7 Fakta Terbaru PPPK RSPAU Tewas di Kontrakan Bekasi: Sosok Korban Hingga Pembunuh Tertangkap
Ferdinand Waskita Suryacahya February 08, 2026 03:07 PM

TRIBUNJAKARTA.COM - Misteri tewasnya NHW (33), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) Jakarta Timur mulai terkuak.

NHW tewas di rumah kontrakannya di Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi pada Rabu (4/2/2026).

Saat ditemukan, korban sudah meninggal dunia dengan posisi telentang, berselimut, dan kondisi tubuh sudah menghitam.

Selain itu, harta benda korban hilang antara lain sepeda motor Honda Vario, dua unit telepon genggam, dan satu buah dompet.

TribunJakarta.com merangkum tujuh fakta perkembangan terbaru kasus tewasnya PPPK RSPAU, Jakarta Timur:

1. Pelaku Tertangkap

Polisi menangkap dua pelaku pembunuhan terhadap NHW (33).

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan, motif pelaku saat ini masih didalami penyidik. 

"Memang pelaku sudah diamankan oleh Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Ini masih proses (pendalaman) terkait tentang apa motifnya," ujar Budi dikutip dari Kompas.com, Minggu (8/2/2026). 

PENAMPAKAN TKP -Garis polisi melintang rapat menyegel pintu masuk rumah kontrakan yang menjadi lokasi kejadian di Jatiwaringin, Bekasi, Sabtu (7/2/2026). Misteri tewasnya NHW (33), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) Jakarta Timur mulai terkuak. (KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA)

Menurut dia, nantinya motif dan kronologi pembunuhan PPPK RSPAU di Bekasi akan disampaikan setelah pemeriksaan pelaku selesai. 

"Jadi warga jangan berpikir lagi bias, ada rasa kekhawatiran bahwa pelaku belum diamankan," jelasnya. 

Budi menjelaskan, berdasarkan perkembangan penelusuran sementara, diketahui ada tindakan kekerasan terhadap NHW. 
"Nah artinya korban ini dibunuh oleh beberapa orang. Kami mendalami kalau tidak salah kemarin pelakunya ada dua orang ya. Masih dua orang," ungkap Budi.

2. Aroma Tajam Menyengat

Tempat kejadian perkara di Jalan Setia 2, Gang H Enting, Jatiwaringin, Pondok Gede, Kota Bekasi masih tercium
aroma busuk tajam masih menyengat di udara.

Padahal, kapur barus dan serbuk kopi telah ditaburkan di sepanjang celah dinding rumah tersebut. 

Garis kuning polisi pun melintang menyegel rumah petak sederhana itu.  

Bangunan sederhana berukuran sekitar 3 meter kali 9 meter itu tampak kontras dengan lingkungan padat di sekitarnya. 

Pintu kayu cokelat tua tertutup rapat di balik pagar besi hitam. 

Di teras sempit terlihat beberapa helai pakaian serta alat kebersihan yang tertinggal, seolah penghuni meninggalkan tempat secara mendadak. 

3. Sosok Korban

Slamet (62), pemilik kontrakan, mengatakan, NHW menempati rumah kontrakannya selama sekitar dua tahun. Dia paham NHW gemar berolahraga hingga nge-gym.  

“Orangnya baik dan sopan, memang pendiam. Tapi teman-temannya banyak, karena dia senang olahraga, lari, dan ikut lari-lari 5K atau 10K,” kata Slamet saat ditemui di bengkel miliknya tidak jauh dari lokasi kontrakan dikutip dari Kompas.com, Sabtu (7/2/2026). 

PENEMUAN MAYAT -Seorang pria berinisial NHW (33), Pegawai PPPK di RSPAU Jakarta Timur, ditemukan meninggal dunia di rumah kontrakannya di Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Rabu (4/2/2026).
PENEMUAN MAYAT -Seorang pria berinisial NHW (33), Pegawai PPPK di RSPAU Jakarta Timur, ditemukan meninggal dunia di rumah kontrakannya di Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Rabu (4/2/2026). (Kompas.com/Dok: POLISI/TribunJogja)

Selama tinggal di kontrakan, Slamet memastikan data pekerjaan NHW tercatat lengkap, termasuk KTP dan administrasi lain.

“Sejak kontrak mulai Juli 2023, saya tidak pernah curiga, karena dia rajin olahraga dan bersih,” ujar dia. 

4. Jarang Pulang Kampung

Slamet terakhir kali bertemu NHW sekitar seminggu sebelum jasad pria itu ditemukan. 

Saat itu, korban baru pulang dari membeli makan di luar. 

Menurutnya, tidak terlihat tanda-tanda NHW sakit atau memiliki masalah. Selama dua tahun tinggal di kontrakan, NHW disebut hanya pulang kampung saat Lebaran. 

