Ibunya Tukang Cuci, Siswa SMA Nyaris Putus Sekolah Imbas Tak Mampu Beli LKS, Masih Pakai Seragam SMP
Alga W February 08, 2026 04:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Siswa dari keluarga kurang mampu kerap dihadapkan pada pilihan sulit antara melanjutkan sekolah atau membantu orang tua demi memenuhi kebutuhan hidup.

Meskipun sekolah negeri secara formal dinyatakan bebas biaya, biaya tidak langsung sering kali menjadi beban yang tak tertanggungkan.

Seperti seragam, buku penunjang, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: Beringas & Gigit Warga saat Diamankan, Sopir MBG yang Tabrak Pagar SD Diduga Tenggak Obat-obatan

Pemerintah memang telah menggulirkan berbagai program bantuan.

Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan tidak semua anak dapat mengakses pendidikan secara berkelanjutan tanpa hambatan ekonomi.

Akibatnya, fenomena siswa nyaris putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi masih menjadi persoalan serius dalam dunia pendidikan Indonesia. 

Kisah ini dialami Adnan Hidayat (17), siswa kelas XI SMAN 2 Dumai, Riau.

Ia sempat berniat berhenti sekolah karena kondisi ekonomi keluarga.

Adnan tidak memiliki biaya untuk membeli Lembar Kerja Siswa (LKS) serta perlengkapan sekolah lainnya.

Kondisi ekonomi keluarga yang sangat terpuruk membuat sang ayah, Jarno, tak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya.

Adik Adnan, Aska (6), yang duduk di bangku kelas 2 SDN Jaya Mukti, bahkan sempat viral karena menggunakan seragam lusuh.

Kapolres Dumai, AKBP Angga Febrian Herlambang, langsung mendatangi rumah Jarno di Kecamatan Dumai Timur, Jumat (6/2/2026), usai mendengar kondisi kakak beradik tersebut.

"Setelah memberikan bantuan seragam sekolah kepada Aska, rupanya dua orang kakaknya bernasib sama," ucapnya.

"Jadi kita datang ke rumahnya untuk memberikan bantuan," kata Angga kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Jumat.

Setibanya di rumah Jarno, Angga dikejutkan dengan kondisi Adnan.

Pasalnya, Adnan ternyata masih mengenakan seragam SMP meski sudah duduk di bangku kelas XI SMA.

Orang tuanya tak mampu membelikan seragam baru semenjak ia lulus SMP.

Kondisi ekonomi keluarga Adnan lumpuh total sejak sang ayah mengalami patah kaki, sehingga tidak bisa bekerja.

Sementara ibu Adnan hanya mengandalkan penghasilan sebagai tukang cuci pakaian untuk menghidupi lima orang anak mereka.

Karena kondisi tersebut, saat Kapolres berkunjung, keluarga ini hanya sanggup menyediakan menu makan siang berupa sambal mi instan untuk dimakan bersama-sama.

"Dia bilang tak ada biaya buat beli buku LKS. Jadi, dia ada niat untuk berhenti sekolah," ungkap Angga menceritakan pengakuan Adnan di hadapannya.

Baca juga: Rekam Anak Berusia 12 Tahun Disebut Melahirkan, Ibu-ibu Si Pembuat Video Kini Minta Maaf

Sementara itu, Angga akan melakukan pendalaman terkait keluhan Adnan mengenai biaya LKS.

Sebab, praktik jual beli LKS di lingkungan sekolah merupakan hal yang dilarang keras.

"Saya cek dulu di Disdik (Dinas Pendidikan). Saya dalami ya," tegas Angga.

Dalam kunjungan itu, Kapolres Dumai membawakan bantuan perlengkapan sekolah lengkap untuk tiga anak Jarno.

Selain itu, juga memberikan bantuan semako dan uang untuk kebutuhan hidup serta pengisian token listrik rumah mereka.

Kapolsek Dumai Timur, Kompol Aditya Reza Syahputra, saat mengajak Muhammad Aska membeli seragam sekolah, di Kota Dumai, Riau, Senin (2/2/2026). Aska sehari-hari ke sekolah pakai seragam lusuh.
Kapolsek Dumai Timur, Kompol Aditya Reza Syahputra, saat mengajak Muhammad Aska membeli seragam sekolah, di Kota Dumai, Riau, Senin (2/2/2026). Aska sehari-hari ke sekolah pakai seragam lusuh. (Dok Polsek Dumai Timur)

Di Ibu Kota Riau, Pekanbaru, praktik jual beli LKS dilarang keras.

Apalagi sampai memaksa orang tua siswa untuk membeli.

Kepala Disdik Kota Pekanbaru periode 2023-2025, Abdul Jamal mengatakan, pihaknya sudah berulang kali mengingatkan pihak sekolah untuk tidak terlibat dalam penjualan LKS.

Ia menegaskan, tidak ada paksaan dalam pembelian LKS.

"Intinya sekolah tidak boleh ikut mengadakan, atau menunjukkan kemana tempat pembeliannya. Tidak boleh ada paksaan," tegas Abdul Jamal pada Senin (4/8/2025).

