TRIBUNKALTARA.COM, BULUNGAN-Masih rangkaian Hari Lahan Basah Sedunia Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni bersama Gubernur Kaltara melakukan penanaman pohon mangrove di Dusun Siandau, Desa Liagu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara hari ini, Sabtu (7/2/2026) .
Penanaman mangrove ini diharapkan agar bisa memulihkan ekosistem mangrove serta perekonomian warga. Selain penanaman mangrove dilakukan juga penyerahan bantuan kepada kelompok.
Menhut Raja Juli Antoni mengatakan, peringatan Hari Lahan Basah Sedunia secara nasional tahun ini dipusatkan di Kalimantan Utara. Dalam hal ini, mangrove punya peran penting provinsi Kaltara ini sebagai penjaga ekosistem lahan basah Indonesia yang luas.
"Kalimantan Utara merupakan rumah bagi 326,396 ha hutan mangrove dan 347,451 ha lahan gambut, ekosistem lahan basah vital yang berfungsi sebagai penyerap karbon, habitat keanekaragaman hayati, dan penyangga alami terhadap erosi pantai dan cuaca ekstrem," ungkapnya.
Baca juga: Breaking News, Menhut Raja Juli Antoni ke Tambak Mangrove di Liagu Bulungan, Emak-emak Minta Dibantu
Untuk lahan basah di Kaltara memiliki peran penting bagi mata pencaharian masyarakat lokal dan Ketahanan Pangan, maupun untuk mencapai komitmen iklim nasional Indonesia dan tujuan lingkungan global.
“Saya berharap lahan basah ini tidak hanya tempat atau tanah yang basah, tetapi mengandung biodiversitas yang sangat tinggi sekali, sumber ekonomi yang sangat baik sekali, sekaligus menjadi sumber untuk penyerapan karbon yang sangat tinggi sekali,” ujar Menhut.
Sementarai tu Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan, I. Dyah Murtiningsih, mengatakan, Kementerian Kehutanan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dan masyarakat lokal memulihkan Ekosistem mangrove yang terdegradasi berbagai metode seperti penanaman dan regenerasi alami, sambil dukung ketahanan ekonomi warga pesisir yang hidup berdampingan dengan mangrove.
"Setiap pihak sepakat dibutuhkan serta kerangka kerja kolaboratif yang mengintegrasikan kebijakan pemerintah, partisipasi masyarakat, pembiayaan iklim, dan tanggung jawab korporat," ujarnnya.
Menurutnya, kegiatan rehabilitasi mangrove pada area dusun hari ini, terutama dan juga pada khususnya di kelompok, rehabilitasi mangrove ini tentu saja selain memberikan dampak ekologi bagi kawasan Provinsi Kalimantan Utara tentu saja juga bermanfaat secara ekonomi dalam hal ini.
"Karena posisi tanaman mangrove ini ini akan bisa merambah produktivitas daripada tambak yang dilakukan di sini," paparnya.
Baca juga: Hari Lahan Basah Sedunia di Tarakan Dihadiri Menhut dan Kedubes Kanada, Komitmen Kelola Mangrove
Penanaman mangrove ini atau rehabilitasi mangrove ini kata Dyah, akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Salah satunya meningkatkan produktivitas
"Sudah ada contoh paparan bapak-bapak petambak yang sudah menyampaikan bahwa produksi malah justru lebih bagus setelah ditanamkan mangrove," urainya.
Artinya ada juga aspek ekonomi tersentuh dari kegiatan ini. Tentu saja lanjutnya tetap dari pihaknya mengarahkan bahwa harus ada keseimbangan ekologi untuk mangrove ini harus tetap dijaga.
Ia mengatakan, di Kaltara ada 100 poktan untuk penanaman mangrove khusus uprogram mangrove yang terfokus resiliance. Kemudian untuk Provinsi Kaltara, telah ditanam 12.122 hektare.
"Sampai tahun 2024, sudah ditanam 6.543 hektare. Kemudian masuk 2026 5.579 hektare. Itu dilaksankan 93 pokmas. Hari ini kita salurkan maching grand bantuan kepada 6 pokmas nilai bantuan Rp680 juta keseluruhan," ujarnya.
Ia mengunkapkan, capaian rehabilitasi mangrove di Kalimantan Utara menunjukkan hasil signifikan dengan total luas rehabilitasi mencapai 6.543 Ha. Program ini tersebar di tiga kabupaten, yakni Bulungan, Nunukan, dan Tana Tidung, serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat pesisir.
Di Bulungan, rehabilitasi mangrove dilakukan di atas lahan seluas 2.917 Kegiatan tersebut tersebar di sejumlah wilayah pesisir, antara lain Desa Sekatak Bengara, Sekatak Buji, Salimbatu dan Tanjung Buka. Kawasan ini menjadi fokus pemulihan ekosistem mangrove karena memiliki peran penting sebagai pelindung garis pantai dan habitat biota laut.
Sementara itu, di Nunukan, rehabilitasi mangrove mencakup luasan 523 Ha. Lokasi kegiatan berada di wilayah Sekaduyun Taka dan Tepian. "Upaya rehabilitasi di daerah ini diharapkan dapat memperbaiki fungsi ekologis mangrove sekaligus mendukung mata pencaharian masyarakat setempat," lanjutnya.
Capaian terbesar berasal dari Tana Tidung, mencapai 3.103 Ha. Kegiatan dilakukan di sejumlah desa dan kawasan, yakni Bebatu, Sengkong, Tengku Dacing, Tana Merah dan Tana Merah Barat. Wilayah ini menjadi salah satu prioritas pemulihan mangrove di Kalimantan Utara karena luas kawasan pesisirnya yang strategis.
Secara keseluruhan, program rehabilitasi mangrove ini melibatkan 2.115 orang. Mulai dari tahap penanaman hingga pemeliharaan. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program, sekaligus mendorong peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem mangrove sebagai penyangga lingkungan pesisir dan mitigasi perubahan iklim.
Ia menambahkan, capaian program Matching Grants di Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Sepanjang pelaksanaan program, tercatat sebanyak 9 paket kegiatan berhasil direalisasikan dengan total nilai anggaran mencapai Rp 680.705.300. Program ini dirancang untuk mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui dukungan pembiayaan dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
Dari keseluruhan paket yang disalurkan, program Matching Grants ini memberikan manfaat langsung kepada sekitar 140 orang penerima manfaat. Para penerima berasal dari berbagai kelompok usaha masyarakat yang bergerak di sektor produktif, khususnya di wilayah pesisir dan sentra usaha kecil.
Adapun komoditas yang dikembangkan melalui program Matching Grants ini mencakup beberapa sektor unggulan. Pada sektor perikanan, dukungan difokuskan pada budidaya kepiting dan udang, yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi serta potensi pasar yang luas. Sektor ini menjadi salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat pesisir Kalimantan Utara.
"Selain itu, program ini juga menyasar sektor kriya dengan komoditas unggulan berupa kain batik dan kipas batik. Pengembangan kriya lokal ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk budaya sekaligus membuka peluang usaha kreatif bagi masyarakat, ujarnya.
Sementara pada sektor produk olahan, Matching Grants mendukung pengembangan berbagai produk pangan lokal, seperti petis, nata de coco, terasi, dan ikan asin. Produk-produk ini dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut, baik untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun untuk meningkatkan daya saing di pasar yang lebih luas.
Melalui program Matching Grants ini, pemerintah berharap dapat mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, memperkuat usaha mikro dan kecil, serta meningkatkan kesejahteraan penerima manfaat secara berkelanjutan.
(*)
Penulis: Andi Pausiah