TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bulan Ramadan bukan hanya menjadi momentum spiritual bagi umat muslim, tetapi juga menjadi periode paling sibuk bagi industri hiburan Tanah Air. Sejumlah artis, presenter, musisi hingga komedian mengaku mengalami lonjakan tawaran pekerjaan setiap memasuki bulan suci tersebut.
Fenomena ini terjadi seiring meningkatnya produksi program televisi, konten digital, hingga kegiatan off air atau on air yang memang dirancang khusus menyambut bulan Shaum. Mulai dari program sahur, acara menjelang berbuka puasa, sinetron religi, hingga kegiatan dakwah hiburan menjadi ruang baru bagi para pekerja seni untuk tampil lebih intens dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Bagi sebagian artis, Ramadan bahkan disebut sebagai “musim panen job”. Dalam satu hari, tak jarang mereka harus berpindah dari satu program ke program lain, mulai dari syuting dini hari hingga kegiatan hiburan malam setelah waktu berbuka.
Baca juga: Dedy Budiman Bagikan Strategi Optimalkan Cuan di Bidang Penjualan dengan AI
Salah satu artis yang menerima job saat bulan Ramadan adalah Arbani Yasiz. Pemeran di series religi bertajuk 'Keluarga yang Tak Dirindukan' tersebut mengaku tidak terlalu berharap mendapatkan tawaran pekerjaan di bulan puasa.
"Kalau gue sih fleksibel ya. Kalau memang nggak ada proyek, ya sudah gue menempatkan diri gue kalau misalnya lagi nggak ada proyek di bulan Ramadan ya berarti gue fokus buat beribadah, fokus menjaga waktu buat ketemu sama keluarga terus, atau bukber sama teman-teman. Kalau kita lagi syuting kan agak susah buat membagi waktunya. Tapi balik lagi sih, fleksibel saja. Kalau memang harus kerja ya di situ saja, harus syuting juga aku nggak jadi masalah karena ibadah juga kan, karena kerja terus menghibur banyak orang," ujar Arbani kepada Tribun.
Arbani juga mengaku tiap tahun mendapatkan job saat bulan suci Ramadan. Hanya pada tahun sebelumnya ia mengaku tidak mendapatkan tawaran pekerjaan di bulan suci. "Baru tahun kemarin deh kayaknya yang nggak ada (syuting)," ujarnya.
Penyanyi religi senior, Haddad Alwi mengaku bulan suci Ramadan menjadi momen penuh berkah. Ia mengakui, setiap memasuki bulan puasa, jadwal panggungnya selalu mengalami peningkatan signifikan dibandingkan hari-hari biasa.
Haddad Alwi menuturkan permintaan untuk mengisi acara keagamaan datang dari berbagai daerah di Indonesia. "Ya, memang biasanya di bulan Ramadan, daerah-daerah itu lebih banyak mengadakan acara-acara. Otomatis, aktivitas kelilingnya Abi (sapaan akrabnya) lebih banyak dari biasanya," kata Haddad Alwi saat ditemui Tribun di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat.
Tingginya permintaan bahkan membuatnya harus selektif. Jika semua tawaran diterima, ia bisa saja tampil setiap hari sepanjang bulan. Namun, demi menjaga kondisi fisik dan kualitas vokal, Haddad Alwi secara sadar membatasi jadwalnya.
"Kalau dilayani bisa sebulan penuh, tapi kan nggak mungkin. Paling-paling kita batasi maksimal 20 kali," ujarnya.
"Nggak mungkin lebih, capek kitanya kan," lanjutnya.
Pembatasan ini, menurutnya sangat penting dilakukan.Selain karena harus menjaga suara untuk acara lainnya, faktor kelelahan akibat perjalanan jauh juga menjadi pertimbangan utama. "Suara ini kan juga harus dijaga juga. Mana perjalanan juga di luar pulau, kadang-kadang harus berapa kali naik pesawat kan gitu," jelasnya.
