TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH – Potret keterbatasan ekonomi masih nyata dirasakan sebagian warga di pelosok desa di Kabupaten Mamuju Tengah.
Seperti halnya tergambar dalam kehidupan Arif Usman (58) dan anaknya, RD (11).
Keduanya tinggal di Desa Kuo, Kecamatan Pangale, Kabupaten Mamuju Tengah.
Baca juga: HMI Fikom Soroti Pencemaran Lingkungan di Desa Kire Diduga dari Limbah Pabrik PT Surya Raya Lestari
Baca juga: 2 Korban Ditabrak Fortuner Anak Pejabat Mamuju Patah Tulang, Dirawat di RS Berbeda
Mereka menghuni sebuah gubuk berukuran sangat kecil, sekitar 2 x 3 meter.
Gubuk itu dibangun di atas sepetak tanah milik keluarga Usman.
Secara fisik, kondisi tempat tinggal tersebut jauh dari standar layak huni.
Bangunan itu tidak dialiri listrik, tidak memiliki penerangan memadai, dan nyaris tanpa perabotan rumah tangga esensial.
Di dalam ruangan sempit itu, hanya terdapat kain yang berfungsi sebagai alas tidur bagi Usman dan anaknya.
Ketiadaan tempat tidur, lemari, atau perabotan lain semakin menyulitkan kehidupan sehari-hari.
Saat malam tiba, aktivitas terpaksa sangat dibatasi karena hanya mengandalkan cahaya alami bulan atau penerangan seadanya berupa pelita atau lentera dari botol kaca.
“Saya sudah dua tahun tinggal di sini,” ucapnya kepada jurnalis, Jumat (6/2/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Usman harus bekerja serabutan.
Baca juga: Harga Emas Batangan Antam Jumat 6 Februari 2026 Kembali Anjlok, Turun Rp 100 Ribu Per Gram
Kadang menangkap ikan di sungai untuk dijual atau menjadi buruh tukang harian.
Menurutnya, ia memiliki keahlian sebagai tukang. Namun, karena kondisi kesehatan yang sering sakit-sakitan, dirinya tidak bisa menerima tawaran pekerjaan yang jauh dari rumah.
“Paling sekitaran di sini saja saya sebagai buruh harian, atau pergi tangkap ikan,” pungkasnya. (*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com, Sandi Anugrah