Modus Pesan Fiktif Ambulans Dipakai untuk Penagihan Utang, Arsya: Kami Salah bila Tolak Pesanan
muh radlis February 08, 2026 07:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Kasus dugaan penyalahgunaan layanan ambulans untuk penagihan utang pinjaman online (pinjol) di Kota Semarang menjadi sorotan.

Perempuan yang namanya dicantumkan sebagai “pasien” dalam pemesanan ambulans fiktif itu ternyata telah berulang kali mengalami teror penagihan, dengan jumlah utang yang tidak sesuai dengan nominal yang ditagihkan oleh pihak penelepon.

Owner PT Armada Ambulance Service Semarang, Arsya, mengungkapkan, perempuan tersebut mengaku sudah lama menjadi sasaran intimidasi debt collector, bahkan jauh sebelum insiden kedatangan ambulans.

“Yang bersangkutan bilang, ini bukan pertama kali. Ia sudah sering didatangi macam-macam, mulai dari kurir makanan, ojek online, sampai jasa sedot WC. Itu bukan sekali dua kali,” ujar Arsya, Sabtu (7/2).

Menurut pengakuan korban kepada Arsya, nilai utang pinjol yang saat ini masih menjadi tanggungannya tidak sampai Rp1 juta. Namun dalam praktik penagihan, ia dituntut membayar Rp14 juta.

“Angkanya jauh sekali. Dia sendiri kaget waktu kami sampaikan nominal yang disebutkan penelepon,” katanya.

Arsya menyebut, pola teror tersebut membuat korban dan keluarganya berada dalam tekanan psikologis. Bahkan pada malam sebelum kejadian, sebuah kendaraan sedot WC sempat berhenti cukup lama di depan rumah korban.

“Dari ceritanya, ini sudah mengarah ke teror. Bukan lagi penagihan biasa,” ujarnya.

ILUSTRASI - Ambulans milik PT Armada Ambulance Service Semarang yang ikut terdampak prank pinjol di Semarang Barat/TRIBUNJATENG/REZANDA AKBAR D.
ILUSTRASI - Ambulans milik PT Armada Ambulance Service Semarang yang ikut terdampak prank pinjol di Semarang Barat/TRIBUNJATENG/REZANDA AKBAR D. (TRIBUN JATENG/Rezanda Akbar D)

Fakta baru itu terungkap setelah pihak ambulans tiba langsung di lokasi dan berbincang dengan keluarga korban. 

Padahal sebelumnya, ambulans tersebut berangkat dengan asumsi tengah menangani kondisi medis darurat. Arsya menjelaskan, pemesanan ambulans diterima Selasa (3/2) sekitar pukul 11.40 WIB. 

Penelepon meminta ambulans datang pukul 12.00 WIB dengan alasan pasien akan kontrol ke dokter spesialis.

“Datanya lengkap. Nama pasien, alamat, rumah sakit tujuan, keterangan sakit. Tidak ada yang mencurigakan di awal,” kata Arsya.

Karena menganggap situasi darurat, Arsya yang juga merangkap sebagai sopir langsung mengerahkan armada ke lokasi di kawasan Semarang Barat.

Namun, setibanya di alamat yang dituju, pihak ambulans justru mendapat respons mengejutkan dari warga sekitar.
“Pemilik rumah pertama bilang ini kemungkinan fiktif. Nama pasien yang kami sebut ternyata rumah sebelah,” ujarnya.

Saat dikonfirmasi ke rumah yang dimaksud, perempuan yang namanya tercantum dalam data ambulans memaparkan, dirinya bukan pemesan ambulans dan tidak dalam kondisi sakit.

Arsya dan tim kemudian kembali menghubungi nomor pemesan. Pada awalnya, penelepon bersikeras bahwa data yang diberikan benar.

“Dia bilang alamat benar, nama benar, sakit benar,” kata Arsya.

Namun di akhir percakapan, maksud sebenarnya baru terungkap. Penelepon meminta agar pihak ambulans menagih utang pinjol sebesar Rp 14 juta kepada perempuan tersebut.

“Kami langsung menolak. Kami ambulans, bukan penagih utang,” tegasnya.

Tak lama berselang, sebuah ambulans lain datang ke lokasi dengan nama pasien, alamat, dan nominal utang yang sama. Selang sekitar lima menit kemudian, ambulans ketiga menyusul.
“Total ada tiga ambulans. Semua dapat order dari nomor yang sama, juga mengatakan nilai yang sama Rp 14 juta,” ujar Arsya.

Selain ambulans, sebuah kendaraan jasa angkut berbasis aplikasi juga datang ke lokasi dengan perintah serupa, meski menggunakan nomor pemesan yang berbeda.

Layanan Kemanusiaan Dirugikan

Arsya menyebut, peristiwa tersebut tidak berhenti di hari itu saja.

Keesokan harinya, kejadian serupa kembali terulang dengan pola yang hampir identik.

“Besoknya kejadian lagi. Lokasi hampir sama, jam hampir sama. Nomor beda, tapi skemanya sama,” katanya.

Meski mulai curiga, pihak ambulans tetap berangkat karena mengutamakan prinsip layanan kemanusiaan.

“Ambulans tidak bisa menilai dari telepon, apakah ini benar atau tidak. Kalau kami menolak, maka salah, bisa bahaya,” ujarnya.

Arsya menegaskan, praktik semacam ini merugikan banyak pihak, baik secara materiil maupun moral.

“Bensin, waktu, tenaga, semua habis. Tapi yang lebih berat, layanan darurat dipakai sebagai alat tekanan,” katanya.

Ia khawatir jika pola ini dibiarkan, layanan publik lain seperti pemadam kebakaran, PMI, atau rumah sakit bisa mengalami hal serupa.

“Kalau ini jadi tren, dampaknya bisa fatal. Ambulans itu soal nyawa,” pungkasnya.

Peristiwa itu viral di media sosial setelah diunggah akun Instagram @informasi.semarang. 

Dalam unggahan tersebut terlihat tiga ambulans dan satu mobil pikap layanan pengiriman Lalamove berderet di depan sebuah rumah. (Rezanda Akbar)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.