Tradisi Bau Nyale Ajarkan Pengorbanan dan Harapan Kemakmuran
Sirtupillaili February 08, 2026 12:18 PM

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Tradisi Bau Nyale bukan sekedar event tahunan biasa. Kisah dalam legenda Putri Mandalika mengajarkan nilai-nilai pengobanan yang sangat mulia untuk kebaikan bersama.

Gubernur Provinsi NTB Lalu Muhamad Iqbal yang hadir pada malam perayaan Bau Nyale 2026, mengajak masyarakat memaknai filosofi pengorbanan yang terkandung dalam tradisi Bau Nyale ini.

Malam itu, Sabtu (7/2/2026), ribuan warga dan wisatawan hadir untuk mengikuti tradisi tahunan Bau Nyale di pantai yang bersebelahan dengan Sirkuit Mandalika itu.

Saat acara festival berlangsung, hujan deras sempat mengguyur lokasi acara. Namun hal itu tidak menyurutkan niat masyarakat untuk mengikuti serangkaian acara festival. 

Hadir pula dalam acara itu Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, Kapolda NTB Irjen Pol Edy Murbowo, serta Wakapolda NTB Brigjen Pol Hari Nugroho.
 
Gubernur Iqbal pun mengapresiasi antusiasme masyarakat serta wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara, yang tetap memadati lokasi acara meski cuaca kurang bersahabat. 

“Alhamdulillah kita dapat bertemu di malam ini bukan sekadar menangkap nyale, tetapi kita belajar dari kearifan lokal yang ada di Bau Nyale,” katanya.

Baca juga: Malam Festival Bau Nyale Diguyur Hujan, Warga Tetap Antusias

lihat foto
BAU NYALE - Gubernur Provinsi NTB Lalu Muhamad Iqbal memberikan sambutan saat pembukaan Festival Bau Nyale 2026, di Pantai Seger, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, Sabtu (7/2/2026) malam.

Selain menjadi atraksi budaya, alam puncak Bau Nyale juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui meningkatnya aktivitas pelaku UMKM. Penampilan musisi lokal dan tembang Sasak turut memeriahkan acara yang menjadi agenda tahunan pariwisata NTB tersebut.

Hujan yang turun malam itu diharapkan dapat dimaknai sebagai pertanda baik bagi kemakmuran daerah.

“Mudah-mudahan hujan ini tanda berkah. Kan seperti itu kita berdoa agar makmur, nah makanya hujan ini turun agar makmur mendunia, insya Allah,” tutupnya.

Legenda Putri Mandalika

lihat foto
MONUMEN: Monumen Putri Mandalika menceritakan saat-saat sang putri hendak menceburkan diri ke laut ketika dikejar para pangeran, Jumat (8/1/2021).

Dalam cerita Putri Mandalika, sang putri digambarkan sebagai sosok yang rupawan dan bijaksana, jauh dari rasa egois karena ia tak menaruh kepentingannya di atas milik orang lain.

Selain karakter putri Mandalika, sosok orang tua sang putri, Raden Panji Kusuma dan Dewi Seranting juga dikenal arif dan memiliki tenggang rasa tinggi terhadap sesama. 

Dikutip dari Indonesiakaya, kerajaan di Pulau Lombok ini digambarkan menghadap ke hampar Samudra Hindia, namanya Kerajaan Sekar Kuning di negeri Tonjeng Beru.

Dalam kisah ini, pesona Putri Mandalika memikat hati para pangeran. Mereka berebut mempersuntingnya menjadi permaisuri. Namun, persaingan ini menimbulkan perpecahan dan mengancam kerukunan di negerinya. 

Sang putri yang tak ingin negerinya hancur dalam perang besar memilih menceburkan dirinya ke laut demi kedamaian negeri. 

Kepergian sang putri menjadi duka seluruh negeri. Raja dan rakyat berusaha mencari sang putri di pantai selatan, namun yang ditemukan hanya cacing laut warna warni yang disebut nyale. Warga percaya dialah jelmaan putri mandalika.

Legenda Putri Mandalika hingga kini masih hidup dan dipercayai masyarakat lombok. Salah satu wujudnya yakni dengan menggelar tradisi bau nyale. 

Tradisi bau nyale ini biasanya digelar setiap tanggal 20 bulan 10 dalam penanggalan tradisional sasak, tepatnya 5 hari setelah bulan purnama. Tanggal ini biasanya bertepatan dengan bulan februari dan maret.

Tradisi Bau Nyale sendiri diambil dari bahasa Sasak, yakni "Bau" artinya menangkap. Sedangkan "Nyale" adalah cacing laut yang ditangkap. Sehingga tradisi Bau Nyale adalah tradisi menangkap cacing laut. 

Selama ini tradisi Bau Nyale hanya hidup di masyarakat pesisir Lombok bagian selatan. Kini sudah menjadi event pariwisata yang digelar setiap tahun di Pantai Seger, Mandalika, Lombok Tengah.   

Bagi warga setempat, pantai ini diyakini menjadi tempat sang putri menceburkan diri sebelum menjadi cacing laut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.