Fakta atau Mitos, Tidur Setelah Sahur Disebut Berisiko Bagi Kesehatan, Ini Penjelasan Dokter
Argia Melanie Pramesti February 06, 2026 12:34 AM

Grid.ID - Kebiasaan tidur kembali setelah sahur kerap dilakukan banyak orang selama Ramadan, terutama untuk mengejar waktu istirahat. Namun, kebiasaan ini ternyata tidak dianjurkan karena dapat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh.

Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Coana Sukmagautama mengatakan bahwa setelah makan sahur, sistem pencernaan membutuhkan waktu untuk bekerja secara optimal. Jika tubuh langsung berbaring dan tertidur, proses pencernaan menjadi tidak maksimal.

Salah satu dampak yang paling sering terjadi adalah naiknya asam lambung. Posisi tidur setelah makan dapat memicu asam lambung naik ke kerongkongan dan menyebabkan rasa panas di dada atau tidak nyaman di tenggorokan.

Selain itu, tidur setelah sahur juga dapat menimbulkan keluhan seperti perut kembung, mual, hingga nyeri lambung. Kondisi ini terjadi karena makanan lebih lama tertahan di dalam perut.

Bagi orang yang memiliki riwayat maag atau gangguan lambung, kebiasaan ini berisiko memperparah kondisi yang sudah ada. Tekanan pada lambung saat berbaring bisa memicu keluhan lebih berat.

Tidur terlalu cepat setelah sahur juga dikaitkan dengan gangguan metabolisme. Tubuh yang belum selesai mencerna makanan akan kesulitan mengatur kadar gula darah secara stabil.

Akibatnya, seseorang bisa merasa lemas, mengantuk berlebihan, atau justru cepat lapar saat menjalani puasa. Kondisi ini tentu dapat mengganggu aktivitas sepanjang hari.

Dokter menyarankan agar memberikan jeda waktu setelah sahur sebelum kembali tidur. Jeda ini penting agar tubuh memiliki kesempatan untuk memproses makanan dengan baik.

Waktu jeda yang dianjurkan umumnya sekitar satu hingga dua jam setelah makan. Selama jeda tersebut, disarankan untuk tetap duduk atau melakukan aktivitas ringan.

Aktivitas ringan seperti berjalan santai, membaca, atau berzikir dapat membantu kerja sistem pencernaan. Cara ini dinilai lebih aman dibanding langsung berbaring.

Selain soal waktu tidur, jenis makanan sahur juga perlu diperhatikan. Makanan tinggi lemak dan terlalu berat sebaiknya dihindari karena memperlambat proses pencernaan.

Pilihan makanan berserat, protein secukupnya, dan cairan yang cukup lebih dianjurkan agar tubuh tetap bertenaga selama puasa. Pola makan yang tepat dapat mengurangi risiko gangguan lambung.

Tidur setelah sahur juga dapat mempengaruhi kualitas tidur secara keseluruhan. Tidur dalam kondisi perut penuh dapat membuat tidur tidak nyenyak dan mudah terbangun.

Untuk menghindari hal tersebut, dokter menyarankan mengatur waktu tidur lebih awal di malam hari. Dengan begitu, kebutuhan istirahat tetap terpenuhi tanpa harus tidur setelah sahur.

Mengubah kebiasaan tidur setelah sahur memang tidak mudah, tetapi penting untuk kesehatan jangka panjang. Langkah kecil ini dapat membantu tubuh beradaptasi lebih baik selama Ramadhan.

Dengan memahami risikonya, masyarakat diimbau untuk lebih bijak mengatur pola makan dan tidur saat sahur. Tujuannya agar ibadah puasa tetap lancar dan tubuh tetap sehat sepanjang Ramadan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.