Menurutnya, penegasan ini telah disampaikan Disdik Kota Pekanbaru setiap tahunnya ke pihak sekolah.

"Jadi kalau ada paksaan sekolah untuk beli LKS atau yang sifatnya memberatkan siswa, orang tua bisa melaporkan langsung ke dinas pendidikan," ucap Jamal.

Kejadian lainnya

Kisah kakak beradik di wilayah Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sempat viral di media sosial.

Pasalnya, mereka diketahui saling bergantian seragam dan sepatu demi bisa melanjutkan sekolah.

Video tersebut salah satunya dibagikan oleh akun IG @sahabatlangit.indonesia, Senin (15/9/2025).

Dalam video tersebut, terlihat seorang anak laki-laki memakai seragam pramuka yang bergegas pulang ke rumahnya.

Di depan rumah tersebut, terlihat anak laki-laki lain yang merupakan saudara kandungnya, menunggu untuk saling bergantian menggunakan seragam dan sepatu.

Anak yang memakai seragam itu pun langsung melepas pakaian Pramuka yang dipakai dan memberikannya kepada saudaranya.

Setelah mendapatkan seragam, anak tersebut bergegas memakainya lengkap dengan sabuk dan sepatu.

Lalu, ia pun menggendong tas ranselnya di pundak dan pergi meninggalkan rumah.

Baca juga: Enjang Tak Lagi Was-was Tiap Hujan, Rumah Berdinding Bambu Kini Direnovasi: Cuma Ini yang Saya Punya

Dalam keterangan unggahan disebutkan, kedua anak laki-laki tersebut adalah kakak beradik bernama Haikal dan Haizar.

Haikal saat ini duduk di bangku kelas 12 SMK.

Sementara adiknya, Haizar, masih berada di kelas 9 SMP.

Sang kakak yang mendapatkan jadwal sekolah pagi harus bergegas pulang untuk bergantian seragam dengan adik yang masuk sekolah siang.

Mereka juga memiliki satu lagi adik perempuan yang masih duduk di bangku kelas 3 SD.

Disebutkan bahwa ketiganya adalah anak yatim.

Sementara ibunya diduga orang dalam gangguan jiwa (ODGJ), seperti dilansir dari Tribun Jabar.

Dalam unggahan lainnya, pemilik yayasan itu pun membawa Haikal dan Haizar serta adik kecil mereka untuk berbelanja sepatu dan seragam baru sehingga mereka tidak perlu lagi bergantian.

"Alhamdulillah,sudah tersampaikan amanahnya untuk Haikal dan adik-adiknya.
Kebutuhan urgent sudah terpenuhi,sekarang fokus kita ke kebutuhan sehari hari dan bekal sekolahnya," tulis @sahabatlangit.indonesia.

Saat didatangi Kompas.com, kakak beradik tersebut bernama Muhamad Haikal Al Farizi (18) dan adiknya Haezar Alzikri (15).

Keduanya tinggal di sebuah kontrakan petak di Desa Bojong Indah, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, bersama adik bungsu mereka, Callista (9).

Di kontrakan tersebut juga ada sang ibu, Nina Rahmadini (40), yang mengalami gangguan kejiwaan, serta nenek mereka, Sumiati (60).

Sementara ayah mereka sudah meninggal sejak 2020.

Untuk bertahan hidup, keluarga ini mengandalkan gotong royong.

Kerabat ikut membantu kebutuhan makan dan sekolah, ditambah uluran tangan para relawan yang mengetahui kisah mereka.

"Kami kerja sama sama, abang saya, suami saya, nenek saya juga. Terus dari bantuan juga gitu," kata sang bibi, Dika Yuniasari, Kamis (18/9/2025).

GANTIAN PAKAI SERAGAM - Kisah kakak beradik bernama Haikal dan Haizar di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang harus bergantian seragam demi bisa bersekolah menjadi sorotan di medsos.
Kisah kakak beradik bernama Haikal dan Haizar di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang harus bergantian seragam demi bisa bersekolah menjadi sorotan di medsos. (Instagram/sahabatlangit.indonesia)

Kisah Haikal dan Haezar yang harus bergantian memakai seragam Pramuka sebenarnya sudah berlangsung sejak keduanya duduk di kelas 1 sekolah masing-masing.

Kini Haikal duduk di kelas 3 SMK, sementara Haezar kelas 3 SMP di sekolah yang sama.

"Seragam Pramukanya cuma satu bergantian. Adiknya dulu, baru abangnya gitu," ungkap Dika.

Dika mengaku sempat khawatir dengan kondisi mental kedua keponakannya saat video mereka viral.

Namun, di sisi lain, perhatian publik justru membawa bantuan yang terus mengalir.

"Alhamdulillah udah dibantu dari seragam sekolah, sepatu, alat tulis sama biaya sekolah sudah dibantu udah dibayar," ujarnya.

Dengan dukungan tersebut, Haikal dan Haezar kini tak lagi harus bergantian seragam untuk berangkat sekolah.

Mereka bisa melanjutkan pendidikan dengan lebih tenang, ditemani semangat gotong royong keluarga serta uluran tangan dari para dermawan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.