TRIBUN-BALI.COM - Polres Jembrana membahas sejumlah hal dengan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jembrana saat kegiatan Jumah Curhat, Jumat (6/2).
Adalah langkah antisipatif untuk menjaga Kamtibmas menjelang perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948 yang berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Sebab, diketahui Jembrana merupakan wilayah dengan penduduk heterogen.
Dua poin utama yang dibahas adalah soal antisipasi gangguan Kamtibmas saat Hari Suci Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri. PHDI Jembrana juga sepakat terkait pengendalian penggunaan media sosial selama Nyepi untuk menghindari potensi gesekan di ruang digital.
Serta penekanan sosialisasi dan edukasi penggunaan dupa di rumah tanggal sebagai upaya mencegah terjadinya kebakaran.
Baca juga: Sutjidra Resmi Lantik 187 ASN, Bersamaan dengan Restrukturisasi OPD Pemkab Buleleng
Baca juga: TAK Sadarkan Diri, Usai Sudarsana Tertimpa Pohon Tumbang di Karangasem!
Mengingat, belum lama ini api dupa kembali diduga menjadi pemicu sebuah peristiwa kebakaran rumah warga di Desa/Kecamatan Melaya. Peristiwa tersebut meluluhlantakkan rumah warga berserta isinya. Bahkan terdapat dokumen penting seperti sertifikat hingga ijazah serta uang tunai hangus terbakar.
"Selain untuk mempererat komunikasi yang selama ini sudah terjalin dengan baik, sekaligus juga membahas langkah-langkah antisipatif terkait perayaan Hari Raya Nyepi yang berdekatan dengan Idul Fitri, agar seluruh rangkaian ibadah dapat berjalan aman, tertib, dan lancar," ujar Kapolres Jembrana, AKBP Kadek Citra Dewi Suparwati saat kegiatan Jumat Curhat dengan PHDI tersebut, Jumat (6/2).
Dia melanjutkan, diharapkan seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama menjaga toleransi dan saling menghormati antar umat beragama. Disisi lain, Polres Jembrana juga menyampaikan agar PHDI lebih menekankan sosialisasi penggunaan dupa secara aman guna mencegah potensi kebakaran.
Sementara itu, Ketua PHDI Jembrana, I Wayan Windra menjelaskan, meskipun seruan resmi terkait Nyepi 2026 masih menunggu dari pemerintah dan PHDI Provinsi Bali, pelaksanaan Nyepi tetap berlandaskan pada Catur Brata Penyepian sebagaimana berlaku di seluruh Bali.(mpa)
Di sisi lain, Ketua PHDI Jembrana, I Wayan Windra juga menekankan pentingnya dialog lintas umat beragama, mengingat karakteristik wilayah Jembrana yang heterogen. Diskusi intensif dengan unsur keagamaan lain, termasuk MUI, dinilai penting guna memastikan perayaan kedua hari besar keagamaan tersebut berlangsung dengan saling menghormati dan tanpa gangguan kamtibmas.
“Terkait Nyepi yang berdekatan dengan Idul Fitri, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan FKUB agar pelaksanaannya berjalan harmonis. Kami juga sepakat pentingnya pengendalian penggunaan media sosial selama Nyepi untuk menghindari potensi gesekan di ruang digital,” jelasnya. (mpa)