Mahasiswa ISBI Aceh Inisiasi Program Ketahanan Akar Rumput di Desa Rawan Banjir Pidie Jaya
Mawaddatul Husna February 07, 2026 07:54 PM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Aceh Tengah

TribunGayo.com, TAKENGON - Banjir yang terus berulang di Desa Leubue, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, mendorong mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh menginisiasi program berbasis komunitas yang menitikberatkan pada penguatan ketahanan akar rumput.

Melalui Program Mahasiswa Berdampak dari Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Sains dan Teknologi.

Mahasiswa dari Jurusan Seni Rupa dan Desain (JSRD) ISBI Aceh menggagas program bertajuk Eco Art Healing Garden. 

Program ini dirancang sebagai respons jangka menengah terhadap banjir tahunan yang kerap merendam permukiman warga dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 70 sentimeter.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 2–28 Februari 2026 tersebut melibatkan 50 mahasiswa lintas himpunan.

Yakni Himpunan Mahasiswa Seni Rupa Murni, Desain Komunikasi Visual, Kria Seni, dan Desain Interior ISBI Aceh. 

Pelaksanaan program dibagi ke dalam empat divisi kerja dengan fokus pada ketahanan pangan, literasi visual kebencanaan, serta pemulihan psikososial pascabencana.

Koordinator Mahasiswa di lokasi kegiatan, Muhammad Uska Kalilullah, Sabtu (7/2/2026) mengatakan banjir tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi juga ruang hidup, relasi sosial, dan kondisi psikologis masyarakat. 

Oleh karena itu, pendekatan seni dan desain digunakan sebagai metode untuk membaca sekaligus mengelola situasi pascabencana.

Salah satu kegiatan utama program ini adalah pengelolaan lahan terdampak banjir menjadi kebun organik produktif.

Perancangan kebun disesuaikan dengan pola genangan, karakter tanah, dan kebiasaan bercocok tanam warga setempat. 

Selain sebagai sumber pangan alternatif, kebun tersebut dirancang sebagai ruang kolektif yang dapat dimanfaatkan bersama oleh masyarakat desa.

Mahasiswa juga Buat Mural

Selain kebun, mahasiswa juga membuat mural di sejumlah titik terdampak banjir.

Mural tersebut memuat pesan visual tentang ketahanan pangan, kesiapsiagaan bencana, dan relasi manusia dengan lingkungan. 

Proses pembuatannya melibatkan warga, khususnya kelompok pemuda desa, sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif terhadap risiko bencana.

Program ini juga menaruh perhatian pada pemulihan psikososial warga pascabencana.

Mahasiswa mengajak masyarakat terlibat dalam berbagai aktivitas kreatif, seperti berkebun, menggambar, dan membuat instalasi seni sederhana. 

Aktivitas tersebut ditujukan untuk membantu memulihkan rasa aman, memperkuat kepercayaan diri, serta mempererat hubungan sosial antarwarga.

Dosen pendamping program, Yulfa Haris Saputra SPd MSn menilai inisiatif mahasiswa ini memperluas cara pandang mitigasi bencana, khususnya melalui pendekatan seni. 

Menurutnya, seni tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi pascabencana, tetapi juga dapat menjadi metode mitigasi yang membangun kesadaran, membaca ruang, dan memperkuat ketahanan masyarakat.

“Padahal seni punya potensi strategis sebagai cara membaca ruang, membangun kesadaran, dan memulihkan masyarakat,” kata Yulfa.

Hal senada disampaikan anggota tim pendamping, Indra Setiawan MSn dan Muhammad Ghifari MSn yang menilai praktik ketahanan berbasis komunitas menjadi penting di tengah meningkatnya risiko bencana. 

Mereka menilai program tersebut menunjukkan bahwa ketahanan dapat dibangun dari bawah melalui kerja-kerja kecil yang konsisten.

Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Keuchik Desa Leubue, kelompok tani, pemuda desa, serta komunitas dari Banda Aceh. 

Pendampingan juga melibatkan Reza Gunawan dari Terminal Urban Farming Banda Aceh, dosen Desain Komunikasi Visual ISBI Aceh Iskanda, MSn serta Dian Permata Sari, MSn dari Program Studi Seni Teater ISBI Aceh.

Melalui pendekatan lintas disiplin ini, mahasiswa ISBI Aceh berupaya menawarkan alternatif mitigasi bencana yang tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik.

Tetapi juga penguatan kapasitas sosial dan kultural masyarakat desa rawan banjir. (*)

Baca juga: Tingkatkan Keselamatan Berkendara, Mahasiswa KKN Unimal Manfaatkan Paralon jadi Reflektor

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.