Karst Aceh: Waspadai Gempa Dangkal Burni Telong, Jadi Penentu Kesiapsiagaan
February 05, 2026 10:54 PM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Bener Meriah

TribunGayo.com, REDELONG - Organisasi yang berfokus pada pengelolaan ekosistem karst dan pembangunan berkelanjutan di Aceh, Karst Aceh, mengingatkan bahwa indikator paling krusial yang perlu diwaspadai dalam memantau aktivitas Gunung Burni Telong adalah peningkatan gempa vulkanik dangkal, bukan semata gempa vulkanik dalam.

Baca juga: Aktivitas Vulkanik Gunung Burni Telong Meningkat Pasca Gempa 4,1

Karst Aceh: Dinamika Magma di Kedalaman

Karst Aceh menilai lonjakan gempa vulkanik dalam memang menunjukkan adanya dinamika magma di kedalaman, namun belum secara otomatis mengarah pada potensi erupsi.

“Gempa vulkanik dalam menandakan adanya pembukaan tekanan atau pergerakan magma di bawah, tapi yang paling perlu diantisipasi serius adalah gempa dangkal,” ujar Direktur Karst Aceh Abdillah Imron Nasution pada Kamis (5/2/2026).

Menurutnya, peningkatan intensitas dan frekuensi gempa dangkal mengindikasikan magma mulai bergerak ke arah permukaan.

Kondisi tersebut menjadi alarm awal yang harus segera direspons dengan langkah kesiapsiagaan.

Jika gempa dangkal meningkat, lanjutnya, biasanya akan diikuti perubahan fisik di tubuh gunung, seperti pembengkakan di puncak (inflasi), peningkatan emisi gas, hingga munculnya tremor menerus.

Parameter-parameter tersebut selama ini menjadi fokus pemantauan petugas gunung api.

Baca juga: Bener Meriah Diguncang Gempa 4,1, Ini Status Gunung Burni Telong

Pentingnya Edukasi Masyarakat

Karst Aceh juga menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat, khususnya perangkat desa di wilayah rawan di sekitar Gunung Burni Telong, agar memahami tahapan aktivitas gunung api, mulai dari gempa dalam, gempa dangkal, tremor, hingga potensi erupsi.

“Urutan ini penting dipahami, meskipun perlu dicatat setiap gunung api memiliki karakter yang berbeda dan tidak bisa disamaratakan,” katanya.

Meski status Gunung Burni Telong masih berada di Level II (Waspada), Karst Aceh mendorong pemerintah daerah untuk mulai mensosialisasikan jalur evakuasi, titik kumpul, serta memperkenalkan tas siaga bencana kepada masyarakat.

Abdillah juga mengingatkan bahwa peningkatan amplitudo gempa hingga di atas ambang tertentu, sekitar 55–60, harus menjadi sinyal kesiapsiagaan yang lebih serius, termasuk kemungkinan evakuasi terbatas.

Selain itu, pendataan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas di desa-desa rawan dinilai penting agar proses evakuasi dapat dilakukan lebih cepat dan terarah jika kondisi memburuk.

“Tidak kalah penting adalah kesiapan logistik. Jika erupsi berlangsung beberapa hari, gudang logistik harus sudah siap. Ini bagian dari mitigasi yang sering luput diperhatikan,” pungkasnya. (*)

Baca juga: Gunung Burni Telong Bener Meriah Masih Bergeliat: 11 Gempa Vulkanik Terekam dalam Dua Hari

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.