WARTAKOTALIVE.COM - Bupati Ngada Raymundus Bena bantah siswa di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan pulpen.
Raymundus Bena menyebut bahwa siswa berusia 10 tahun inisial YBR hampir mendapatkan beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) sebelum memutuskan mengakhiri hidupnya.
Kendala pencarian beasiswa PIP itulah menurut Raymundus yang memutuskan YBR mengakhiri hidup.
Menurut Bupati Ngada sehari sebelumnya, YBR diinformasikan oleh sekolah agar orang tuanya segera mencairkan bantuan beasiswa PIP ke Bank.
Namun di Kecamatan Jerubuu tempat YBR tinggal belum memiliki fasilitas perbankan sehingga Ibu YBR terpaksa harus ke pusat Kabupaten Ngada.
Setibanya di salah satu bank BUMN, dana PIP milik korban tidak bisa dicairkan.
Alasannya, karena secara kependudukan korban masih tercatat sebagai warga Kabupaten Nagekeo.
Pihak Bank pun menyarankan Ibu YBR membuat surat keterangan domisili.
Saat ditagih untuk melanjutkan proses pencairan beasiswa, Ibu YBR mengaku belum sempat.
Baca juga: KPAI: Kasus Bocah NTT Akhiri Hidup Jadi Darurat Nasional, Jangan Anggap Remeh!
“Keesokan malamnya, MGT ditanyakan lagi oleh anaknya, Mama sudah urus, kah, satunya beasiswanya?”
"Oh, belum, nanti saya, ee, saya akan urus itu, ya,” jelas Raymundus seperti dimuat Pos Kupang pada Kamis (5/2/2026).
Mengetahui Ibunya tidak mengurus beasiswa PIP, YBR kemudian memutuskan untuk tidak ke sekolah. Dia kemudian kembali ke pondok bersama neneknya.
Naas ternyata YBR memutuskan mengakhiri hidupnya pada Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 11.00 Wita.
Polres Ngada mengungkap ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi YBR bunuh diri.
Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino mengatakan, peristiwa tragis tersebut tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan akumulasi berbagai tekanan yang dialami korban.
“Jadi, ada banyak faktor yang menyebabkan anak ini mengakhiri hidupnya,” ujar Andrey melalui sambungan telepon, Kamis (5/2/2026).
Menurut Andrey, salah satu faktor yang teridentifikasi adalah keterbatasan ekonomi keluarga, termasuk ketidakmampuan korban membeli buku dan alat tulis sekolah.
Selain itu, korban juga kerap menerima nasihat dari orangtua. “Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya terkait alat tulis,” kata dia.
Faktor-faktor tersebut, lanjut Andrey, menjadi tekanan psikologis bagi korban hingga akhirnya memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya.
“Intinya berkaitan dengan persoalan dalam rumah tangga. Namanya juga keluarga, tentu selalu ada masalah,” ujarnya.
Diketahui seorang siswa SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) memutuskan mengakhiri hidup lantaran tidak mampu membeli buku dan pulpen pada Kamis (29/1/2026).
Siswa berusia 10 tahun itu menuliskan pesan terakhirnya yang berisi kekecewaan terhadap Ibunya karena tidak mampu membelikan buku dan pulpen yang nilainya kurang dari Rp10 ribu.
Adapun saat ditelusuri, Ibu korban hanya bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Ibu korban juga seorang janda yang harus menafkahi lima anaknya.
Anak berusia 11 tahun asal Ngada, NTT itu ternyata memiliki kehidupan yang memprihatinkan.
Anak kelima dari lima bersaudara itu hanya dibesarkan oleh neneknya usai ayahnya tidak kembali pulang saat merantau ke Kalimantan 11 tahun yang lalu.
Sementara Ibunya harus membesarkan empat kakaknya yang juga masih kecil.
(Wartakotalive.com/DES/PosKupang)