Rohaimi dan Es Cokelat, Kisah Kepala Keluarga Disabilitas yang Pantang Menyerah
Pangkan Banama Putra Bangel February 08, 2026 01:50 PM

 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Memanfaatkan ramainya Car Free Day, Rohaimi (45), penyandang disabilitas di Palangka Raya, memilih berjualan es cokelat beku di kawasan Jalan Yos Sudarso setiap Minggu untuk menambah penghasilan keluarganya.

Sejak pagi, Rohaimi sudah bersiap dengan boks es sederhana bertuliskan “Eskrim Chocolatos – 5.000”.

Dengan kursi roda yang setia menemaninya, ia menempati sisi jalan yang ramai dilalui warga yang berkuliner atau sekadar berjalan santai.

Baca juga: Awal 2026, Karhutla Sudah Hanguskan 210,77 Hektare Lahan di Kalteng

Baca juga: Paling Murah Promo JSM Indomaret dan Alfamart Minggu 8 Februari 2026, Harga Kecap dan Gula

Tatapannya mengikuti lalu-lalang pengunjung, berharap ada yang berhenti membeli.

Usaha es cokelat beku itu telah digelutinya selama dua tahun terakhir.

Sebelumnya, Rohaimi sempat berjualan kerupuk. Ia kemudian beralih karena es cokelat dinilai lebih minim risiko.

“Kalau tidak habis, bisa dimasukkan freezer lagi,” ujarnya.

Tak hanya mengandalkan keramaian Car Free Day, hampir setiap malam Rohaimi juga berjualan di kawasan Bundaran Besar Palangka Raya. 

Dari rumahnya di Jalan Krakatau, ia berangkat menggunakan motor roda tiga.

Kursi rodanya dinaikkan ke motor, lalu diturunkan kembali setibanya di lokasi.

Ia mulai berjualan selepas salat Isya hingga sekitar pukul 22.00 WIB.

Penghasilan yang diperoleh tidak menentu.

Dalam sehari, omzetnya berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu, tergantung ramainya pembeli.

Meski tidak besar, hasil tersebut menjadi tumpuan hidup bagi keluarganya.

“Ada saja tiap hari,” katanya singkat.

Rohaimi menghidupi istri dan dua anaknya yang masih bersekolah.

Anak sulungnya kini duduk di bangku kelas VIII SMP, sementara anak bungsunya masih kelas II sekolah dasar.

Sesekali, anaknya ikut menemani berjualan, membantu mengambil atau mengantarkan barang.

Kondisi disabilitas yang dialami Rohaimi sudah sejak kecil.

Ia terserang penyakit polio saat berusia sekitar satu setengah tahun. 

Menurut penuturannya, kondisi itu diawali dengan demam tinggi.

Secara medis, demam merupakan salah satu gejala awal infeksi virus polio sebelum virus menyerang sistem saraf motorik dan menyebabkan kelumpuhan permanen, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.

Sejak saat itu, kursi roda menjadi bagian dari kehidupannya.

Namun keterbatasan fisik tidak membuat Rohaimi berhenti berusaha.

Ia memilih tetap bekerja dan berdagang sendiri, tanpa mengandalkan belas kasihan orang lain.

Dalam kesehariannya, Rohaimi menjalani peran sebagai kepala keluarga sepenuhnya.

Ia tinggal bersama istri dan anak-anaknya di Palangka Raya, menumpang di sebuah bangunan gudang sejak beberapa tahun terakhir.

Hidupnya sederhana, namun dijalani dengan keteguhan.

Di tengah riuh Car Free Day pada Minggu pagi dan keramaian kota pada malam hari, Rohaimi terus bertahan dengan caranya sendiri. 

Dari kursi roda dan es cokelat seharga Rp5.000 itu, tersimpan kisah tentang seorang ayah yang pantang menyerah demi memastikan keluarganya tetap bertahan dan anak-anaknya terus bersekolah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.