Saat ditanya rahasia menjaga stamina di tengah jadwal padat sambil berpuasa, Haddad Alwi menyebut bahwa puasa itu sendiri adalah kuncinya, asalkan dijalankan dengan benar. "Sebetulnya puasa itu sendiri menjaga stamina. Dengan catatan, jangan terus 'balas dendam' ketika buka puasa," tuturnya.
Musisi Mohammad Istiqamah Djamad atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Is Pusakata, memiliki pandangan unik tentang bulan suci Ramadan. Jika banyak musisi mengurangi jadwal panggung, mantan vokalis Payung Teduh ini justru mengaku lebih produktif dalam berkarya, bahkan sengaja memilih bulan puasa untuk melakukan rekaman musik.
Menurutnya, kondisi menahan lapar saat berpuasa secara tak terduga justru mampu memaksimalkan kreativitasnya dalam menulis lirik. "Posisi lapar, menahan lapar itu kayak memaksimalkan, enggak tahu kenapa, bagus-bagus liriknya kalau lagi puasa," kata Is.
Kebiasaan ini ternyata sudah ia lakukan sejak lama, bahkan sejak masih bersama band yang membesarkan namanya. "Serius, makanya suka rekaman kalau lagi Ramadan. Dari zaman Payung Teduh awal-awal kita rekamannya pas Ramadan," tambahnya.
Is merasakan adanya fokus dan suasana yang berbeda selama Ramadan, yang menurutnya sangat mendukung proses kreatif. Baginya, bulan ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri atau muhasabah.
"Aku merasa fokusnya beda, vibe-nya beda. Ramadan itu saatnya memikirkan betapa kacaunya diri kita kan sebenarnya. Banyak-banyak muhasabah," tuturnya.
Meski mengakui panggung musik di bulan puasa cenderung lebih sepi, hal itu tidak menyurutkan semangatnya. Tahun ini, Is Pusakata justru menggelar tur spesial. "Saya alhamdulillah, tahun ini bersama manajer saya, kita malah bikin tur," ujarnya.
Tur tersebut akan menyambangi tujuh kota yang telah terkonfirmasi di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Konsepnya pun unik, yakni menjemput bola dengan mendatangi titik-titik komunitas secara langsung.
"Kita kerja sama sama beberapa titik-titik komunitas sih, kalau tur-tur begini kan. Tur, bukan konser, tur. Kita yang menjemput bola," jelasnya.
Ketika disinggung mengenai adanya perbedaan tarif manggung selama bulan Ramadan, Is dengan tegas menyatakan tidak ada yang spesial. Menurutnya, memberikan perlakuan khusus atau melabeli kegiatan musiknya sebagai momen religi dari sisi komersial justru akan menghilangkan esensi kesuciannya.
"Kayaknya hal-hal seperti ini bukan hal yang direncanakan, guys. Terlalu dimodifikasi itu malah kita ngasih penamaan, kita tunjukin 'Ini momen religi,' gitu kan. Malah enggak religi jadinya," pungkas Is.
Terpisah, musisi Cakra Khan juga menaku memilih fokus total pada karya terbarunya jelang Ramadan. Meski memiliki sejumlah proyek yang sudah dikerjakan sejak tahun lalu dan dijadwalkan rilis tahun ini, penyanyi bersuara khas itu menegaskan saat Ramadan nanti perhatiannya akan tertuju pada satu lagu terlebih dahulu.
“Kalau untuk Ramadan, saya kayaknya fokus di lagu ini (Ketika Tangan dan Kaki Berkata),” ujar Cakra Khan kepada Tribun.
Menariknya, Ramadan tak membuat Cakra mengurangi aktivitas panggung. Ia menegaskan prinsip hidupnya sederhana kerja tetap kerja, termasuk saat berpuasa. Meski diakuinya, tantangan fisik tetap terasa ketika jadwal manggung padat di bulan puasa. “Kadang kalau waktunya pas puasanya kerasa. Tapi justru diusahakan seaktif mungkin, kerja tetap kerja supaya fokusnya ke hal lain,” kata Cakra.
