Negosiasi Nuklir Iran-AS Digelar di Oman, Kedua Negara Tetap Siaga Perang
Joanita Ary February 06, 2026 10:35 PM

WARTAKOTALIVECOM — Di tengah panasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, diplomasi Iran dan Amerika Serikat kembali bergerak di jalur sempit yang penuh kehati-hatian.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Jumat (6/2/2026), meninggalkan hotel tempatnya menginap di Muscat, Oman, menuju lokasi perundingan yang sejak awal dibayangi oleh bunyi mesin perang dari kedua kubu yang saling siaga.

Araghchi datang ke meja diplomasi dengan garis merah yang tegas. Iran, melalui pernyataan-pernyataan yang telah beredar di kalangan diplomat, hanya bersedia membahas isu penggunaan uranium dan program nuklir untuk kepentingan sipil.

Teheran menolak memperluas pembicaraan ke isu lain yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama dengan Washington, seperti pengembangan rudal balistik maupun dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan Timur Tengah.

Sikap tersebut mencerminkan strategi lama Iran dalam negosiasi internasional: memisahkan isu nuklir dari agenda keamanan regional yang dianggap Teheran sebagai urusan kedaulatan dan pertahanan nasional.

Bagi Iran, pembahasan rudal dan proksi bukan hanya sensitif secara politik, tetapi juga menyentuh jantung doktrin militernya di kawasan yang selama ini dipenuhi rivalitas dan konflik berkepanjangan.

Namun, diplomasi kali ini berjalan beriringan dengan eskalasi kekuatan militer yang tak kalah mencolok.

Dari wilayah Iran terdengar deru latihan peluncuran rudal Khorramshahr-4, salah satu sistem persenjataan jarak menengah yang kerap dipamerkan Teheran sebagai simbol kemampuan deternya.

Pada saat yang hampir bersamaan, militer Amerika Serikat meningkatkan aktivitasnya di kawasan.

Jet-jet tempur AS lepas landas dari dek kapal induk USS Abraham Lincoln, menandai kesiapan Washington menghadapi segala kemungkinan terburuk.

Kontras antara suasana tenang Muscat dan ketegangan militer di sekitarnya semakin terasa ketika pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan perintah evakuasi mendadak bagi warga negaranya yang berada di Iran.

Langkah ini memicu spekulasi luas tentang tingkat kekhawatiran Washington terhadap potensi eskalasi, meskipun perundingan masih berlangsung.

Bagi banyak pengamat, evakuasi tersebut menjadi sinyal bahwa diplomasi kali ini berjalan di atas fondasi yang rapuh.

Oman kembali memainkan peran tradisionalnya sebagai mediator yang relatif netral, menyediakan ruang dialog ketika jalur komunikasi langsung antara Teheran dan Washington nyaris buntu.

Negara Teluk itu selama bertahun-tahun dikenal sebagai jembatan diplomasi, terutama dalam isu-isu sensitif yang melibatkan Iran dan Barat. Namun, hasil pertemuan kali ini dipandang tidak akan mudah.

Jarak kepentingan kedua negara masih lebar, sementara tekanan politik domestik di masing-masing pihak terus membayangi.

Bagi Iran, keberhasilan diplomasi berarti pengakuan atas haknya mengembangkan teknologi nuklir sipil tanpa sanksi yang menjerat.

Bagi Amerika Serikat, setiap kesepakatan harus mampu menjawab kekhawatiran keamanan regional dan mencegah Teheran melangkah lebih jauh menuju kemampuan senjata nuklir.

Selama kedua tujuan itu belum bertemu, diplomasi akan terus berjalan di bawah bayang-bayang rudal dan kapal induk.

Pertemuan di Oman ini, dengan segala keterbatasannya, menunjukkan satu hal penting: dialog belum mati, meski suara mesin perang terdengar semakin dekat.

Dunia kini menanti apakah meja perundingan mampu meredam eskalasi, atau justru menjadi jeda singkat sebelum ketegangan memasuki babak yang lebih berbahaya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.