Rusia dan Ukraina Diminta Damai di Bulan Juni 2026, Zelensky: Jangan Cuman Hentikan Tembak-menembak!
Facundo Chrysnha Pradipha February 08, 2026 02:16 PM

TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) mulai memberikan tekanan kepada Rusia dan Ukraina untuk segera berdamai.

Perdamaian antara Rusia dan Ukraina, kata AS, harus segera dimulai pada bulan Juni 2026 mendatang.

Hal tersebut diungkapkan oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.

Zelensky menyebut bahwa Washington telah memberikan sinyal terkait kerangka waktu yang diharapkan untuk mengakhiri konfrontasi militer.

Meskipun dukungan militer tetap mengalir, Zelensky mengisyaratkan adanya perubahan nada dari sekutu utamanya.

"Amerika Serikat ingin perang ini berakhir pada musim panas," ujar Zelensky, mengutip Reuters.

Meski ada tekanan waktu, Zelensky menegaskan bahwa perdamaian tidak bisa dicapai dengan sembarangan.

Ia menekankan pentingnya perdamaian yang "adil" dan menghormati kedaulatan Ukraina sesuai dengan hukum internasional.

"Kami memahami keinginan untuk segera mengakhiri ini, namun perdamaian tersebut harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang kuat, bukan sekadar penghentian tembak-menembak sementara yang memberikan ruang bagi Rusia untuk memperkuat posisi mereka," tegasnya.

Hingga saat ini, pihak Kremlin belum memberikan tanggapan resmi mengenai kerangka waktu yang disebut oleh Zelensky tersebut.

Namun, Moskow secara konsisten menyatakan bahwa perundingan hanya bisa terjadi jika realitas teritorial saat ini diakui.

Baca juga: Zelenskyy: AS Minta Perang Rusia-Ukraina Diakhiri pada Juni

Rusia Terus Serang Ukraina

Sembari tekanan diplomatik meningkat, Moskow justru melancarkan gelombang serangan drone dan rudal terbaru.

Sasaran utamanya adalah pembangkit listrik dan gardu induk di wilayah Kyiv, Kharkiv, dan Odesa.

Mengutip Euro News, pihak militer Ukraina melaporkan bahwa serangan ini merupakan yang paling intens dalam beberapa bulan terakhir.

Lebih dari 400 drone dan sekitar 40 rudal diluncurkan Rusia pada Sabtu (7/2/2026) malam waktu setempat.

Operator transmisi energi Ukraina, UkrEnergo, mengatakan serangan itu adalah serangan massal kedua terhadap infrastruktur energi sejak awal tahun, yang memaksa pembangkit listrik tenaga nuklir untuk mengurangi produksi.

Delapan fasilitas di delapan wilayah menjadi sasaran serangan, kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

"Akibat serangan rudal terhadap gardu induk tegangan tinggi utama yang memastikan produksi unit pembangkit listrik tenaga nuklir, semua pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah yang dikuasai terpaksa mengurangi bebannya," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Moskow tampaknya menggunakan taktik "tekanan maksimum" untuk memaksa Kyiv menyerah sebelum tenggat waktu Juni yang ditetapkan AS tiba.

"Rusia mencoba menciptakan kondisi hidup yang tidak layak bagi warga sipil guna melemahkan posisi tawar kami dalam perundingan mendatang," tegas pejabat keamanan Ukraina.

Para analis internasional melihat tenggat waktu Juni 2026 sebagai pedang bermata dua.

Baca juga: Simulasi Perang Rusia vs NATO, Putin Disebut Bisa Capai Tujuan dalam Hitungan Hari

Di satu sisi, hal ini bisa mempercepat akhir dari pertumpahan darah.

Namun di sisi lain, tenggat waktu ini memberikan keuntungan bagi Rusia jika mereka berhasil menguasai lebih banyak wilayah sebelum batas waktu tersebut berakhir.

Ukraina kini berada dalam posisi sulit: harus mempertahankan garis pertahanan di tengah krisis energi, sembari merumuskan proposal perdamaian yang dapat diterima oleh Washington tanpa terlihat berlutut di hadapan Moskow.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.