Tidak hanya dari sisi hiburan seperti konser, sinetron dan acara komedi, artis juga bisa meraup cuan dari bisnis daring pakaian muslim seperti hijab dan sebagainya. Baru-baru ini, aktris sekaligus desainer Shireen Sungkar meluncurkan koleksi busana terbarunya bertajuk Luminaire dari Shi by Shireen sebagai bagian dari rangkaian penyambutan Ramadan dan Idul Fitri 2026.
Bahkan sebelum memasuki bulan puasa, koleksi ini sudah mencatat penjualan yang cukup baik di pasaran. Berdasarkan pantauan Tribunnews di Shopee pada Jumat (6/2/2026), koleksi Luminaire tersedia dalam empat tipe, yakni untuk wanita dewasa, pria dewasa, anak perempuan, dan anak laki-laki.
Untuk kategori wanita dewasa, desain bertajuk Serina Set Luminaire SHI menjadi yang termahal dengan harga Rp 1.046.000 dan telah terjual sebanyak 10 potong. Sementara itu, desain pria dewasa dibanderol Rp 540.500 dengan total penjualan mencapai 16 potong.
Adapun untuk anak perempuan, produk seharga Rp 475.000 telah terjual tiga potong. Sedangkan desain anak laki-laki yang dibanderol Rp 386.500 tercatat sudah terjual lima potong. Secara keseluruhan di sebuah marketplace Shireen Sungkar berhasil meraup pendapatan kotor sebesar Rp 22.465.500 dalam tujuh hari setelah koleksi tersebut diperkenalkan dalam ajang fashion show bertajuk Legacy.
Jumlah tersebut diraih bahkan sebelum Ramadan dan masih cukup jauh dari Hari Raya Idul Fitri. Angka itu juga belum termasuk penjualan melalui TikTok maupun penjualan langsung di berbagai cabang toko. Kepada Tribunnews, Shireen Sungkar mengungkapkan tidak ada promo khusus untuk koleksi terbarunya tersebut.
"Tidak Ada promo, produk launching duluan di website dan offline store. Setelah itu baru available di Shopee dan TikTok dengan harga yang berbeda karena ada admin fee dan lain lain," kata Shireen Sungkar melalui pesan WhatsApp.
Meski tanpa promo, Shireen optimistis koleksi busananya mampu memenuhi kebutuhan keluarga untuk momen Lebaran mendatang. Di sisi lain, ia juga menyadari bahwa kondisi ekonomi saat ini membuat daya beli masyarakat cenderung melemah.
Meski begitu, ia meyakini koleksinya ditawarkan dengan harga yang sepadan dengan kualitas yang diberikan. "Di masa ekonomi sulit pastinya tantangan cukup berat utk industri fashion. Kami tetap ikhtiar memberikan yang terbaik dan minta pertolongan Allah. Insyaa Allah kita semua bs melewatinya dengan baik," pungkasnya.
Jika penjualan konsisten hingga selesai setelah Lebaran, Shireen Sungkar diperkirakan bisa meraup sekitar Rp150 juta sampai Rp 1 miliar berdasarkan perhitungan penjualan 7 hari pertama dan platform penjualannya.
Diketahui, honor artis di bulan Ramadan, khususnya papan atas tembus mencapai ratusan juta per episode atau puluhan miliar selama sebulan. Hal ini didorong oleh banyaknya program sahur dan buka puasa, di mana tarif per episode bisa mencapai Rp100 juta-Rp500 juta.
Salah satu Tim Manajemen Artis yang enggan disebutkan Namanya menyebutkan honor artis berkisar diantara Rp 100-Rp 200 juta. Salah satu pertimbangan bayaran artis mahal atau tidak adalah dilihat dari tingkat popularitas, kepadatan jadwal baik off air atau on air, jenis acara dan Waktu tayang serta durasi dan kontrak eksklusif.
"Honor biasanya di atas Rp 100 juta," ujar Tim Manajemen Artis tersebut.
Ia menyebutkan artis biasanya bisa mengantongi hingga puluhan miliar rupiah saat sedang 'panen job' di bulan Ramadan. "Ya kira-kira segitu(puluhan miliar)," kata dia.