Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo
POS-KUPANG.COM, ENDE – Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda merespon kritikan masyarakat dan anggota DPRD terkait rencana Pemerintah Kabupaten Ende merevitalisasi Lapangan Pancasila menjadi taman kota dengan berbagai fasilitas.
Bupati Yosef Badeoda menegaskan, rencana pembangunan Dermaga Nila di wilayah Desa Nila, Kecamatan Ndona tidak proporsional jika dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat Kabupaten Ende secara keseluruhan.
Menurut Ketua DPC PDIP Ende itu, anggaran pembangunan dermaga tersebut sangat besar dan tidak sebanding dengan manfaat yang akan diterima, sementara kemampuan keuangan pemerintah daerah juga terbatas.
“Kalau hanya warga Nila, keliru. Warga Nila tidak sebanding dengan masyarakat Kabupaten Ende seluruhnya. Kalau mau memilih bangun dermaga di Nila, itu tidak proporsional karena anggarannya sangat besar dan tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat. Pemda juga tidak sanggup,” tegas Yosef, Sabtu (7/2/2026) malam.
Ia menjelaskan, masyarakat Nila sebenarnya masih memiliki alternatif lain yang lebih realistis, yakni peningkatan akses jalan darat.
Menurutnya, peningkatan jalan darat tersebut sudah direncanakan dan akan mulai ditingkatkan pada tahun ini.
“Masyarakat Nila bisa memilih akses jalan darat yang memang sudah mau ditingkatkan tahun ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bupati Yosef Badeoda menyebutkan berdasarkan berbagai kajian yang telah dilakukan selama ini, pembangunan dermaga di wilayah pantai selatan tidak memungkinkan untuk direalisasikan dan tidak direkomendasikan.
“Berdasarkan kajian yang dibuat selama ini, pembangunan dermaga di pantai selatan tidak dimungkinkan dan tidak direkomendasikan. Jadi jangan paksa diri dan jangan omon-omon saja. Harus realistis,” katanya.
Baca juga: Bupati Ende Yosef Badeoda Tiru Ilmu dari Singapura Demi Keceriaan Genarasi Muda
Selain menyinggung soal dermaga, Bupati Yosef juga menanggapi kritik terkait rencananya pembangunan taman kota di Lapangan Pancasila.
Ia menegaskan, taman kota merupakan bagian dari penataan kota dan pemanfaatan aset pemerintah daerah untuk kegiatan produktif yang dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Taman kota adalah bagian dari penataan kota dan memanfaatkan aset Pemda untuk kegiatan produktif dan PAD, salah satunya untuk membayar gaji dan tunjangan DPRD. Semua sudah sesuai perencanaan pemerintah untuk kepentingan rakyat,” jelasnya.
Ia bahkan meminta anggota DPRD Kabupaten Ende untuk turun langsung ke lapangan dan melihat kondisi fasilitas publik yang ada saat ini.
“Coba anggota DPRD turun ke lapangan. Lihat Lapangan Pancasila yang jadi kolam kalau hujan. Lihat Taman Rendo dan Taman KONI yang terbengkalai dan tidak terurus selama ini. Ke mana anggota DPRD selama ini? Jangan asal omong. Lihat sendiri kondisi lapangan dan taman-taman itu,” tegas Yosef.
Menurutnya, pembangunan dan penataan kota diperlukan agar Ende dapat berkembang menjadi kota yang modern dan tertata, bukan kota tua yang dibiarkan tanpa perawatan.
“Mau jadikan Kota Ende kota modern atau kota tua yang tidak terurus?” tandasnya.
Yosef juga menyinggung adanya penolakan dari oknum anggota DPRD terhadap sejumlah program pemerintah daerah.
Ia menilai sikap tersebut sebagai hal yang biasa dalam dinamika politik.
“Kalau ada oknum anggota DPRD yang menolak, itu sudah biasa. Mereka kan lebih pintar menghabiskan uang ketimbang mencari uang,” ujarnya.
Bupati Yosef kembali menegaskan seluruh kebijakan pembangunan yang diambil pemerintah daerah telah melalui perencanaan dan kajian, serta ditujukan untuk kepentingan masyarakat Kabupaten Ende secara luas. (bet)