktunya, biasanya tiap tahun sekitar 10 menit,” ujar Thomas, Kamis (5/2/2026). 

Selain pengurangan durasi per mata pelajaran, jam masuk sekolah juga akan diundur.

Selama Ramadan, kegiatan belajar-mengajar direncanakan dimulai pukul 07.30 WIB.

“Pembelajaran akan dimulai jam 7.30 dan kita akan lebih menekankan pada pengembangan karakter,” jelasnya.

Ia menambahkan, selama Ramadan sekolah juga akan mengakomodasi kegiatan keagamaan bagi seluruh siswa sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Siswa muslim diarahkan untuk melaksanakan kegiatan keagamaan Islam, sementara siswa nonmuslim tetap mengikuti kegiatan keagamaan sesuai agamanya.

“Yang muslim melaksanakan kegiatan keagamaannya, kemudian yang non-nasrani juga melaksanakan kegiatan sesuai dengan keagamaannya. Sehingga toleransi itu bisa terbentuk dengan baik di lingkungan sekolah,” katanya.

Terkait perubahan kebijakan secara nasional, Thomas menegaskan tidak ada perubahan signifikan, selain penyesuaian teknis di sekolah.

“Perubahannya memang tidak signifikan dari juknis pusat. Intinya per mata pelajaran dikurangi 10 menit dan masuk sekolah jam 7.30,” tegasnya.

Ia berharap Ramadan dapat menjadi momentum bagi siswa untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memperkuat nilai-nilai moral dan karakter.

“Harapan kita di bulan Ramadan ini, anak-anak bisa lebih dekat dengan Tuhan Yang Maha Kuasa,” ucapnya.

Mengenai pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat Ramadan, Thomas menyebut pihaknya masih akan melakukan koordinasi lebih lanjut.

Ia berharap siswa yang berpuasa tetap dapat menjalankan ibadah dengan baik.

“Mudah-mudahan tidak ada yang berbuka. Puasa itu kan wajib bagi umat muslim, apalagi anak-anak kita banyak yang sudah baligh,” katanya.

Soal kemungkinan penyesuaian bentuk makanan dalam program MBG, Thomas mengatakan hal tersebut masih akan dibahas bersama Satgas MBG.

“Nanti kita konsultasikan. Apakah format atau formulanya bisa dikonversi dalam bentuk lain, itu akan kita diskusikan dengan Satgas MBG,” pungkasnya.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.