Laporan Reporter Tribunjabar.id Rahmat Kurniawan
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Badannya terlihat kecil, tapi tidak dengan semangatnya yang terus membara meski telah menginjak usia 68 tahun.
Namanya, Achmad Zaenuri, relawan yang ikut berjibaku mencari korban-korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Achmad Zaenuri merupakan pria lansia dari Mojokerto, Jawa Timur. Panggilan kemanusian membakar spirit jiwa hingga dirinya rela 24 jam mengendarai sepada motor matik 110 CC untuk sampai ke Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Baca juga: Pengungsi Zona Merah Longsor Cisarua dapat Bantuan Uang Sewa Rumah Rp 5 Juta
"Tahu (ada longsor) dari facebook, terus ada yang sharelok ke lokasi ini, (perjalanan) 24 jam, berangkat hari Minggu (25/1/2026) Magrib sampai sini Senin magrib," kata Acmad Zaenuri kepada Tribun Jabar di lokasi longsor Cisarua, Bandung Barat, Rabu (4/2/2026).
Selama 9 hari pencarian, Acmad terlibat langsung dalam penemuan dan evakuasi sejumlah jenazah yang tertimbun longsor. Dari membuka jalur hingga mengangkat kantung jenazah Dia lakukan meski usianya tak lagi muda.
"Ada 5 titik sana, ada satu perempuan juga pas pertama datang, awalnya belum boleh, kemudian dikasi APD kemudian sah ngambil jenazah. Di sana ada loreng-loreng, ada motor juga," kata Dia sambil menunjukkan sejumlah titik penemuan jenazah.
Achmad telah bergelut menjadi relawan sejak tahun 2011. Berbagai lokasi bencana telah dia sambangi termasuk bencana di Aceh tahun 2025. Perjalanan ke Aceh pun Dia tempuh dengan sepeda motor.
Dia bilang, sudah kali ke dua dia ke lokasi bencana di wilayah Jawa Barat. Pertama saat gempa yang memporak-porandakan sebagian wilayah di Cianjur dan kedua kalinya di Cisarua Bandung Barat.
"Saya ke Aceh, naik motor itu, beat, tujuan kita sop nya seperti di sini mengambili (mayat), ternyata di sana sudah tidak ada, tinggal bersih-bersih. Ke Jabar ini kedua kalinya, pertama ke Cianjur," ujarnya.
Misi kemanusian menjadi pondasi dan spirit yang kokoh bagi Achmad untuk berangkat, menghadirkan diri, hingga terlibat langsung dalam penanganan sebuah bencana. Baginya, biaya bukanlah halangan untuk mengerjakan misi kemanusiaan.
Baca juga: Belum Semua Jenazah Korban Longsor Cisarua Ditemukan, Basarnas Respons Soal Perpanjangan Pencarian
Saat pergi ke Aceh, Dia hanya membawa uang Rp2 juta sekadar untuk ongkos perjalanan berangkat dan kembali pulang. Begitupun untuk pergi ke Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, Dia bilang hanya membawa bekal uang sebesar Rp700 ribu sebagai ongkos perjalanan berangkat dan pulang.
Dia meyakini, misi kemanusiaan dengan niat yang tulus dan ikhlas, perjalanan dalam menjalani misi akan terasa lebih ringan tanpa halangan yang berarti.
"Bawa uang Rp700 ribu untuk bensin untuk makan, walaupun hujan, tetap berangkat. Waktu ke Aceh bawa Rp2 juta, biaya sendiri, insyaallah relawan ini selalu ada, ada saja donatur, jangan takut, ikhlas insyaalah allah memberi rezeki," tegasnya.
Achmad tak sekadar mengandalkan tekad dan nekat. Dia sudah membekali diri dengan pengetahuan dan bimbingan dari polisi sejak menjadi relawan di Polres Mojokerto Kota di tahun 2011. Pengetahuan itu kemudian diaplikasikan pada berbagai TKP.
Perjalanan menjadi relawan pun membawa dirinya menjadi orang yang dipercaya untuk masuk tim pemakaman korban Covid-19. Dengan pengetahuan dan pengalaman, dia memiliki cara tersendiri agar bau menyengat dari mayat yang telah membusuk tak membuat dirinya pusing hingga muntah-muntah.
Dia bilang akan mengabdikan dirinya untuk menjadi relawanan kemanusiaan. Akan terus berupaya menghadirkan diri dan terlibat dalam misi-misi kemanusiaan khususnya dalam penangan bencana.
"Saya senang, kalau ada TKP, ada mayat saya tidak datang, waduh pusing, menangis, sungguh, harus datang. Pesan untuk relawan, semua harus jadi relawan sungguh-sungguh, yang penting itu kemanusiaan, ayo kita berkemanusiaan, walaupun relawan bukan pengambil mayat, salam kemanusian demi negara," tandasnya.
Baca juga: Kisah Enjang, Petani Pasirlangu yang Coba Bangkit Usai Longsor Cisarua Bandung