Sebuah studi terbaru menemukan menguap rupanya memiliki efek tidak biasa terhadap aliran cairan pelindung otak. Tim peneliti dari University of New South Wales Australia melakukan pemindaian pada area kepala dan leher 22 partisipan sehat.
Ketika pemindaian dilakukan, partisipan diminta untuk menguap, menarik napas dalam, menahan menguap, dan bernapas normal.
Karena menguap dan menarik napas dalam melibatkan mekanisme yang mirip, para peneliti awalnya menduga hasil pemindaian akan terlihat serupa, tapi rupanya berbeda. Mereka menemukan menguap dapat mendorong cairan serebrospinal (CSF) menjauh dari otak ke arah tulang belakang.
"Menguap memicu pergerakan CSF ke arah yang berlawanan dibandingkan saat menarik napas dalam. Dan kami semua cuma bisa terdiam, seperti, 'wah, ini benar-benar di luar dugaan'," kata ahli saraf Adam Martinac dikutip dari Science Alert, Sabtu (7/2/2026).
Kondisi ini membuat menguap diduga memiliki manfaat neurologis khusus seperti membantu 'membersihkan' limbah metabolik di otak dan mengatur suhu serta tekanan di dalam rongga kepala, meski mekanismenya masih perlu diteliti lebih lanjut.
Fenomena ini tidak muncul pada semua kasus dan lebih jarang terjadi pada partisipan laki-laki. Para peneliti mengingatkan ini juga bisa dipengaruhi gangguan dari alat pemindai itu sendiri.
Analisis juga menunjukkan napas dalam dan menguap meningkatkan aliran darah yang keluar dari otak, sehingga memberi ruang bagi darah segar untuk masuk.
Arah aliran darah tidak berubah saat menguap. Namun, pada tahap awal menguap, aliran darah arteri karotis yang masuk ke otak melonjak sekitar sepertiga, yang memberi indikasi bahwa menguap mungkin memiliki lebih dari satu fungsi biologis.
Selain itu, setiap partisipan ternyata memiliki pola menguap yang unik dan konsisten setiap kali mereka menguap. Hal ini menunjukkan tiap orang masing-masing memiliki pola tersendiri yang mengatur cara menguap.
"Fleksibilitas ini mungkin menjelaskan variasi pola menguap antarindividu, sambil tetap mempertahankan ciri khas yang spesifik pada tiap orang; dan mengisyaratkan bahwa pola menguap bukanlah sesuatu yang dipelajari, melainkan bagian bawaan dari pemrograman neurologis," tulis para peneliti.
Hingga kini, menguap masih menjadi fenomena yang cukup membingungkan dengan tujuan yang belum sepenuhnya jelas, meskipun perilaku ini ditemukan pada banyak spesies dan sering kali bersifat menular pada manusia maupun hewan.
"Menguap tampaknya merupakan perilaku yang sangat adaptif, dan penelitian lanjutan tentang makna fisiologisnya berpotensi memberikan pemahaman penting mengenai homeostasis sistem saraf pusat," tandas peneliti.