“Dia jarang komunikasi dengan keluarga, terakhir komunikasi tanggal 15 Januari,” tutur Slamet.

5. Sosok Sopan

Selama tinggal di lingkungan itu, korban dikenal sebagai sosok yang sopan, tertutup, dan jarang bergaul dengan warga sekitar. 

Slamet (62), mengatakan, NHW mulai menyewa kamar petak tersebut sejak pertengahan 2023, tak lama setelah kontrakan selesai dibangun. 

“Sekitar dua tahunan. Orangnya baik, sopan, cuma enggak bergaul, memang pendiam,” ujar Slamet saat ditemui langsung di bengkel miliknya tidak jauh dari kontrakan, Sabtu (7/2/2026). 

Menurut Slamet, meski terlihat tertutup, NHW memiliki sejumlah teman dari komunitas olahraga. 

Korban diketahui gemar berlari dan rutin mengikuti kegiatan lari jarak 5 kilometer maupun 10 kilometer, serta kerap pergi ke pusat kebugaran. 

“Temannya banyak, mungkin teman-teman lari. Dia juga suka nge-gym,” kata Slamet. 

Slamet juga tahu NHW bekerja di rumah sakit. Kata Slamet, ia selalu meminta data administrasi penyewa, termasuk milik NHW. 

Selama tinggal di kontrakan, Slamet pun tidak pernah melihat korban membawa pasangan. 

“Kalau cewek enggak pernah kelihatan,” ucap Slamet. Slamet juga mengaku jarang berinteraksi dengan NHW.  
“Kalau ada paket, dia ambil ke sini (bengkel) Jadi sering interaksi,” kata Slamet. 

6. Biaya Kontrakan

Adapun kontrakan yang disewa NHW berupa satu petak berukuran sekitar 3x9 meter, lengkap dengan kamar mandi di dalam.  Biaya sewa sebesar Rp 800.000 per bulan. 

“Terakhir ketemu kira-kira dua minggu kemarin. Saya pulang malam, dia keluar, katanya mau cari makan,” ujarnya. 

Selama dua tahun NHW tinggal di kontrakan miliknya,  Slamet mengaku tidak pernah melihat tanda-tanda korban sakit. 

Korban juga bekerja dengan jam kerja tidak menentu. Terkadang pulang larut malam, bahkan lewat tengah malam, atau pagi hari. 

Sementara Ayu (29), tetangga yang tinggal tepat di depan kontrakan korban juga menggambarkan NHW sebagai sosok pendiam. 

“Orangnya jarang keluar, jarang ngobrol juga. Pendiam,” kata Ayu. 

Menurut Ayu, korban lebih sering langsung masuk ke kontrakan sepulang kerja dan jarang terlihat berlama-lama di luar. 

“Kalau ketemu paling cuma senyum. Enggak banyak cerita,” ujarnya. 

Ia mengaku tidak pernah mendengar korban terlibat konflik dengan warga sekitar. 

Selama tinggal di kontrakan, NHW dikenal tidak merepotkan lingkungan. 

7. Hari Terakhir Korban

Terkait hari-hari terakhir korban, Slamet mengatakan teman-teman kantor NHW mulai curiga setelah korban tidak bisa dihubungi. 

Salah seorang rekan kerja kemudian mendatangi kontrakan untuk mengecek kondisi korban. 

“Temennya datang ke sini, minta kunci serep. Dibuka, ternyata bau dan sudah meninggal,” ujar Slamet. 

Saat itu, listrik di kontrakan sudah mati karena pulsa habis. 

Slamet menduga listrik terus menyala sejak Jumat sebelumnya. 

“AC nyala, lampu nyala, mungkin tokennya habis,” katanya. 

Slamet juga menyebut sejumlah barang korban hilang, termasuk sepeda motor, laptop, dan dua telepon genggam. “Motor, laptop, HP dua, hilang,” ucapnya. 

Meski demikian, ia mengaku tidak menyadari motor korban hilang karena jam keluar-masuk NHW tidak menentu. 

“Kalau motornya enggak ada, kita pikir dia kerja,” ujar Slamet. 

Slamet menambahkan, polisi telah memeriksa rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi. 

“Ada CCTV. Kelihatan dari jalan sama gang. Katanya sudah ditangkap,” tutur Slamet. 

Ia juga menyerahkan kunci kontrakan kepada polisi agar petugas bisa mengakses lokasi kapan pun diperlukan. 

BERITA TERKAIT

  • Baca juga: Dikira Sampah, Petugas Badan Air Kaget Temukan Mayat di Kali Mookervart Jakbar
  • Baca juga: 5 Fakta Mayat Wanita Tersangkut Sampah Kali Pesanggrahan, Keluarga Tolak Autopsi
  • Baca juga: 2 Kali Cekcok Pasangan di Tangsel Berujung Tragis: Mayat di Tandon hingga Tabrakan Beruntun
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.