Bupati Ngada Bantah Siswa SD Meninggal karena Tak Punya Alat Tulis
Wawan Akuba February 06, 2026 08:38 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Bupati Ngada, Raymundus Bena, menegaskan bahwa kabar yang menyebut seorang siswa sekolah dasar berinisial YBR (10) mengakhiri hidup akibat tidak memiliki buku dan alat tulis tidak sesuai fakta.

Pernyataan tersebut disampaikan berdasarkan hasil penelusuran tim pemerintah daerah bersama keluarga korban.

YBR merupakan siswa kelas IV SDN Rutowaja, Desa Nenawea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Korban ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh pada Kamis (29/1/2026) siang.

Desa tempat tinggal korban berjarak sekitar 19 kilometer dari Bajawa sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Ngada dan berada di Pulau Flores, sementara ibu kota provinsi, Kupang, berada di Pulau Timor yang dipisahkan oleh Laut Sawu.

Baca juga: Kerugian Rp246 Miliar Dugaan Korupsi Gas PGN, Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Dicecar KPK

Raymundus menjelaskan, dari hasil pendalaman informasi, tidak ditemukan keterangan dari ibu maupun keluarga korban yang menyebut kematian YBR dipicu karena tidak memiliki perlengkapan sekolah.

Pemerintah daerah memilih menunggu hasil penyelidikan resmi aparat kepolisian sebelum menyimpulkan motif kejadian tersebut.

Meski demikian, pemerintah daerah mengakui keluarga korban masuk dalam kategori kemiskinan ekstrem atau Desil 1.

Kondisi tersebut disebut berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar keluarga, termasuk pendidikan anak.

Berdasarkan pemantauan lapangan, sejumlah faktor dinilai memengaruhi kondisi psikologis korban, di antaranya keterbatasan ekonomi, kurangnya pendampingan orang tua, beban utang keluarga, serta tekanan sosial.

Baca juga: Warga Gorontalo Skeptis Gentengisasi Prabowo, Idun Sahi Ungkap Testimoni 24 Tahun

Pemerintah Kabupaten Ngada mengungkapkan telah menurunkan Sekretaris Daerah, dinas terkait, serta pemerintah desa untuk melakukan pendampingan kepada keluarga korban.

Pemerintah juga melakukan koordinasi terkait status administrasi kependudukan korban yang masih tercatat di Kabupaten Nagekeo.

Terkait bantuan sosial, keluarga korban diketahui pernah menerima sejumlah program pemerintah, seperti bantuan langsung tunai pada 2023 dan 2025, bantuan pangan, jaminan kesehatan BPJS, serta bantuan ternak dari pemerintah desa.

Namun, keluarga juga memiliki beban utang koperasi mingguan dengan total sekitar Rp8 juta.

Sebagai langkah lanjutan, pemerintah daerah menyiapkan pendampingan psikososial bagi keluarga korban, bantuan kebutuhan pokok, dukungan pendidikan bagi saudara korban, serta pelatihan keterampilan melalui Balai Latihan Kerja.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Ngada menyatakan akan menanggung pelaksanaan ritual adat yang berkaitan dengan kematian korban.

Dalam tradisi masyarakat setempat, kematian yang dianggap tidak wajar memerlukan prosesi adat khusus yang harus dilaksanakan secara layak.

Bupati juga mengimbau masyarakat dan media untuk tidak menyebarluaskan foto maupun video korban serta menghindari penyebaran spekulasi yang dapat memperburuk kondisi psikologis keluarga.

Ia meminta semua pihak memberikan ruang kepada aparat penegak hukum untuk menuntaskan penyelidikan.

Polres Ngada diketahui telah memeriksa sejumlah pihak, termasuk ibu korban, nenek korban, kepala desa, kepala sekolah, serta beberapa pihak lain.

Hingga kini, hasil pemeriksaan tersebut belum disampaikan secara resmi kepada publik.

Baca juga: Putusan Cerai Reza Arap Viral Hingga Terungkap Hubungan dengan Sosok Sahabat Wendy

Kasus ini juga mendapat perhatian Kementerian Dalam Negeri yang menurunkan staf khusus untuk melakukan penelusuran lebih lanjut terhadap peristiwa tersebut.

Berdasarkan kronologi yang disampaikan pemerintah daerah, sehari sebelum kejadian, sekolah meminta korban menyampaikan kepada ibunya agar mencairkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP).

Namun, pencairan dana tersebut tidak dapat dilakukan karena data kependudukan korban masih tercatat di wilayah lain sehingga memerlukan dokumen tambahan.

Korban sempat menanyakan kepada ibunya mengenai proses pencairan bantuan tersebut.

Karena dana belum bisa dicairkan, korban kemudian memilih tidak masuk sekolah dan kembali ke pondok tempat tinggal bersama neneknya.

Pada Kamis pagi sekitar pukul 09.00 Wita, warga sempat melihat korban duduk di depan pondok dan mengaku mengalami pusing.

Sekitar pukul 11.00 Wita, warga menemukan korban dalam kondisi tergantung dan telah meninggal dunia.

Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa tersebut.

Ia menilai kejadian tersebut menjadi pengingat penting bagi pemerintah dan berbagai unsur sosial untuk memperkuat perlindungan terhadap masyarakat, khususnya anak-anak.

Gubernur menegaskan pentingnya optimalisasi berbagai program sosial agar mampu menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Ia juga meminta seluruh perangkat daerah meningkatkan kepekaan sosial serta memastikan peristiwa serupa tidak terulang kembali.

 (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.