SURYA.CO.ID, SURABAYA — Pemkot Surabaya menjalin kerja sama dengan 38 hotel di Kota Pahlawan.
Melalui kerjasama ini, Pemkot memfasilitasi penyerapan produk kebutuhan operasional hotel melalui usaha mikro dan warga lokal.
Penandatanganan Naskah Kesepakatan Bersama (NKB) ini dilakukan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dengan petinggi hotel, Jumat (6/2/2026) di Balai Kota Surabaya.
Kerja sama ini mencakup bahan pangan hingga produk perlengkapan seperti slipper hotel.
Slipper hotel atau sandal hotel adalah alas kaki ringan dan tipis yang disediakan di kamar hotel sebagai bagian dari fasilitas yang diberikan gratis oleh pihak hotel untuk melindungi kaki dari lantai dingin atau kotor, serta menjaga kebersihan.
Baca juga: Pemkot Surabaya Dukung Program Gentengisasi, Kaji Alternatif Material Atap Modern
Melalui kolaborasi tersebut, hotel-hotel akan menyerap sedikitnya 5,6 ton daging ayam dan 600 kilogram daging sapi, 4,7 ton sayuran, 12 ton buah-buahan, 3.200 liter susu segar, 8 ton telur, 3,5 ton beras, 4,3 ton gula, 2,6 ton minyak goreng, serta 39.000 pasang slipper produksi lokal.
Wali Kota Eri mengatakan, kerja sama ini merupakan tindak lanjut pertemuan Pemkot bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang sebelumnya telah dilakukan.
"Kami sampaikan bahwa pemerintah kota itu akan memberikan kemudahan baik dalam perizinan terkait detailnya dan lain-lainnya,” kata Eri.
Baca juga: Soal Titik Reklame Pemkot Surabaya Diminta Sampaikan Terbuka Syarat Pengajuan
Melalui kolaborasi ini, Pemerintah berharap investasi dan aktivitas usaha hotel juga memberikan manfaat langsung bagi warga Surabaya.
"Tapi kami juga meminta apa yang bisa didapatkan oleh pemerintah kota, bukan untuk pemerintah kotanya tapi untuk warga-warga Kota Surabaya. Agar investasi ini bermanfaat untuk warga sekitar,” ujarnya.
Eri menjelaskan, kolaborasi ini juga menjadi strategi untuk meningkatkan okupansi hotel pascapandemi Covid-19.
Pemkot akan menggandeng hotel dalam berbagai kegiatan pemerintahan, promosi pariwisata, hingga pemasaran bersama.
“Kalau kita tidak bersatu, maka sulit untuk menaikkan okupansi. Berarti acara-acara pemerintah Kota Surabaya itu harus di-collab dengan hotel-hotel. Ketika hotel ini punya jaringan, maka kegiatan di Surabaya juga bisa dimunculkan di tempat-tempat mereka yang ada di Indonesia Timur dan tempat lainnya,” jelasnya.
Baca juga: Arah Pembangunan 2026 Pemkot Surabaya : Fokus Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial
Wali Kota Eri menyebut, kesepakatan ini sekaligus menjadi tantangan bagi Pemkot untuk memastikan pasokan produk lokal memenuhi standar kualitas hotel.
Karena itu, sejumlah dinas seperti Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) hingga Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan (Dinkopdag) akan menyiapkan rantai pasok yang profesional.
“Ketika tanda tangan ini, maka secara otomatis pemerintah kota harus bisa memenuhi kebutuhan mereka sesuai dengan standar dan kualitas yang mereka tetapkan. Jadi dinas-dinas harus menyiapkan,” tegasnya.
Wali Kota dua periode ini mengatakan bahwa bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan bagian dari upaya menggerakkan ekonomi warga, khususnya pelaku UMKM dan petani lokal.
"Produknya ini bisa dipenuhi oleh warga Surabaya, seperti daging sapi, ayam, telur, gula, beras. Mereka sudah membuka diri, tinggal kita harus masuk memenuhi kebutuhan kualitas yang mereka tetapkan,” katanya.
Selain melalui kesepakatan ini, dia juga mengapresiasi kontribusi para pelaku usaha dan investor yang selama ini menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Surabaya melalui pajak.
"Pajak dari investor, dari hotel, restoran, itu yang kami salurkan untuk infrastruktur, sekolah gratis, pendidikan gratis, kesehatan gratis. Saya matur nuwun kepada seluruh investor yang ada di Surabaya,” katanya. (bob)