BANGKAPOS.COM -- Pemerintah belum mementukan kapan awal puasa Ramadhan 1447 Hijriah.
Sebelum menetapkan awal Ramadhan, pemerintah lewat Kementerian Agama (Kemenag) RI akan melakukan sidang isbat terlebih dahulu.
Sidang isbat puasa merupakan tahapan untuk mengetahui posisi hilal (bulan sabit muda) berdasarkan perhitungan astronomi.
Baca juga: Arti Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammadin Thibbil Qulubi, Sholawat Syifa untuk Orang Sakit
Data ini nantinya akan menjadi dasar ilmiah awal sebelum mementukan 1 Ramadhan 1447 Hijriah.
Berdasarkan informasi resmi dari Kementerian Agama, sidang isbat penetapan 1 Ramadan 1447 H akan digelar pada:
Berdasarkan data hisab awal untuk 17 Februari 2026, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia terpantau berada di antara -2° 24.71' hingga 0° 58.08'.
Secara teknis, angka ini mengindikasikan bahwa hilal belum memenuhi kriteria MABIMS.
Baca juga: Doa Menyambut Bulan Puasa Ramadhan 2026 Lengkap Tulisan Arab dan Arti
Kendati demikian, masyarakat diimbau menunggu keputusan resmi yang akan diambil dalam sidang isbat setelah mempertimbangkan hasil verifikasi lapangan (rukyat).
Rangkaian sidang akan diawali dengan seminar pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kemenag, disusul dengan sidang tertutup, dan diakhiri dengan konferensi pers pengumuman hasil secara terbuka kepada publik.
Penyelenggaraan sidang isbat tahun ini terasa istimewa dengan hadirnya payung hukum baru, yakni Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 1 Tahun 2026.
Regulasi ini diterbitkan untuk memperkuat tata kelola penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah agar lebih transparan, akuntabel, serta mampu memberikan kepastian hukum bagi seluruh umat Islam di Indonesia.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa PMA ini merupakan tonggak sejarah dalam standardisasi penetapan waktu ibadah nasional.
"PMA ini menjadi panduan resmi agar penyelenggaraan sidang isbat berjalan tertib dan memberikan kepastian bagi umat dalam menjalankan ibadah," jelasnya, dikutip dari laman resmi Kemenag, Jumat (30/1/2026).
Salah satu poin utama dalam PMA Nomor 1 Tahun 2026 adalah penegasan penggunaan metode hisab dan rukyat secara terpadu.
Dalam praktiknya, hisab berfungsi sebagai dasar perhitungan ilmiah posisi hilal, sementara rukyat menjadi verifikasi faktual di lapangan.
“Kementerian Agama tidak menggunakan satu metode saja. Kami mengintegrasikan hisab dan rukyat secara bersamaan agar keputusan yang diambil memiliki kekuatan ilmiah sekaligus kekuatan keagamaan,” tambahnya.
Selain teknis penghitungan, regulasi ini juga mengatur secara rinci tata cara penyelenggaraan, mulai dari waktu pelaksanaan, unsur peserta, hingga mekanisme pengambilan keputusan.
Kehadiran PMA ini dipandang sebagai upaya negara dalam memperkuat pelayanan keagamaan berbasis data dan tata kelola yang akuntabel.
“Ini bukan sekadar soal penetapan awal bulan, melainkan bagian dari pelayanan keagamaan yang harus dikelola secara profesional,” tegas Abu Rokhmad.
Ia berharap regulasi baru ini dapat memperkuat kesatuan umat, memberikan kepastian hukum, serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap proses penetapan awal bulan hijriah nasional.
Berikut adalah poin-poin utama dalam aturan terbaru tersebut:
Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa lebih dahulu melalui metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal.
Berdasarkan Maklumat PP Muhammadiyah, 1 Ramadan 1447 H dipastikan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Penetapan ini merujuk pada perhitungan astronomis yang presisi, menggunakan pedoman Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Metode ini mengandalkan perhitungan posisi geometris benda-benda langit, Matahari, Bumi, dan Bulan untuk memberikan kepastian tanggal ibadah lebih awal kepada umat Islam, sekaligus meminimalisir perbedaan yang sering terjadi akibat hambatan pengamatan visual di lapangan.
Sebagai langkah persiapan bagi warga persyarikatan dan umat Islam secara umum, Muhammadiyah juga telah merilis jadwal Imsakiyah Ramadan 2026.
Berdasarkan jadwal tersebut, umat Islam yang mengikuti ketetapan Muhammadiyah diperkirakan akan menjalankan ibadah puasa selama 30 hari penuh.
Tidak hanya awal puasa, Muhammadiyah juga telah menentukan titik akhir bulan suci.
Hasil ijtimak menjelang Syawal menunjukkan bahwa 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri 2026 akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Selengkapnya, berikut jadwal puasa Ramadhan 2026 versi Muhammadiyah:
(Bangkapos.com/Serambinews.com/Tribunnews.com)