TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merespons keputusan lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings yang menurunkan outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, namun tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level Baa2, atau satu tingkat di atas batas investment grade.
Keputusan ini merupakan hasil akhir asesmen Moody’s setelah melakukan rangkaian kunjungan ke Jakarta pada 27–29 Januari 2026.
Dalam proses tersebut, Moody’s berdiskusi dengan sejumlah kementerian dan lembaga, antara lain Kemenko Perekonomian, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, BP BUMN, Danantara, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Baca juga: Kemenperin Bantah Isu Lesunya Investasi Manufaktur, 1.236 Industri Siap Beroperasi 2026
Menanggapi hal tersebut Kemenkeu menyatakan pemerintah menghargai asesmen Moody’s dan menegaskan komitmen untuk terus melakukan transformasi ekonomi serta mengoptimalkan seluruh mesin pertumbuhan.
"Pemerintah mengapresiasi asesmen Moody's yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada posisi Baa2, dengan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif," tulis keterangan Kemenkeu, Kamis (5/2/2026).
Kemenkeu menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan transformasi ekonomi dan menghidupkan seluruh mesin pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah juga terus memastikan bahwa setiap potensi risiko dapat dikelola dengan baik. Berbagai upaya debottlenecking yang menghambat aktivitas usaha terus dilakukan.
"Selain itu, Pemerintah bersama Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas harga dan nilai tukar serta stabilitas pasar keuangan. Sinergi fiskal dan Danantara akan dioptimalkan,".
Pemerintah optimistis kondisi ekonomi Indonesia ke depan tetap membaik. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2025 sebesar 5,39 persen, yang melampaui ekspektasi pasar.
Dengan konsistensi kebijakan dan sinergi fiskal, moneter, serta optimalisasi Danantara, pemerintah yakin kepercayaan investor akan terus meningkat dan pertumbuhan ekonomi dapat dipercepat demi kesejahteraan masyarakat.
"Pemerintah optimis dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan kesejahteraan rakyat. Indikasi perbaikan ekonomi telah terlihat sejak Semester II 2025 dengan berbagai indikator yang membaik,".
Dalam laporannya, Moody’s menekankan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tetap menjadi pilar utama profil kredit negara. Pertumbuhan PDB riil diperkirakan stabil dalam jangka menengah, ditopang oleh kekayaan sumber daya alam dan struktur demografi yang mendukung.
Selain itu, utang pemerintah dinilai tetap terkendali berkat kebijakan fiskal dan moneter yang prudent, serta inflasi yang terjaga dalam sasaran.
"Pengelolaan kebijakan fiskal sebagai instrumen kebijakan pembangunan dan pengelolaan ekonomi untuk akselerasi pertumbuhan, kini mendapatkan tambahan energi dengan hadirnya Danantara sebagai engine of growth baru. Danantara berperan dalam pengelolaan aset dan investasi yang penting dalam peningkatan produktivitas dan akselerasi pertumbuhan ekonomi,".
Sedangkan dalam konteks investasi, APBN akan lebih berperan sebagai katalis yang menciptakan ekosistem yang sehat.
APBN dioptimalkan peranannya untuk meningkatkan taraf hidup rakyat melalui peningkatan belanja yang menyasar langsung ke rakyat, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, ketahanan pangan dan Program Perumahan Rakyat, serta layanan publik.
Moody’s juga mengapresiasi kemampuan institusi Indonesia dalam mengelola tekanan eksternal, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan.
Moody's menyampaikan pentingnya menjaga prediktabilitas pengambilan kebijakan, komunikasi publik, dan kualitas koordinasi antarkementerian/lembaga di tengah perubahan kebijakan dan tata kelola pengelolaan perekonomian yang sedang berjalan.
Selain itu, Moody's juga menyampaikan pentingnya memperkuat basis penerimaan negara untuk mendukung belanja-belanja prioritas dan menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.