Sinyal Positif, Industri Tekstil Nasional Sukses Tumbuh 4,37 Persen di Akhir 2025
February 06, 2026 01:35 AM

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA – Kabar gembira datang dari sektor manufaktur Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2025 yang menunjukkan performa impresif dari industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Meski dibayangi ketidakpastian global, subsektor ini berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,37 persen secara tahunan (year-on-year).

Angka ini menjadi bukti nyata bahwa fondasi industri padat karya di tanah air masih sangat kokoh.

Baca juga: Pasar Anggada Cibinong Pusat Tekstil di Kabupaten Bugor Sejak Tahun 90an, Begini Kondisinya Saat Ini

Kebijakan Pemerintah Jadi Penyelamat Pemulihan signifikan ini tidak lepas dari langkah strategis pemerintah dalam memproteksi industri dalam negeri.

Penguatan pengawasan impor dan pemberian insentif fiskal dinilai sebagai kunci utama stabilnya utilisasi pabrik.

Iqbal Khusaini dari Aliansi Masyarakat Tekstil Indonesia (AMKI) mengapresiasi kinerja Kementerian Perindustrian, Kemendag, dan Kemenkeu yang konsisten menjaga ekosistem TPT.

“Ini bukti nyata bahwa keberpihakan terhadap industri strategis benar-benar dijalankan, bukan sekadar wacana,” tegas Iqbal dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).

Permintaan Domestik Melonjak

Selain faktor kebijakan, kenaikan permintaan di dalam negeri menjelang akhir tahun 2025 menjadi pendorong utama.

Sektor fashion, seragam, hingga tekstil rumah tangga mengalami tren positif, bahkan beberapa pabrik mulai menaikkan kapasitas produksi untuk menyambut semester pertama 2026.

Meski performa sedang membaik, AMKI menyayangkan adanya pihak-pihak yang kerap menebar sentimen negatif terkait kondisi industri tekstil nasional.

Menurut Iqbal, kritik yang tidak berbasis data hanya akan memperkeruh persepsi pasar.

“Kepentingan nasional harus diutamakan di atas kepentingan kelompok. Industri tekstil ini menyerap jutaan tenaga kerja dan sangat sensitif terhadap sentimen,” ujarnya.

Tantangan 2026: Modernisasi dan Efisiensi

Menatap tahun 2026, industri TPT nasional diharapkan tidak terlena. AMKI mengingatkan bahwa tantangan global belum sepenuhnya reda.

"Persaingan dengan produk impor berharga murah, fluktuasi nilai tukar, serta ketidakpastian ekonomi global masih menjadi faktor risiko yang perlu diantisipasi bersama," ucap Iqbal. 

Oleh karena itu, kesinambungan kebijakan proteksi yang terukur dan berbasis data dinilai penting agar momentum pertumbuhan tidak terhenti.

Ke depan, pelaku industri berharap pemerintah terus memperkuat ekosistem hulu hingga hilir, termasuk pengembangan bahan baku dalam negeri, modernisasi mesin produksi, serta peningkatan daya saing melalui efisiensi energi dan digitalisasi manufaktur.

"Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah dan dunia usaha, tren positif pada Q4 2025 diharapkan menjadi pijakan kuat untuk pertumbuhan yang lebih berkelanjutan di tahun 2026," tandas Iqbal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.